Warga Masih Malas Cuci Tangan, Pemkot Sediakan 2.584 Wastafel

Wali Kota Bogor, Bima Arya melakukan aksi cuci tangan.

BOGOR – RADAR BOGOR, Wali Kota Bogor, Bima Arya mengaku bahwa masih banyak warganya yang malas cuci tangan tangan sabun. Padahal, kebiasaan cuci tangan bisa jadi salah satu cara untuk mencegah penularan Covid-19.

Atas alasan itu, Bima mengeluarkan Surat Edaran agar setiap titik yang mempunyai potensi ada kegiatan orang agar menyediakan fasilitas cuci tangan.

Hingga saat ini, Pemkot Bogor sudah membangun 2.584 fasilitas cuci tangan yang tersebar di 466 sekolah, 900 masjid, di 1.000 posyandu, di taman dan lain-lain.

“Nomor satu yang terpenting kultur, kebiasaan dibangun, digencarkan melalui sosialisasi dan edukasi, kedua pembangunan infrastruktur digencarkan di seluruh titik-titik yang betul-betul memerlukan protokol kesehatan,” tegas Bima.

Dari data yang ada, beber Bima, berdasarkan data klaster keluarga di Kota Bogor menempati peringkat utama.

Tercatat, sampai saat ini ada 277 keluarga dengan kasus positif 170. Sebagian besar kasus terpapar karena anggota keluarga yang keluar rumah atau tempat kerja.

Wali Kota Bogor, Bima Arya melakukan aksi cuci tangan.

Ia melanjutkan, Pemkot Bogor bekerja sama dengan Lapor Covid-19 dan Nanyang Technological University Singapore melakukan survei di Kota Bogor.

Survei ini untuk melihat sejauh mana persepsi warga Kota Bogor terhadap Covid-19 dan menaati seruan pakai masker, cuci tangan dan jaga jarak.

“Hasilnya menarik, ternyata warga paling suka jaga jarak, sering pakai masker dan ditengah-tengah cuci tangan,” imbuh Bima.

Bima menjelaskan, dari hasil survei juga warga lebih percaya mendengar nasehat atau informasi dari dokter, kedua tokoh agama, ketiga pejabat baru terakhir selebritis.

Tak ayal, pemerintah pusat dan daerah, sangat penting melibatkan dokter, tenaga medis, pakar kesehatan dan tokoh agama. Di Kota Bogor pihaknya membentuk tim Merpati yang tugasnya mengedukasi dan sosialisasi.

“Karena warga masih perlu untuk dijangkau, dicerahkan dan diedukasi apalagi 16 persen warga percaya Covid-19 itu konspirasi buatan manusia, 29 persen mengaku tidak percaya konspirasi, dan 50 persen antara iya dan tidak,” kata Bima. (dka)