BOGOR – RADAR BOGOR, Situasi pandemi Covid-19 di Bogor masih sangat mengkhawatirkan. Selain jumlah kasus positif terus bertambah, penyebaran pegebluk corona di masyarakat makin meluas.
Tak kurang ada dua klaster besar penularan virus. Yakni klaster keluarga dan perkantoran.
“Dua klaster ini yang sekarang mendominasi penularan di Kota Bogor,” ujar Wali Kota Bogor Bima Arya saat konferensi pers dengan awak media di Balai Kota, Senin (5/10/2020).
Berdasarkan data Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Kota Bogor terjadi lonjakan kasus yang cukup siginifikan. Dalam sepekan saja, terjadi penambahan179 kasus positif baru. Sehingga total kasus Covid-19 Kota Bogor mencapai 1.387 orang per 5 Oktober 2020.
Dengan rincian 395 orang masih dirawat, 941 sembuh dan 51 meninggal. “Lonjakan kasus membuat Kota Bogor masih di zona merah. Jika dibandingkan dengan minggu sebelumnya terjadi peningkatan kasus sebanyak 15 persen,” imbuh dia.
Bima yang juga Ketua Satgas Penanganan Covid-19 memaparkan berdasarkan hasil pendalaman timnya, dari penambahan 179 kasus baru, 118 berasal dari klaster keluarga.
Saat dibedah satu-satu dari ratusan kasus klaster keluarga , 32 persennya-nya disebabkan oleh tempat kerja atau perkantoran. Dengan kata lain, orang yang terpapar di keluarga ini, sebelumnya terpapar di perkantoran.
“Sementara 29 persen penularan dari fasilitas kesehatan, kemudian dari Jakarta dan luar kota 19 persen, acara – acara keluarga 4 persen, transmisi lokal 7 persen, sektor transportasi 2 persen serta mall, kantin dan minimarket masing – masing 3 persen,” kata Bima
Dengan demikian, lanjut Bima, data tersebut menguatkan bahwa saat ini yang paling berbahaya adalah klaster perkantoran. Karena memiliki komposisi terbesar dibanding rumah makan dan restoran yang memiliki presentasi lebih kecil.
Sehingga menurutnya, protokol kesehatan di rumah makan, restoran, atau tempat publik lainnya relatif sudah lebih baik. Pengunjung berinteraksi secara terbatas, ataupun menjaga jarak satu sama lain.
“Tetapi kalau di kantor, inilah yang sangat berbahaya. Apalagi dalam ruangan tertutup bersama – sama dari pagi sampai malam, apalagi sampai lepas masker,” sambung Bima.
Dia juga menghimbau kepada warga Kota Bogor yang bekerja di perkantoran agar dipastikan lagi prosedur yang ditetapkan.
Misalnya membatasi 50 persen pegawai yang ada di kantor. Rapat – rapat didalam ruangan juga dibatasi dan memperhatikan kembali sirkulasi udara.
“Fokus kita kedepan adalah betul – betul di klaster perkantoran dan pemukiman. RW siaga RW merah yang kita ketatkan dan disiplin protokol kesehatan di perkantoran,” tegasnya.
Bima juga meluruskan soal aturan makan di tempat untuk kafe dan restoran. Sebelumnya Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan menyatakan bahwa daerah Bogor, Depok dan Bekasi (Bodebek) harus menyamakan kebijakan. Yakni makan di tempat atau dine in sampai pukul 18.00. Hanya saja, pemberlakuan itu untuk RW yang berada di zona merah.
Namun demikian, tempat makan yang berada di RW merah ini juga harus dicek kembali. Artinya apabila lokasi rumah makannya betul – betul berada di pemukiman yang risiko tinggi, tentu tidak dibolehkan untuk buka.
“Katakanlah misalnya ada resto di pinggir jalan besar, masuk ke kelurahan zona merah, tetapi tidak langsung berhubungan dengan pemukiman yang ada di zona resiko tinggi tadi, ini masih memungkinkan untuk buka,” jelasnya.
Di bagian lain, kasus penularan virus corona di Kabupaten Bogor mulai mendekati angka psikologis dua ribu kasus. Atau tepatnya 1.963 kasus per 5 Oktober, kemarin.
Terjadi penambahan 18 kasus positif baru yang tersebar di Kecamatan Kemang, Cibungbulang, Dramaga, Cibinong, Ciomas, Bojonggede, dan Cileungsi dengan masing-masing dua kasus baru. Sedangkan Kecamatan Klapanunggal, Tamansari, Rancabungur, Cijeruk dan Ciomas terdapat satu kasus positif baru pada masing-masing kecamatan.
“Terdapat empat kasus probable meninggal dunia yakni warga Cileungsi, Ciampea, Cibungbulang, dan Kecamatan Gunungputri,” kata Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Bogor, Ade Yasin.
Dia mengungkapkan, dari total 1.963 kasus positif, 1.309 orang dinyatakan sembuh, 56 meninggal dan 592 masih dalam perawatan. (dka/ded/c)