Beranda Berita Utama Banyak Warga Mudik, Pemerintah Siapkan 70 Ribu Ruang Isolasi

Banyak Warga Mudik, Pemerintah Siapkan 70 Ribu Ruang Isolasi

SIAGA: Petugas berjaga di ruang isolasi Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan Jakarta, Rabu (4/3). RS itu menerima sepuluh pasien rujukan terkait virus korona. (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)
SIAGA: Petugas berjaga di ruang isolasi Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan Jakarta. (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)

RADAR BOGOR – Dalam dua pekan ke depan, kenaikan kasus Covid-19 diprediksi terjadi sebagai efek dari mobilitas orang saat libur Lebaran.

Langkah antisipasi pun dipersiapkan untuk menghadapi kemungkinan terburuk. Mulai menyediakan ruang isolasi hingga ICU.

Kepala Bidang Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Masdalina Pane memperkirakan, peningkatan kasus positif Covid-19 pascamudik bakal terlihat setelah dua minggu.

Artinya, angkanya baru mulai naik pada minggu terakhir Mei 2021. Kenaikannya bervariasi setiap provinsi. ”Antara 30–80 persen,” ujarnya kemarin (17/5).

Meski demikian, menurut dia, kenaikan kasusnya tidak akan separah India. Mutasi virus SARS-CoV-2 yang masuk ke Indonesia pun tidak akan terlalu berpengaruh pada kecepatan penularan.

Asalkan, isolasi dan karantina masyarakat yang terpapar betul-betul dijaga. ”Saya kira jika pengendalian bagus, tidak terlalu berpengaruh di Jawa. Di Sumatera mungkin ada lonjakan,” katanya.

Masdalina mengungkapkan, sejak awal kebijakan pelarangan mudik diprediksi tidak akan efektif. Itu terlihat dari dua juta orang yang lolos meski sudah ada penjagaan di mana-mana saat masa pelarangan mudik pada 6–17 Mei.

Padahal, sebelum periode itu dipastikan banyak warga yang curi start mudik. ”Kita sering menghabiskan sumber daya dan membenturkan aparat dengan masyarakat tanpa tujuan dan indikator yang jelas,” keluhnya.

Menurut dia, pemerintah bukan telat mengambil sikap untuk penanganan pandemi Covid-19. Hanya, tidak jelas arah kebijakannya. Itu terlihat dari intervensi standar tracing dan isolasi/karantina yang malah tidak dilakukan maksimal.

Soal antisipasi yang dilakukan pemerintah, Masdalina menegaskan bahwa itu saja tidak cukup. Tetapi, harus dibarengi partisipasi masyarakat. Terutama masyarakat yang baru saja kembali dari mudik.

Masyarakat wajib melaksanakan protokol kesehatan 3M. Lalu, untuk sementara waktu tidak berkerumun dan keluar rumah.

”Yang habis mudik di rumah dulu sampai 14 hari,” paparnya. Bila perlu, melakukan tes Covid-19 secara mandiri setelah isolasi guna memastikan dirinya aman dari Covid-19.

Dalam kesempatan lain, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa rumah sakit, sumber daya manusia (SDM), dan obat telah disiapkan untuk mengantisipasi lonjakan kasus.

Budi memerinci ketersediaan tempat tidur di ruang isolasi maupun ICU. Secara nasional, Indonesia memiliki 70.000 tempat tidur untuk isolasi. Yang terisi sekitar 20.000.

Untuk tempat tidur ICU, yang disediakan secara nasional mencapai 7.500 unit. Menurut data terakhir, yang terisi baru 2.500 tempat tidur.

Dengan masih adanya tempat tidur yang tersedia, Budi menilai bisa memenuhi kebutuhan jika ada lonjakan. ’’Semoga naiknya tidak tinggi,’’ kata Budi.

Budi meminta agar protokol kesehatan –terutama memakai masker– terus dilakukan. Itu menjadi salah satu upaya untuk mengurangi potensi penularan.

’’Pemda tolong minta tracing ditingkatkan. Yang positif diisolasi,’’ katanya. Dia meminta agar seluruh pihak serius. Sebab, tracing dan treatment itu menjadi langkah untuk mengantisipasi adanya mutasi baru yang menular kepada banyak orang.

Budi menuturkan, minggu lalu ada dua orang yang membawa varian baru virus Covid-19. Keduanya merupakan pekerja migran yang kini berada di Jawa Timur. Virus yang dibawa adalah mutasi dari Afrika Selatan dan London.

Dia menegaskan, testing dan tracing menjadi hal yang diperlukan.

Menurut ketentuan, pada 1.000 orang di satu populasi, ada satu yang harus dites setiap hari. ’’Sebagai masyarakat, prokes dijaga. Sebagai pemerintah daerah, PPKM mikro dan testing dijalankan,’’ tegasnya.

Di sisi lain, Budi memastikan program vaksinasi akan kembali berjalan normal setelah Maret dan April sempat mengurangi penyuntikan vaksin.

Hal itu disebabkan bulan ini Indonesia mendapatkan stok vaksin. ’’Kita utamakan lansia,’’ katanya. Alasannya, lansia memiliki risiko fatalitas lebih besar jika sudah tertular.

Di Jawa Tengah, Gubernur Ganjar Pranowo meminta semua rumah sakit di Jateng siaga mengantisipasi potensi terjadinya lonjakan kasus Covid-19 setelah Idul Fitri.

’’Saya minta rumah sakit siaga. Kadinkes dan Sekda sudah saya minta menyiapkan,’’ katanya.

Dari data, belum ada lonjakan kasus berarti di Jawa Tengah. Data minggu ke-19 tahun ini, angka kasus Covid-19 di Jateng justru menurun dibandingkan pekan sebelumnya.

’’Masih menunggu 14 hari ke depan. Hasil swab selama Lebaran juga tidak banyak. Dari 43 ribu tes, hanya 56 yang ditemukan,’’ ungkapnya.

Meski begitu, pihaknya menegaskan akan terus gencar menerapkan testing, tracing, dan treatment. Random test juga akan terus dilakukan di pintu-pintu keluar Jateng. ’’Tetap kita lakukan testing agar bisa membantu provinsi lain,’’ jelasnya. (lyn/mia/far/dee/c6/fal)