Beranda Berita Utama Joe Biden Dinilai Plinplan, Sebut Tiongkok Ancaman Paling Serius

Joe Biden Dinilai Plinplan, Sebut Tiongkok Ancaman Paling Serius

Presiden Amerika Serikat Joe Biden (ROBERTO SCHMIDT/AFP)

JAKARTA-RADAR BOGOR, Presiden Amerika Serikat Joe Biden menegaskan siap untuk bekerja sama dengan Tiongkok. Kepastian itu diucapkannya dalam pidato pertamanya tentang urusan luar negeri setelah pelantikannya. Akan tetapi, dia tetap waspada dengan langkah Tiongkok.

Biden menyebut Tiongkok sebagai pesaing paling serius di AS. Biden menyebut Tiongkok enam kali dalam pidatonya, tetapi hanya satu kalimat tentang kerja sama, sisanya tentang persaingan dan ancaman.

Pidato tersebut tidak menyebutkan masalah nuklir di Iran dan Korea Utara, tetapi menjelaskan tentang sekutu di Eropa dan Timur Tengah, dan menggunakan kata-kata kasar tentang Rusia.

penerimaan mahasiswa baru universitas nusa bangsa bogor

Menanggapi pernyataan terbaru Biden, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Wang Wenbin mengatakan pada konferensi pers rutin hari Jumat (5/2) bahwa Tiongkok dan AS adalah dua negara besar yang berbagi kepentingan umum yang luas.

Menurutnya mengenai masalah yang meningkat seperti pandemi Covid-19 dan perubahan iklim, tantangan yang dihadapi seluruh umat manusia membutuhkan kerja sama Tiongkok-AS.

“Kami berharap AS akan melakukan dialog yang lebih aktif dan konstruktif, bekerja dengan kami dengan fokus pada kerja sama dan mengelola divergensi, untuk mempromosikan perdamaian dan pembangunan dunia bersama dengan negara-negara lain di seluruh dunia,” kata Wang.

Sikap Biden Tak Jelas

Pakar Tiongkok menganggap pidato Biden itu agak hambar tanpa ekspresi yang menarik perhatian. Biden menyampaikan perspektif yang lebih jelas tentang isu-isu tertentu selain masalah Tiongkok. Itu membuktikan bahwa pemerintahan baru masih belum siap untuk membuat kebijakan soal Tiongkok yang jelas.

Seorang ahli studi AS dengan Akademi Ilmu Sosial Tiongkok (CASS) di Beijing, Lu Xiang, mengatakan kepada Global Times bahwa pidato tersebut mungkin mengecewakan banyak orang di seluruh dunia yang mengharapkan presiden baru AS untuk berbicara dengan jelas dan segar seputar kebijakan luar negeri. Menurutnya Biden tampak bertele-tele pada keseluruhan pidatonya.

“Dan pernyataannya tidak memberikan langkah-langkah konkret, tidak menyentuh masalah sensitif dan sulit, dan tidak mengatakan bagaimana dia ingin memutuskan hubungan dengan pemerintahan sebelumnya tentang kebijakan luar negeri. Mungkin masih ada perbedaan dalam tim Biden, jadi dia frustrasi,” kata Lu.

Seorang ahli studi AS di Renmin University of China, Diao Daming, mengatakan kepada Global Times bahwa istilah pesaing paling serius adalah konsensus dasar dan umum mengenai Tiongkok di antara para pembuat keputusan AS. Menurutnya kekhawatiran atas Tiongkok jauh lebih besar dan lebih jelas daripada niat untuk bekerja sama.

Dekan School of International Studies di Renmin University of China, Jin Canrong, mengatakan bahwa Tiongkok dan AS sangat membutuhkan satu sama lain. Akan tetapi perbedaan utamanya adalah bahwa AS sangat percaya bahwa Tiongkok adalah pesaing paling serius.

Mantan Duta Besar AS untuk Tiongkok, Gary Locke mengatakan hubungan AS-Tiongkok perlu ditingkatkan. Menurutnya dunia sedang mencari kepemimpinan dari Amerika Serikat dan Tiongkok yang bekerja sama untuk menyelesaikan banyak masalah yang dihadapi dunia.

Sumber: JawaPos.Com
Editor: Alpin