Beranda Bogor Raya Diduga Kuat, Ini Penyebab Banjir Bandang Pertama di Komplek Gunung Mas Puncak

Diduga Kuat, Ini Penyebab Banjir Bandang Pertama di Komplek Gunung Mas Puncak

Banjir-bandang
Petugas damkar tengah membersihkan lumpur sisa banjir bandang di Komplek Gunung Mas, Puncak, Jumat (22/1/2021).

CISARUA-RADAR BOGOR, Sewaktu banjir bandang melanda Komplek Gunung Mas, Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, hulu Ciliwung hanya diguyur hujan gerimis. Sejak Senin sore hingga Selasa dini hari, 19 Januari silam, hujan ringan mengguyur kawasan tersebut.

Saat itu Deden tak menyangka, bahwa akan terjadi banjir bandang. Selama ia tinggal di sana, belum pernah ada banjir bandang melintasi kampungnya.

Jangankan bandang, luapan sungai pun belum pernah terjadi. Paling parah, saat puncak musim penghujan, yang terjadi adalah longsor. Itupun jauh dari pemukiman.

universitas-nusa-bangsa

Namun pagi itu, gelontoran air begitu deras. Air sungai yang bening mendadak berubah. Warnanya coklat pekat.

Air berlumpur yang datang itu tidak sendiri. Tapi juga membawa material batang pohon juga sampah. Diameter batang pohon cukup besar. Hampir satu meter. Panjangnya ada yang delapan meter.

Gelondongan kayu itupun naik ke jalan pemukiman. Terdorong derasnya banjir bandang yang menerjang. Ia menduga ada yang tidak berses dengan hutan lindung di hulu sungai itu.

“Ini baru pertama kali, biasanya gak sampai banjir bandang begini,” katanya kepada radarbogor.id Jumat (22/1/2021).

Pembersihan material banjir bandang berupa batang pohon besarpun memakan waktu cukup lama. Petugas Damkar yang turun ke lapangan membersihkan material lumpur juga batang pohon itu hanya bisa menggeser ke pinggir jalan.

“Kita lakukan pembersihan selama tiga hari ini. Material batang pohon besar ada delapan yang kita jumpai di lokasi banjir bandang,” tutur Nendri, Kepala UPT Damkar Sektor Ciawi kepada radarbogor.id Jumat (22/1/2021).

Selama pembersihan lokasi banjir bandang, Nendri harus menurunkan seluruh anggotanya. Ada 30 petugas damkar yang turun ke lokasi banjir bandang. Bahkan sampai hari menginap dalam mobil damkar.

“Kuta tidur di Mobil damkar, gak sempat ganti baju. Pakai baju damkar,” ujarnya.

Dugaan hutan lindung bermasalah pun terucap dari mulut Wakil Bupati Bogor, Iwan Setiawan.

Ia menganalisis, curah hujan tinggi seharusnya tidak menimbulkan banjir bandang. Atau luapan air pada Sungai Cisampay. Itu lantaran Sungai Cisampay dikelilingi hutan.

“Ya, saya menduga ada pembalakan liar yang mengakibatkan erosi,” katanya kepada radarbogor.id.

Sementara itu Jaringan Pemantau Hutan Independen, Forest Watch Indonesia (PWI) mengatakan, secara umum, kawasan puncak mengalami ekploitasi lahan.

FWI menganalisis, pada rentang waktu periode tahun 2000 sampai 2016, daerah aliran sungai (DAS) Ciliwung mengalami kehilangan hutan sekitar 5.700 hektare hutan alam hilang di kawasan Puncak atau seluas 66 kali Kebun Raya Bogor.

Akibatnya, hutan alam saat ini hanya menyisakan 8,91 persen hutan alam dari total luas hulu DAS Ciliwung.

Hilangan hutan alam di daerah tangkapan air hulu DAS Ciliwung disebabkan oleh berbagai hal. Mulai dari adanya alih fungsi hutan menjadi perkebunan, ladang, permukiman, dan semak belukar.

Dimana hutan seluas 879,81 hektare atau 6,02 persen kawasan hutan lindung di wilayah Puncak berubah fungsi menjadi perkebunan.

Tidak hanya itu, kawasan hutan yang beralih fungsi juga karena menjamurnya kawasan hunian seperti vila, hotel, dan resort. FWI mencatat, ada seluas 321,69 hektare atau 2,20 persen.

Sementara itu camat Cisarua, Deni Humaedi menuturkan, pemerintah kecamatan akan menelusuri dugaan adanya pembalakan liar di hutan alam tersebut.

“Iya, itu baru dugaan. Kita akan lihat faktanya seperti apa,” katanya kepada radarbogor.id Jumat (22/1/2021).

Lebih lanjut Camat Cisarua, Deni Humaedi menuturkan, saat ini fokus pada warga terdampak banjir bandang.

“Kita bereskan yang saat ini dulu.Ketika ada informasi (pembalakan liar) akan melihat juga. Kita belum berani ke atas (hutan lindung) karena kondisi masih seperti ini,” tukasnya. (all)