BOGOR-RADAR BOGOR, Rapat Kerja Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bogor, Syarifah Sofiah ke berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) kembali dilaksanakan.
Kali ini, giliran Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Bogor di Jalan Kapten Muslihat, Kota Bogor, didatangi Sekda, Rabu (18/11/2020).
Kepala Bappeda Kota Bogor, Hanafi mengatakan, Bappeda fokus pada tiga hal, yakni APBD, Tata Ruang dan Penelitian dan Pengembangan (Litbang).
Di 2020-2021 ini, Bappeda sudah mempunyai sembilan agenda besar. Sebut saja revisi RPJMD 2019-2024, revisi Perda RT RW, rencana induk ketahanan keluarga, kajian batas wilayah dan kajian penataan Stasiun Bogor.
“Ada program Bogor berkebun, koordinasi bedah kampung, konvergensi stunting, musrenbang dan penyusunan RKPD 2022,” ujar Hanafi kepada radarbogor.id Kamis (19/11/2020).
Sementara itu, Sekda Kota Bogor, Syarifah Sofiah mengatakan, ada dua hal yang ia amati dari kepemimpinan Bima-Dedie, yakni keinginan untuk membangun perubahan Kota Bogor dan keinginan memberikan pelayanan ke masyarakat.
Tak ayal, pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan yakni Revisi Perda RT RW. Hal itu lantaran Pemkot Bogor tidak bisa berbuat apa-apa jika revisi Perda RT RW belum disahkan.
Dimana Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Bogor akan menurun jika tidak ada pembangunan baru. Sementara para investor juga menunggu revisi Perda RT RW selesai.
“RT RW mutlak kita kebut. Kalau sudah selesai sosialisasikan ke investor dan pengembangan perumahan, karena dengan adanya pembangunan, ada ekonomi yang masuk. Kalau sudah ada pembangunan infrastruktur atau fisik, PDRB dan pendapatan meningkat,” kata Sekda Kota Bogor Syarifah kepada radarbogor.id, Kamis (19/11/2020).
Tidak hanya itu, Syarifah menuturkan, selain memikirkan RT RW, juga harus bersama-sama memikirkan pembangunan pusat-pusat ekonomi baru atau wilayah pembangunan baru.
Menurutnya, wilayah tengah Kota Bogor menjadi kota heritage yang tidak boleh dirubah, karena ada nilai sejarah. Pusat ekonomi atau pembangunan baru bisa disebar di wilayah lainnya yang memiliki potensi.
“Di Suryakencana sudah ada Pecinan, nanti katanya akan ada Kampung Arab, ini bisa jadi wisata baru. Anak-anak muda Kota Bogor ingin kotanya berubah. Kita sudah ada julukan Heritage City, Smart City, Green City, City of Runner, kota ramah keluarga dan yang terbaru dari IPB Science City. Ini ekonomi yang bisa dibangun, walaupun di Covid-19 tidak banyak yang bisa dilakukan, tapi harus dipersiapkan dari sekarang,” terangnya.
Syarifah menambahkan, sebagai kota yang hidup dari jasa dan perdagangan, Pemkot Bogor dituntut untuk bisa mendatangkan wisatawan.
Jika hanya mengharapkan dengan benah kampung namun tanpa akses yang memadai, Kota Bogor akan ketinggalan dengan destinasi wisata di Kabupaten Bogor.
“Jadi kita harus buat yang lebih spesifik, buat paket-paket wisata. Kami prediksi 2021 wisatawan ke Kota Bogor 7,7 juta, jumlahnya memang lebih kecil dari sebelum Covid-19 yang mencapai 9 juta wisatawan,” tukasnya. (all)