Beranda Pendidikan Sering Disebut Gagal Atasi Masalah Pendidikan, Begini Jawaban Kemendikbud

Sering Disebut Gagal Atasi Masalah Pendidikan, Begini Jawaban Kemendikbud

Ilustrasi. FOTO: RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

JAKARTA-RADAR BOGOR, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terus mengupayakan segala cara untuk bisa menyelenggarakan pembelajaran tatap muka (PTM). Hal ini didorong seiring dengan proses vaksinasi yang tengah dilakukan oleh para guru dan tenaga kependidikan (GTK).

Mengingat vaksinasi GTK baru mencapai 1 juta dari target 5,5 juta, kenapa Kemendikbud tetap percaya diri melakukan PTM meskipun secara terbatas?

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen PAUD Dikdasmen) Kemendikbud Jumeri menuturkan alasan kenapa pihaknya tetap kukuh untuk melaksanakan PTM.

“Kenapa Kemendikbud pede, kok berani-beraninya mengumumkan menginisasi tatap muka. Dengan kondisi pembelajaran kita saat ini, orang juga sering mengatakan Kemendikbud gagal pembelajaran jarak jauh (PJJ),” ujar dia dalam Bincang Sore Kemendikbud, Kamis (8/4).

Jadi, publik tentu melihat keberanian Kemendikbud tanpa dasar yang kuat atau dengan persiapan kurang matang. Melihat dari pandangan gagalnya PJJ dan vaksinasi yang lambat.

PJJ juga, kata dia bukan sebuah program, melainkan hanya sekoci yang disiapkan ketika kapal mengalami kendala, dalam arti pendidikan tengah bermasalah akibat pandemi Covid-19.

“Tentu (PJJ) tidak ideal, tidak senyaman kapal sesungguhnya (PTM). Nah kita melihat kondisi kita seperti itu. Kita melihat kesenjangan sangat tinggi antara kelompok yang punya fasilitas dan tidak punya fasilitas terjadi jurang relaita,” tutur dia.

Berdasarkan hal itu lah pihaknya tidak ingin warga pendidikan terus terjebak dalam jurang kegagalan proses belajar mengajar. Oleh karenanya, pihaknya menyediakan berbagai opsi pembelajaran di tengah kondisi pandemi agar tetap optimal.

“Makanya ada opsi mengambil jalan tengah (PJJ dan PTM). Masing-masing daerah punya kepala sekolah, anak-anak punya masing-masing orang tua yang punya kesempatan untuk memilih (PJJ atau PTM),” kata dia.

“Orang tua lah yang menganalisis kesiapan anak-anaknya untuk kesekolah. Guru dan orang tua kita edukasi agar siap. Dan setelah vaksinasi, ada proses yang lebih baik dalam menyiapkan PTM,” tandas Jumeri. (*)

Sumber: JawaPos.Com
Editor: Alpin