Beranda Metropolis Sempat Ditolak 10 RS, Perempuan Ini Akhirnya Lolos dari Maut

Sempat Ditolak 10 RS, Perempuan Ini Akhirnya Lolos dari Maut

Evi merasakan sendiri bagaimana sulitnya mencari RS di tengah pergulatannya melawan Covid-19.

BOGOR-RADAR BOGOR, Banyak rumah sakit (RS) yang kewalahan dengan lonjakan pasien dan kelangkaan tabung oksigen. Tak pelak, banyak pasien yang menjadi korban karena dipimpong oleh sejumlah fasilitas kesehatan (faskes).

Salah seorang warga Kota Bogor, Evi merasakan sendiri bagaimana sulitnya mencari RS di tengah pergulatannya melawan Covid-19. Warga asal Babakan Sirna, Tegallega itu sempat ditolak hingga 10 RS saat hendak dirawat karena positif Covid-19.

“Saya korabn dari RS, ditolak di Kota Bogor, karena penuh dan kekurangan oksigen). Saya diombang-ambing tengah malam dengan taruhan nyawa,” bebernya kepada Radar Bogor, dengan sedikit terisak, Rabu (21/7).

Ia sangat membutuhkan perawatan di RS karena kondisinya yang sudah bergejala cukup berat. Badan yang meriang hingga napasnya yang pengap nyaris membuatnya sudah kehilangan harapan. Tak heran, ia bersama keluarganya mencari RS kesana kemari demi bisa kembali bernapas normal.

“Karena saya tidak kuat lagi (di rumah), kritis selama tiga hari. Napas saya sudah di ujung tanduk. Saya sudah kayak orang gila di rumah, teriak-teriak, seolah mau dicabut nyawa,” kisahnya lagi.

Ia diantarkan anak dan suaminya mencari pertolongan ke sejumlah RS di Kota Bogor. Bolak-balik mereka RS PMI, RS Mulia, RS Azra, RSU Aulia (Sukaraja), hingga berujung ke RSUD Ciawi.

“Dari jam 12 malam, saya muter-muter nyari rumah sakit. Pulang ke rumah jam 5 subuh. Besoknya, kita baru cari lagi setelah melapor ke RT/ RW setempat dan dipinjamkan ambulans,” ungkapnya.

Beruntung, ia mendapatkan pelayanan yang sangat baik di rumah sakit berpelat merah Kabupaten Bogor. Nyawanya terselamatkan meskipun awalnya nyaris ditolak.

“Di RSUD Ciawai pun katanya sudah 20 pasien yang sempat ditolak. Tapi, karena saya punya anak baik yang harus sayaperjuangkan sama keluarga saya, saya memohon untuk dirawat,” tuturnya.

“Saya bilang, gak ada alatnya (persediaan tabung oksigen cukup) gak apa-apa, yang penting saya pulang dengan selamat, tidak cuma dengan nama,” harunya.

Beruntung, ia bisa melewati masa-masa kritis selama 14 hari itu. Ia kini menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumahnya dengan pengawasan RT setempat. Menurut Evi, dirinya masih butuh 10 hari lagi untuk bisa beraktivitas di luar rumah.

Hanya saja, ibu rumah tangga ini menyesalkan, beberapa RS yang terkesan tidak begitu “ramah” terhadapnya. Bahkan, di salah satu RS dia sudah sempat diinfus namun harus kembali dicabut karena dinyatakan positif Covid-19.

“Saya infus, dicabut, sampai biru-biru tangan saya. Anak saya disuruh bangun dan cari RS lain lagi yang lebih besar,” sesalnya. (mam)

Reporter: Imam Rahmanto