Hujan Deras, Warga Megamendung dan Cijeruk Diminta Waspada Longsor

Longsor di Kampung Erih RT27, Desa Palasari, Kecamatan Cijeruk, akhir pekan kemarin.

MEGAMENDUNG-RADAR BOGOR, Melihat kondisi cuaca yang kerap diguyur hujan setiap harinya. Sejumlah pemerintah wilayah di Kabupaten Bogor, mewanti-wanti masyarakatnya di berbagai titik agar tetap waspada akan terjadinya bencana alam. “Hampir semua desa,” kata Camat Megamendung, Endi Rismawan kepada Radar Bogor, Selasa (10/11).

Dia menjelaskan, wilayah Megamendung termasuk yang rawan terjadi bencana alam. Meski sejauh ini masih terbilang aman, ia meminta pemerintah desa di wilayah tetap berkordinasi dengan berbagai aparatur wilayah agar waspada.

Menurutnya, yang sering kali yakni bencana alam berupa longsor. Seperti diketahui wilayah tersebut terbilang berada di lokasi dataran tinggi di wilayah selatan Kabupaten Bogor.

“Diihat dari struktur tanahnya desa-desanya berbukit. Kami harapkan semua desa agar tetap waspada dengan keadaan cuaca sekarang,” katanya.

Di lain tempat longsor kembali terjadi di wilayah selatan kabupaten. Tepatnya longsor juga memutus jalan warga di Kampung Erih RT27, Desa Palasari, Kecamatan Cijeruk, akhir pekan kemarin.

Hingga kemarin (10/11) pemerintah desa setempat masih berjibaku dengan lumpur akibat tanah merah yang terendam air hujan di sana. Mereka tengah berupaya melakukan perbaikan jalan warga.

Kepala Desa Palasari, Aip Syaripudin menjelaskan, pihaknya telah melakukan perbaikan jalan tersebut pasca longsor yang terjadi pada, Sabtu (7/11) lalu.

Longsor di Kampung Erih RT27, Desa Palasari, Kecamatan Cijeruk, akhir pekan kemarin.

Tidak ada korban jiwa akibat peristiwa longsor. Ia mengaku, kontur tanah yang rawan longsor mengakibatkan khawatir kepada pemerintah desa akan terjadinya bencana susulan. “Sudah ke lokasi. Kami masih memperbaiki jalannya agar tidak terjadi bencana susulan,” ujarnya.

Sementara, warga Kampung Pasir Erih, RT2/7 Desa Palasari, Belong menuturkan, longsor terjadi sekitar pukul 20.00 wib, saat hujan yang cukup deras mengguyur.

Dia mengaku, saat itu terdengar suara bebatuan yang jatuh tepat di samping rumahnya. Ketika dilihat tanah tebing di samping rumahnya amblas nyaris menimpa rumahnya.

“Longsor terjadi tiba – tiba. Karena tebingan itu tidak ada turap beton penahan tanah. Padahal anggaran di desa kan ada. Pengajuan sudah warga ajukan beberapa kali, tapi sampai bencana terjadi tidak ada tealisasinya,” akunya.(reg)