CIBINONG-RADAR BOGOR, Potensi tanaman hias di Kabupaten Bogor sangat tinggi, hal itu tentunya dapat menjadi peluang untuk meningkatkan perekonomian di tengah pandemi Covid-19.
Hal itu diungkapkan, Bupati Bogor Ade Yasin saat berdialog dengan paguyuban petani tanaman hias di Sukamantri, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor.
Ade Yasin mengungkapkan, dialog tersebut dilakukan karena dirinya ingin mengetahui bagaimana kondisi penjualan tanaman hias di tengah pandemi Covid-19, dan apa saja yang menjadi kendala para petani.
“Mari kita urai bersama jika ada masalah atau ada kendala yang menghambat produktifitas para penggiat tanaman hias,” Beber Ade Yasin.
Menurutnya, pandemi Covid-19 berdampak pada semua sektor, hanya saja ia melihat pada sektor tanaman hias rupanya tak terdampak.
Penjualan tanaman hias justru mengalami peningkatan di masa ini, omsetnya bahkan bisa sampai Rp200 hingga Rp300 juta per hari secara keseluruhan di Kabupaten Bogor.
“Di masa pandemi sekarang ini, lagi trend mengurus tanaman, karena banyak orang yang mengalami keterbatasan untuk keluar rumah, ini bukan sekedar hobi tetapi menghasilkan untuk keluarga dan wilayah,” Kata Ade Yasin.
Ade Yasin juga menginstruksikan Kadistanhorbun membentuk kultur jaringan untuk mempercepat stok tanaman, dan menginstruksikan kepala desa menindaklanjuti apa yang menjadi kendala, salah satunya dengan menggunakan anggaran Rp1 miliar untuk satu desa agar dimanfaatkan untuk perbaikan infrastruktur jalan menuju rumah tanaman hias.
Ade Yasin juga mengajak untuk mengambangkan tanaman hias dan mengapresiasi para petani yang telah sukses mengekspor tanaman hias sampai ke berbagai negara.
“Saat ini udah ekspor ke Europa, Amerika, Jepang, Korea, bahkan ke Afrika. Jadi ini potensi yang luar biasa, patut kita support, karena ini sumber ekonomi daerah, selain pengembangan tanaman ini bisa menjadi agro wisata,” pungkas Ade Yasin.
Sementara itu, Ketua Paguyuban Petani Tanaman Hias Sukamantri memfasilitasi para petani untuk menyampaikan kendalanya, beberapa kendala diantaranya adalah stok tanaman untuk diekspor, akses transportasi menuju lokasi, serta kurangnya pameran tanaman hias. (ded)