Beranda Ekonomi Harga Bahan Pokok Belum Kembali Normal

Harga Bahan Pokok Belum Kembali Normal

MENUNGGU PEMBELI: Salah satu pedagang daging sapi membungkus dagangannya untuk calon pembeli

JAKARTA-RADAR BOGOR, Sesuai prediksi, harga sejumlah bahan pokok masih tetap tinggi meski sudah lewat Idul Fitri. Biasanya, tren tersebut akan bertahan sampai H+7. Karena itu, pemerintah perlu mengendalikan kenaikan harga dan memastikan ketersediaan barang-barang kebutuhan pokok masyarakat tersebut di pasaran.

Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri menyatakan bahwa kenaikan harga sudah terdeteksi sejak H-7 Lebaran. Bukan hanya beberapa, melainkan semua bahan pokok naik harga. Kenaikan berlanjut dan mencapai puncaknya pada H-2 dan H-1 lalu.

“Semua komoditas naik. Mulai beras, daging sapi, hingga daging ayam,” ujar Mansuri pada Selasa (11/5). Sampai sekarang, harga belum kembali normal.

Salah satu komoditas yang harganya melonjak adalah daging sapi. Kenaikan itu dipicu tingginya permintaan. Terutama mendekati hari raya dan pada hari H. Setiap Lebaran tiba, konsumsi masyarakat terhadap bahan pangan tinggi protein itu selalu meningkat. “Dari setiap perayaan, konsumsi daging pasti cenderung tinggi,” urainya.

Fase setelah Lebaran, biasanya sampai H+7, menjadi fase yang perlu dicermati pemerintah. Pasalnya, stok bahan pokok di pasar-pasar tradisional menipis.

“Kalau boleh dibilang, Ramadan tahun ini di pasar lebih ramai daripada 2020 yang sama-sama ada larangan mudik,” tambah Mansuri.

Selain daging sapi, komoditas lain yang harganya melambung adalah cabai. Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan mengaku terjadi gangguan penyerapan pasokan cabai oleh pedagang eceran menjelang Lebaran. Sebab, sejumlah petani sengaja menunda panen.

“Produksi cabai di daerah sentra sebenarnya cukup untuk memenuhi kebutuhan Lebaran. Namun, sebagian petani di sentra produksi cabai menunda panen,” tegasnya.

Akibat penundaan itu, menurut Oke, volume kiriman ke sentra konsumsi menurun. Termasuk ke DKI Jakarta. Tingkat penyerapan cabai di tingkat pasar induk tidak sebanyak biasanya. Salah satu faktor penyebabnya adalah berkurangnya jumlah pedagang cabai di pasar.

Sumber: JawaPos.Com