Beranda Berita Utama Bahaya, Sakit Covid-19 Parah Bisa Turunkan Kecerdasan

Bahaya, Sakit Covid-19 Parah Bisa Turunkan Kecerdasan

Ilustrasi

JAKARTA-RADAR BOGOR, Seseorang masih bisa merasakan sisa gejala Covid-19 setelah dinyatakan negatif lewat tes PCR. Kondisi itu disebut dengan istilah Long Covid atau gejala sisa yang berkepanjangan. Ternyata untuk mereka juga bisa mengalami gangguan pada daya pikir kognitif atau kecerdasannya.

Dilansir dari Psypost, Minggu (25/7), dalam penelitian yang dimuat di jurnal ilmiah internasional The Lancet EClinicalMedicine, disebutkan orang yang telah pulih dari Covid-19 cenderung mendapat skor yang jauh lebih rendah pada tes kecerdasan dibandingkan dengan mereka yang tidak tertular virus.

Temuan menunjukkan bahwa virus SARS-CoV-2 dapat menghasilkan pengurangan substansial dalam kemampuan kognitif. Terutama di antara mereka yang menderita penyakit yang lebih parah.

“Secara kebetulan, pandemi meningkat di Inggris ketika saya mengumpulkan data kesehatan kognitif dan mental dalam skala yang sangat besar sebagai bagian dari kolaborasi BBC2 Horizon, Great British Intelligence Test,” kata pemimpin peneliti Adam Hampshire (@HampshireHub), seorang profesor di Laboratorium Komputasi, Kognitif, dan Neuroimaging Klinis di Imperial College London.

Menurutnya, tes ini terdiri dari serangkaian tugas yang dirancang untuk mengukur berbagai dimensi kemampuan kognitif, yang telah dirancang untuk aplikasi baik dalam sains warga maupun penelitian klinis. Sejumlah koleganya menghubungi Hampshire secara paralel untuk mengumpulkan data penting tentang bagaimana pandemi dan penyakit Covid-19 memengaruhi kesehatan mental dan kognisi.

“Saya telah memikirkan hal yang sama dan ingin membantu sejauh yang saya bisa, jadi perluas penelitian ini untuk memasukkan informasi tentang penyakit Covid-19 dan dampak pandemi pada kehidupan sehari-hari secara lebih umum,” kata Hampshire.

Untuk studi mereka, Hampshire dan timnya menganalisis data dari 81.337 peserta yang menyelesaikan tes kecerdasan antara Januari dan Desember 2020. Dari seluruh sampel, 12.689 orang melaporkan bahwa mereka pernah mengalami Covid-19, dengan berbagai tingkat keparahan pernapasan.

Setelah mengontrol faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin, kidal, bahasa ibu, tingkat pendidikan, dan variabel lainnya, para peneliti menemukan bahwa mereka yang tertular Covid-19 cenderung berkinerja buruk pada tes kecerdasan dibandingkan dengan mereka yang tidak tertular virus. Defisit terbesar diamati pada tugas-tugas yang membutuhkan penalaran, perencanaan, dan pemecahan masalah, yang sejalan dengan laporan Long Covid.

Pasien Long Covid bisa mengalami kondisi yang dinamakan ‘kabut otak’. Sehingga mereka kesulitan berkonsentrasi dan kesulitan menemukan kata-kata yang benar.

Penelitian sebelumnya juga menemukan bahwa sebagian besar penyintas Covid-19 dipengaruhi oleh komplikasi neuropsikiatri dan kognitif. “Maka penting lakukan vaksinasi,” kata Hampshire kepada PsyPost.

Tingkat kinerja kognitif yang rendah juga dikaitkan dengan tingkat keparahan penyakit. Jika mereka dirawat di rumah sakit dengan ventilator maka bisa menunjukkan defisit terbesar. Defisit yang diamati untuk pasien Covid-19 yang telah memakai ventilator setara dengan penurunan IQ 7 poin. Defisit bahkan lebih besar untuk individu yang sebelumnya menderita stroke dan yang melaporkan ketidakmampuan belajar.

Dari hasil penelitian, hanya sebagian kecil yaitu 275 peserta menyelesaikan tes kecerdasan dengan optimal baik sebelum dan sesudah tertular Covid-19. Penelitian ini sebagian besar menggunakan metodologi cross-sectional, membatasi kemampuan untuk menarik kesimpulan tegas tentang sebab dan akibat.

Sumber: JawaPos.Com
Editor: Alpin