Bupati Bogor, Ade Yasin saat memimpin rapat evaluasi penanganan Covid-19. Hendi/ RADAR BOGOR
CIBINONG – RADAR BOGOR, Penanganan Covid-19 di Kabupaten Bogor dianggap masih tertutup. Hal tersebut, diungkapkan langsung Bupati Ade Yasin.
Mengatasi masalah tersebut, Ketua DPW PPP Jabar itu akan memaksimalkan peranan juru bicara.
Ade mengungkapkan, saat ini Syarifah Sopiah telah menjadi Sekda Kota Bogor. Sehingga, harus segera ada pengganti juru bicara (jubir).
“Kadiskominfo kini sekaligus menjadi Jubir Gugus Tugas Penanganan Covid-19 didampingi satu orang dari Dinas Kesehatan,” kata Ade dalam evaluasi, kemarin.
Ia menilai, penanganan Covid-19 harus semakin maksimal mengingat kasus masih terus meningkat sehingga PSBB Pra Adaptasi Kebiasaan Baru menuju masyarakat sehat, aman dan produktif diperpanjang hingga tanggal 27 oktober 2020.
Kendati kasus baru Covid-19 terus meningkat, status kedarutatan masih masuk pada kategori orange. “Kondisi penyebaran sudah menjadi transmisi lokal sebagaimana kita ketahui sudah mulai masuk klaster perkantoran dan industri,” katanya.
Di sisi lain, Dinkes tercatat baru melakukan polymerase chain reaction (PCR) terhadap 21.986 spesimen selama pandemi, Ade mengakui masih jauh dari target Pemprov Jawa Barat, yakni 60 ribu spesimen atau 1 persen dari jumlah penduduk.
Intensitas pengambilannya (spesimen) tinggi 300-400 per hari tapi Pemkab Bogor hanya mampu menguji 200 spesimen per hari. Artinya ada keterbatasan uji laboratorium sehingga terjadi keterlambatan informasi (delay) warga terkonfirmasi positif atau tidak.
Menurut data dinkes, akhir September masih ada 1.000 spesimen belum dilakukan uji laboratorium karena menunggu antrian.
Tak hanya itu, Ade juga ikut menyoroti sejumlah ruang isolasi mandiri, yang terdapat di 28 rumah sakit yang ada di Kabupaten Bogor. Berdasarkan laporan yang diterimanya, dari 28 rumah sakit yang ada 18 rumah sakit diantaranya sudah menunjukkan okupansi rate di atas 50 persen. (ded/c)