Beranda Metropolis Kisah Andi Sudirman, Sudah 33 Tahun Setia Menjaga Bendung Katulampa

Kisah Andi Sudirman, Sudah 33 Tahun Setia Menjaga Bendung Katulampa

BERPENGALAMAN: Andi Sudirman memantau ketinggian air di Bendung Katulampa, Kota Bogor. (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)

JAKARTA-RADAR BOGOR, Setiap debit air di Bendung Katulampa naik, Andi Sudirman adalah orang pertama yang mengirim sinyal ke Jakarta. Dengan harapan, warga DKI yang tinggal di bantaran kali bersiap menghadapi banjir kiriman.

Kalau ditanya sampai kapan akan mengabdi di Bendung Katulampa, Andi Sudirman hanya punya satu jawaban. Yaitu, sampai tutup usia. Karir Andi di Bendung Katulampa dimulai pada 1 Oktober 1987. Saat itu dia baru lulus SMA Taman Siswa.

Andi melamar kerja ke Dinas Bina Marga dan Pengairan Kota Bogor. ”Alhamdulillah, diterima jadi honorer,” ucap Andi. Dia langsung ditempatkan di Bendung Katulampa dan saluran induk. Tugasnya memonitor saluran irigasi Katulampa.

Dalam bekerja, Andi harus cermat. Sebab, saluran irigasi Katulampa mengairi Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Depok, dan Jakarta. Kalau ada kenaikan debit air di Bendung Katulampa, Andi harus menginformasikan ke pihak-pihak terkait. Di antaranya, UPTD PSDA Ciliwung-Cisadane, Pemda Bogor, relawan dan komunitas peduli Ciliwung, serta Pemprov DKI Jakarta.

Andi mengungkapkan, status debit air ada 4 tingkatan. Yaitu, warna hijau pertanda siaga IV dengan tinggi muka air (TMA) 80 sentimeter. Warna biru pertanda siaga III dengan TMA 150 sentimeter. Warga kuning pertanda siaga II dengan TMA 200 sentimeter. Yang terakhir adalah warna merah atau pertanda siaga I dengan TMA di atas 200 sentimeter.

”Kami harus siaga memonitoring selama 24 jam. Harus segera memberikan peringatan setiap kenaikan status,” terang pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat, 17 Juli 1967, tersebut.

Pekerjaan Andi itu sangat berat. Apalagi kalau sedang musim hujan. Dia tidak bisa pulang ke rumah. ”Saya tidur di pos bendungan,” ungkapnya.

Sudah bekerja keras seperti itu, Andi masih sering mendapat perlakuan tidak enak. Dia sering disindir warga. Katanya, banjir Jakarta terjadi karena kiriman dari Bogor. Padahal, Bendung Katulampa hanya menjadi posko untuk memonitor dan mengawasi permukaan air di hulu.(jpg)