Beranda Pendidikan Terkait PJJ, Ada Ketimpangan Implementasi Antara di Kota dan Desa

Terkait PJJ, Ada Ketimpangan Implementasi Antara di Kota dan Desa

ILUSTRASI: Seorang anak di Kabupaten Bogor belajar dengan menggunakan handphone milik ayahnya. IMAM RAHMANTO/ RADAR BOGOR

JAKARTA-RADAR BOGOR, Pembelajaran jarak jauh (PJJ) di tengah pandemi Covid-19 sudah berjalan hampir satu tahun atau dua semester. Sejumlah kalangan menilai ada ketimpangan pelaksanaan PJJ antara di perkotaan dengan di pedesaan. Di antaranya diungkapkan oleh Head of Math Department Eduversal Indonesia Ade Kiki Ruswandi.

Dia menjelaskan pelaksanaan PJJ sebagai respons atas pandemi Covid-19 dilaksanakan dengan beragam, menyesuaikan kondisi infrastruktur maupun kemampuan guru. Dia lantas membandingkan proses PJJ antara di perkotaan dengan di kampungnya.

“Ternyata ada ketimpangan PJJ di perkotaan dengan di desa atau daerah,” kata Ade dalam peluncuran International Eduversal Mathematics Competition (I-EMC) di kantor Eduversal, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Sabtu (6/2).

penerimaan mahasiswa baru universitas nusa bangsa bogor

Pria asal Ciamis, Jawa Barat itu mengatakan ketimpangan pelaksanaan PJJ bisa membawa efek besar pada literasi numerik atau kemampuan lain para siswa. “PJJ di daerah itu diserahkan ke ortu. Yang mengerjakan PR adalah orang tua,” katanya setelah melakukan pengamatan secara langsung di lapangan.

Menurutnya, meski pembelajaran dilakukan secara jarak jauh, guru tetap berperan mendampingi siswa dalam belajar. Caranya bisa beragam. Melalui komunikasi berbasis internet atau cara-cara lainnya menyesuaikan kondisi di daerah masing-masing.

Direktur Eduversal Indonesia Dwi Prajitno mengatakan pandemi Covid-19 yang menyebabkan siswa belajar dari rumah, tidak boleh menjadi penghalang untuk terus belajar. “Kita berusaha tidak menjadikan pandemi sebagai hambatan untuk berprestasi,” katanya.

Dwi menjelaskan kompetisi matematika tingkat dunia yang mereka gelar adalah salah satu wahana untuk mengukur prestasi siswa. Meskipun di tengah pandemi, wahana untuk mengukur prestasi siswa tetap perlu digelar. Kalaupun tidak bisa digelar secara tatap muka, kompetisi matematika yang sejenisnya dapat dilaksanakan secara online.

Dia mengatakan tahun lalu gelaran I-EMC diikuti sekitar 4.000 siswa dari 36 negara. Tahun ini dia berharap bisa diikuti siswa dari 50 negara. Pendaftaran I-EMC 2021 dilakukan secara online mulai 8 Februari sampai 13 Maret dan pelaksanaan lomba pada 30 Maret.

Sementara itu, Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kemenag Ahmad Umar mengatakan PJJ dilaksanakan dengan menekankan pembentukan karakter siswa.

Sehingga tidak boleh memberatkan siswa. Apalagi jika isinya melulu mengerjakan tugas yang ada di buku pelajaran. Dia mengatakan PJJ bisa diisi juga dengan penugasan berbasis proyek yang sangat dengan dengan lingkungan sekitar siswa.

Dia mencontohkan kegiatan di rumah seperti memasak bersama orang tua, itu isa menjadi tugas berbasis proyek di tengah pandemi. Umar mengatakan Kemenag sudah mengeluarkan panduan kurikulum darurat di tengah pandemi. Dengan merujuk panduan tersebut, proses PJJ bisa lebih lentur disesuaikan kondisi masing-masing sekolah atau siswa.

Sumber: JawaPos.Com
Editor: Alpin