Beranda Berita Utama Larangan Mudik Dimulai, Ini Titik Penyekatannya di Bogor

Larangan Mudik Dimulai, Ini Titik Penyekatannya di Bogor

 

TEGAS : Petugas mengarahkan kendaraan yang mengarah ke ruas sistem satu arah (SSA) atau seputaran kebun raya Bogor telah diputar balik. (Dede/Radar Bogor)

RADAR BOGOR – Masa larangan mudik dimulai hari ini. Tepatnya pukul 00.00 WIB tadi, hingga 17 Mei mendatang. Tiga ribu petugas disebar di 14 titik. Mereka bakal menghalau pemudik menuju Bogor.

Personel gabungan itu akan berjaga bergantian mencegah pendatang. Musababnya, berdasarkan survei Kementerian Perhubungan (Kemenhub) masih terdapat 7 persen atau 17,5 juta orang yang akan tetap mudik.

“Keinginan masyarakat untuk mudik susah ditahan,” ujar Wali Kota Bogor Bima Arya saat Apel Gelar Pasukan Operasi Ketupat Lodaya di Mako Polresta Bogor Kota, Rabu (5/5).

Apalagi, tren kasus Covid-19 saat ini mengalami kenaikan sebesar 2,03 persen. Itu karena peningkatan mobilitas masyarakat menjelang Lebaran. Kondisi ini jika tidak direm dengan larangan mudik, dikhawatirkan bakal terjadi ledakan kasus seperti Lebaran tahun lalu. Saat itu peningkatan kasus mencapai 93 persen. “Tentunya kita tidak ingin lengah,” ungkap Bima yang ditugaskan membacakan amanat Kapolri.

Dia mencontohkan kasus di India. Terjadi penambahan kasus hingga 400.000 kasus dan angka kematian mencapai 3.500 kasus per hari ini karena penerapan protokol kesehatan yang tidak dilaksanakan secara baik dan disiplin.

Karena itu, pihaknya akan all out dalam menerapkan aturan larangan mudik. Diantaranya melakukan penyekatan di tujuh titik. Seperti  di Pintu tol Bogor, Simpang Baranangsiang,  simpang Tol BORR,  Jalan Wangun simpang Ciawi,  simpang Gunung Batu,  simpang Yasmin, dan di simpang Cifor.  “Pokoknya kita all out, mencegah mudik dan mengatasi kerumunan mobilitas di pasar dan mal. Itu intinya,” tegas Bima.

Kapolresta Bogor Kota, Kombes Pol Susatyo Purnomo Condro menambahkan akan mengerahkan 1.500 personel gabungan untuk melakukan penyekatan mudik di enam titik akses masuk keluar Kota Bogor dan satu posko utama.

“Bagi para pendatang, Pak Wali Kota sudah menerbitkan regulasi terkait kewaspadaan pemudik dan pendatang. Sehingga para pemudik yang datang kita lakukan pengawasan,” tambahnya.

Penyekatan pemudik juga dilakukan di Kabupaten Bogor.  Tak kurang ada delapan pos yang disiapkan untuk menghalau pemudik. Antara lain, pos penyekatan Gunung Putri, Cibinong, Cileungsi, Parung, Jasinga, Cigombong, Simpang Gadog dan Parungpanjang. “Ada 1.641 petugas gabungan yang kami sebar di delapan titik penyekatan termasuk pos pengamanan,” ujar Kapolres Bogor AKBP Harun.

Di bagian lain, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi melepas Tim Gabungan Pengendalian Arus Lalu Lintas Pada Masa Peniadaan Mudik Lebaran 1442 H, atau Operasi Ketupat 2021 kemarin (5/5). Tim Gabungan terdiri dari berbagai unsur yaitu  Korlantas Polri, Ditjen Perhubungan Darat Kemenhub, PT. Jasa Marga, PT. Jasa Raharja, dan unsur terkait lainnya.

Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Irjen Pol Istiono menyampaikan, pengawasan dan pengendalian kebijakan peniadaan mudik dilakukan di lebih dari 383 titik penyekatan. ”Petugas gabungan di lapangan akan menerapkan aturan ini dengan tegas namun tetap humanis,” katanya.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Budi Setiyadi mengungkapkan dari pihaknya bersama dengan tim gabungan dari instansi terkait akan melakukan penyekatan di beberapa titik dan membangun Posko Lapangan Pengendalian Transportasi Lebaran.

Ia mengimbau bagi masyarakat yang ingin melanjutkan perjalanan non mudik agar dapat mempersiapkan dokumen perjalanan yang diperlukan dengan baik.  ”Apabila tidak dapat menunjukkan dokumen yang dipersyaratkan, dengan sangat terpaksa, akan kami putar balik untuk melengkapi dokumen dimaksud,” jelasnya.

Sesuai arahan Menhub, Posko Lapangan Pengendalian Transportasi Lebaran dilakukan di wilayah  Banten, Jawa Barat, dan Jawa Tengah yang antara lain berada di Jalan Nasional Pos Gerem, UPPKB Cikande, Tanjung Pura, GT Cikopo, Lingkar Nagreg, GT Pejagan, Pangkalan Angkutan Barang Kecipir, dan GT Kalikangkung.

Budi mengingatkan, waktu pertama kali bertugas harus bersikap tegas. Ini menunjukkan apa yang dilakukan pemerintah sesuai dengan yang ada dalam regulasi. Namun harus tetap fleksibel dan humanis jangan sampai menimbulkan kegaduhan dengan masyarakat.

”Karena ada beberapa kebijakan juga dari pemerintah daerah yang mungkin harus dipertimbangkan saat melakukan pengawasan di daerah,” ujarnya.

Sementara itu, aktivitas di Stasiun Pasar Senen Jakarta di hari terakhir kemarin terpantau cukup ramai. Dari pantauan  siang hingga menjelang sore kemarin, para penumpang terlihat memenuhi ruang tunggu yang berada di depan samping pintu pengecekan tiket.

Kursi-kursi yang diperkenankan ditempati (tanpa tanda silang) juga terpantau dipenuhi para penumpang. Bahkan, beberapa penumpang memilih untuk duduk lesehan di sejumlah tempat dan resto yang ada di kawasan Stasiun

Meski cukup padat, namun tidak sampai membludak. Penumpang juga cukup tertib dengan rambu-rambu yang dipasang pihak stasiun. Mayoritas menggunakan masker.  Peningkatan jumlah penumpang di stasiun Pasar Senen diamini Kepala Humas KAI Daerah Operasional 1 Eva Chairunisa. Hanya saja, kata Eva, peningkatan yang terjadi tidak terlalu signifikan.

“Tidak signifikan Karena memang tidak ada penambahan jumlah perjalanan. Secara otomatis ketersediaan tempat duduk sama,” ujarnya.

Per harinya, lanjut dia, Stasiun Pasar Senen hanya memberangkatkan 20 rangkaian kereta ke arah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jogja dan Jawa Timur.  Dia mengatakan, kemarin tercatat hampir 10 ribu orang yang meninggalkan Jakarta dari pasar senen. Angka tersebut meningkat sekitar 5-10 persen dari hari-hari sebelumnya. Biasanya, angka penumpang harian beberapa hari terakhir di angka 9000-9400.

Dengan capaian 10 ribu penumpang kemarin, Eva menyebut tingkat okupansi rata-rata perjalanan sekitar 96 persen. Kapasitas total dari 20 perjalanan kereta yang beroperasi di Pasar Senen sekitar 10.500 penumpang. “Jumlah ini sudah melalui penghitungan pembatasan 70 persen yah,” Imbuhnya.

Situasi di Stasiun Gambir juga tak jauh berbeda. Dari pantauan siang kemarin, situasi cukup ramai namun tidak sampai membludak. Eva menjelaskan, total penumpang yang meninggalkan Jakarta dari Stasiun Gambir kemarin sekitar 5000 orang. Jumlah itu sedikit meningkat dari hari sebelumnya yang ada di kisaran 4500 namun tidak signifikan. “Jadi hampir sama karena tidak ada penambahan perjalanan juga,” jelasnya.

Pembatasan perjalanan, lanjut dia, adalah kuncinya. Sebab, dengan dibatasinya tiket yang ada, otomatis jumlah penumpang bisa ditekan. Untuk menghindari penumpukan, KAI juga sudah berupaya mengatur jadwal keberangkatan secara merata. (nal/ded/jpg/d)