Beranda Metropolis “Profesor” Persilangan Tanaman Hias asal Bogor, Aglaonema Dilelang Rp1 M

“Profesor” Persilangan Tanaman Hias asal Bogor, Aglaonema Dilelang Rp1 M

“Profesor” Persilangan Tanaman Hias asal Bogor, Aglaonema Dilelang Rp1 M

BOGOR-RADAR BOGOR, Hampir separuh hidupnya didedikasikan untuk “mengawinkan” ribuan jenis tanaman hias. Gregori Garnadi Hambali, sampai mendapat julukan sebagai Bapak Aglaonema Indonesia dan “mak comblang”nya tanaman hias.

Radar Bogor sempat menyambangi kediaman Greg – sapaannya – di Perumahan Baranangsiang Indah, Bogor Timur. Rumah besar itu dikelilingi lebih banyak greenhouse. Di dalamnya, jauh lebih rimbun dengan ribuan tanaman hias. Surga aglaonema bagi sebagian pecinta tanaman hias.

“Jangan panggil profesor. Panggil Pak Greg saja. Karena profesor itu gelar kependidikan yang didapatkan dari kampus,” ucapnya kepada Radar Bogor.

universitas ibn khaldun uika bogor

Ia mengakui, pendidikan paling tinggi yang diraihnya hanya sampai tingkat magister di University of Birmingham dalam bidang Plant Biology. Gelarnya menuju doktor dan profesor harus tertunda karena ia nekat berhenti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), 1983 silam. Greg terlalu menjunjung tinggi idealismenya sebagai penyilang tanaman di dunia botani.

“LIPI sangat bagus karena jadi fondasi awal saya bisa melakukan banyak penelitian. Tapi karena ada kebijakan tersendiri sebagai lembaga di bawah pemerintah, makanya saya memutuskan keluar. Saya juga memang tergolong “pemberontak” waktu itu,” kenangnya sembari bercanda.

Idealisme yang dijunjung lelaki berusia 72 tahun ini justru melahirkan lebih banyak kreativitas dan varitas baru. Ia punya banyak waktu untuk menjelajah nusantara. Tak hanya alam Indonesia, ia sekaligus menyasar Filipina yang dikenal melahirkan banyak indukan Aglaonema menarik baginya.

Berbagai plasma nutfah itu dibawa pulang dan dikembangbiakkan. Ia memadukan aneka literatur dan pengalaman yang dimiliki. Tak heran, rumahnya kini dipenuhi dengan tanaman hias karena dijadikan laboratorium hidup. Ribuan bibit dan tanaman menunggu “sang penghulu” untuk segera dikawinkan.

Hampir semua lahan kosong di sekitar rumahnya disulap sebagai laboratorium hidup. Setiap greenhouse berisi tanaman yang berbeda.

Ia sesuaikan dengan jenis maupun tahap usia pertumbuhan tanaman. Ada label disana. Tak ketinggalan, atap-atap rumahnya pun beralih fungsi sebagai salah satu “laboratorium” hidupnya.

Radar Bogor sempat berkeliling ke sejumlah “bank” tanaman hias milik Greg. Mulai dari showroom, yang berisi tanaman hias siap lelang. Di sisi yang lain, terdapat beberapa greenhouse sebagai tempatnya berkreasi mengawinkan jenis-jenis tanaman itu. Mulai dari jenis Aglaonema, Alokasia cyrtosperma, caladium, hingga Calathea.

Greg selalu terpesona dengan dedaunan tanaman hias di rumahnya. Ia menikmati setiap detail proses persilangan tanaman itu. Dengan sabar dan telaten, ia tak pernah berhenti mencoba mengawinkan berbagai jenis tanaman hias. Baginya, tiada hari tanpa menyilangkan tanaman. Ratusan varian baru lahir dari tangan dinginnya.

Silangan Aglaonema terbaik pada era 90-an sempat dirilisnya. Ia menamainya dengan Pride of Sumatera. Aglaonema itu sekaligus menjadi silangan berdaun merah pertama di dunia, bersaing dengan Red Gold dari Thailand. Pride of Sumatra pernah menjadi juara kedua dalam kontes tanaman hias dunia yang diadakan di Belanda.

Varian fenomenal lainnya dilahirkan Greg pada tahun 2005 silam. Aglaonema harlequin miliknya dilelang hingga menyentuh angka Rp660 juta. Angka yang fantastis untuk satu pot tanaman hias.

“Padahal waktu itu masih bisa naik lagi, karena masih ada yang bisa menawar tinggi. Kalau dalam kisaran dollar, itu dulu nilainya USD75 ribu. Berarti kalau sekarang, beda nilai rupiahnya (sampai Rp1 miliar),” imbuhnya, saat bercerita di salah satu showroom-nya.

Harga itu bukanlah nominal yang langka di kalangan pecinta dan pehobi tanaman hias. Greg sudah sering kali menjumpai angka-angka fantastis dalam berbagai event lelang tanaman. Koleksinya juga biasa dibanderol dengan harga tinggi.

Meski begitu, ia sama sekali tak terlalu memikirkan soal harga. Lantaran hal itu akan membuang-buang waktunya yang lebih banyak bergelut di dunia persilangan. Cukuplah sang istri yang memasarkan hasil persilangannya.

Greg telah memiliki penggemar tetap yang bersedia mengorek kantong lebih dalam demi mendapatkan hasil persilangannya. Oleh karena itu, ia tak pernah absen menghasilkan varian-varian baru. Pekerjaan itu telah menyatu dengan kesehariannya.

Varian lain yang berhasil dilahirkannya, yakni Aglaonema Lotus Delight dan Golden Hope. Ditambah lagi, jejeran Calathea yang sedang berbunga juga memenuhi showroom itu.

Bintik-bintik menyala dari daun Dracaena jenis John Tan (Jt) Stardust juga menjadi karya masterpiece-nya.

“Indonesia bukan dilihat petanya besar saja. Tapi banyak potensi tanaman yang kita punya. Bagaimana caranya supaya kita menyilangkan tanaman dan menghasilkan jenis tanaman baru asal Indonesia. Biar semakin banyak sebaran tanaman-tanaman itu di nusantara demi kepentingan lokal. Jadi, bukan cuma diekspor, terus disilangkan orang di luar negeri, lalu diimpor kembali oleh Indonesia,” papar lelaki yang memegang teguh filosofi Manunggaling Kawula Gusti ini.

Reporter: Imam Rahmanto
Editor: Rany P Sinaga