25 radar bogor

Percepat Transformasi Perpustakaan, Perpusnas Gandeng Kementan

Kepala
Deputi Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpusnas Deni Kurniadi (kanan) bersama Kepala Pustaka, Abdul Basit usai penandatanganan kesepakatan. (IST)  

BOGOR-RADAR BOGOR,Melalui program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial yang digagas Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, perpustakaan tidak hanya menyediakan koleksi sebagai pusat ilmu pengetahuan. Program ini juga mengembangkan perpustakaan untuk berkontribusi dalam menyejahterakan masyarakat.

Sejak 2018, Perpusnas telah melaksanakan program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial yang menyasar perpustakaan provinsi, kabupaten/kota, dan perpustakaan desa/kelurahan. Tercatat, sebanyak 2.900 perpustakaan sudah bertransformasi.

Deputi Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpusnas, Deni Kurniadi mengatakan pihaknya harus melakukan kolaborasi dengan kementerian/lembaga maupun swasta, agar percepatan transformasi perpustakaan desa/kelurahan berbasis inklusi sosial bisa segera terlaksana.

“Guna mewujudkan ketersediaan layanan perpustakaan di seluruh Indonesia, sebagai implementasi dari strategi percepatan ini dimulai dengan kerja sama Perpusnas dengan Kementerian Pertanian,” katanya dalam peluncuran Transformasi Perpustakaan Desa/Kelurahan Berbasis Inklusi Sosial.

Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian (Pustaka) Kementerian Pertanian dengan Pusat Pengembangan Perpustakaan Umum dan Khusus Perpusnas di Gedung Pustaka Jl. Ir. H. Juanda No. 20, Kota Bogor, Jumat (18/6/2021).

Dijelaskan, dengan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial, perpustakaan berperan sebagai pusat pemberdayaan sehingga masyarakat bisa melatih keterampilan. Perpustakaan tidak hanya menjadikan masyarakat cerdas, tetapi juga masyarakat sejahtera melalui bahan bacaan yang berisikan konten life skills.

Kepala Pustaka, Abdul Basit menilai program ini sangat relevan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui literasi. Dia menjelaskan, program ini bisa menjangkau masyarakat pedesaan, khususnya para petani. “Lebih dari separuh masyarakat Indonesia bekerja di sektor pertanian. Dengan perpustakaan berbasis inklusi sosial yang tujuannya untuk kesejahteraan masyarakat, diharapkan dapat menjangkau petani yang ada di pedesaan. Jika program ini dilakukan, maka diharapkan dapat membantu. Karena tujuan kita sama yakni menyejahterakan masyarakat, bagi kami di Kementan tentu saja, khususnya masyarakat petani,” ungkapnya.

Abdul menjelaskan kerja sama ini membantu PUSTAKA untuk menjangkau hingga ke pelosok pedesaan. Saat ini, tercatat binaan PUSTAKA tersebar di 90 perpustakaan yang berada di balai teknologi pertanian di 34 provinsi.

“Untuk sampai kabupaten sampai kecamatan bahkan desa kami belum punya, sementara kebutuhan literasi informasi bisa sampai masyarakat pedesaan. Apalagi skala prioritas di Kementan adalah desa-desa rawan pangan, tertinggal, miskin, terpencil, dan terluar. Untuk menjangkaunya, kita bisa menggunakan jaringan yang dimiliki Perpusnas yang memiliki perpustakaan sampai pada tingkat kelurahan/desa,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Pengembangan Perpustakaan Umum dan Khusus Perpusnas Upriyadi mengatakan, perpustakaan desa yang sudah bertransformasi sebanyak 1.250 perpustakaan. Dalam transformasi perpustakaan desa/kelurahan berbasis inklusi sosial, perpustakaan bertransformasi untuk menyediakan koleksi sesuai kebutuhan masyarakat, transformasi layanan yang tidak terbatas pada fisikal tetapi juga virtual, serta transformasi ruang, di mana perpustakaan menjadi ruang berbagi pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman.

“Idealnya perpustakaan tidak hanya sekadar mengolah, dan melayankan bahan bacaan, tetapi saat ini yang dibutuhkan perpustakaan sebagai transfer pengetahuan,” ujarnya.

Koordinator Perpustakaan Pustaka, Riko Bintari Permatasari menyampaikan pihaknya sudah bertransformasi dan berkontribusi dalam menyejahterakan masyarakat, khususnya masyarakat pertanian. Ini sebagai strategi untuk mempertahankan eksistensi perpustakaan di masyarakat.

Sejak 2019, Pustaka sudah melakukan kegiatan perpustakaan berbasis inklusi sosial, di antaranya menyediakan buku-buku pertanian kepada masyarakat di beberapa lokasi potensi pertanian, serta memfasilitasi pengetahuan dan keterampilan petani dengan menghadirkan pakar di bidangnya.

“Diharapkan melalui program ini dapat mendorong petani Indonesia bertransformasi dari petani tradisional menjadi petani modern sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraannya,” jelasnya. (*/rur)