Beranda Berita Utama Usai Disuntik Vaksin, 23 Orang di Norwegia Meninggal

Usai Disuntik Vaksin, 23 Orang di Norwegia Meninggal

Ilustrasi proses vaksinasi Covid-19 dengan vaksin Pfizer (AP)

JAKARTA-RADAR BOGOR, Norwegia menjadi salah satu negara di Eropa yang mulai melakukan vaksinasi terhadap warganya dengan vaksin Pfizer-BioNTech yang memiliki nilai efikasi di atas 90 persen.

Hanya saja, kejadian tak disangka muncul. Usai pelaksanaan vaksinasi, setidaknya 23 orang yang menerima vaksin Covid-19 dari perusahaan farmasi AS dan Jerman itu meninggal dunia.

Pihak berwenang pada Jumat (15/1) memastikan ada 13 kematian terkait dengan efek samping vaksin. Sementara 10 kematian tak berkaitan langsung, meski masih dalam penelitian.

Sebanyak 13 orang yang meninggal akibat efek samping vaksin berusia di atas 80 tahun. Hal tersebut seperti disampaikan Badan Obat Norwegia.

Seperti dilansir dari Daily Sabah, Jumat (15/1), Badan Obat Norwegia mencatat bahwa efek samping umum vaksin Pfizer-BioNTech yakni seperti demam dan mual. Dan bisa menyebabkan kematian pada beberapa penerima vaksinasi lanjut usia.

“Selain 13 kematian, ada 9 kasus efek samping serius dan 7 kasus efek samping yang kurang serius telah dicatat,” kata Direktur Medis Badan Obat Norwegia, Steinar Madsen, mengatakan kepada NRK.

Norwegia meluncurkan kampanye vaksinasi bulan lalu, tepat setelah vaksin Pfizer-BioNTech disetujui oleh European Medicines Agency (EMA). Hampir 33 ribu orang telah menerima dosis di negara itu, menurut data pelacak OurWorldInData yang berbasis di Inggris.

Kasus Covid-19 di orwegia saat ini mencapai 57.736, termasuk 511 kematian. Vaksin Pfizer ditemukan oleh pasangan suami istri peneliti dari BioNTech, Ugur Sahin bersama istrinya, Özlem Türeci, yang merupakan kepala petugas medis.

Menurut Times, Sahin membaca artikel dari The Lancet pada Januari 2020 tentang wabah Wuhan. Dia sudah melihat potensi bahaya pandemi di maza depan.

bozzfoods frozen foods

Lalu dia melihat bagaimana kerja BioNTech pada mRNA dapat diterapkan untuk vaksin. Metode ini awalnya digunakan untuk vaksin kanker lalu akhirnya dikembangkan untuk Covid-19.(jawapos)