Waspada Ancaman Kebakaran, Setiap Bulan Ada 6 Kasus Si Jago Merah

Ilustrasi-Kebakaran

BOGOR – RADAR BOGOR, Kebakaran masih menghantui wilayah perkotaan seperti Kota Bogor. Tercatat, rata-rata enam kasus kebakaran terjadi setiap bulan.

Kebakaran paling banyak terjadi pada Agustus lalu. Ada sekitar 15 kasus kebakaran yang terjadi dengan intensitas besar maupun kecil.

Komandan Sektor Pos Pemadam Kebakaran (Damkar) Yasmin, Aswinata menjelaskan, hitungan ini hanya kebakaran yang ditangani di area Bogor Barat dan Tanah Sareal. Itu sekaligus di luar penanganan lain semisal penyelamatan.

“Tapi kalau ditambahkan dengan non kebakaran, seperti pohon tumbang, banjir, longsor, evakuasi mayat, dan evakuasi hewan bisa mencapai 15-20 kejadian setiap bulannya. Karena sekarang jadi ranah kita sekarang juga untuk penyelamatan,” terangnya kepada Radar Bogor, Rabu (30/9/2020).

Ia menuturkan, ada kebakaran yang biasanya ditangani langsung oleh warga. Hanya saja, data tersebut tetap tercatat sebagai kejadian kebakaran yang sampai ke meja pos damkar.

Lantaran pencegahan kebakaran sejak dini juga telah sampai ke masyarakat. Bisa dengan proteksi, sosialisasi, hingga pemberdayaan.

Ilustrasi-Kebakaran

Masyarakat dilatih melakukan cara penanggulangan awal, cara pencegahan awal, dan potensi-potensi yang akan menimbulkan risiko bencana untuk meminimalisir kejadian.

“Misalnya, banyak kasus terjadi karena arus listrik. Padahal sebetulnya itu karena kelalaian manusia. Lalu kita edukasi manusianya,” imbuhnya.

Aswinata juga mengakui, masih kerap mengalami kendala tersendiri dalam menangani kebakaran di lapangan. Kendala klasik di perkotaan misalnya jalanan macet, jalan kecil, hingga pemukiman yang padat.

Hidrant air di wilayah perkampungan juga belum ada. Hal itu memaksa para petugas damkar mengakali sambungan air sangat panjang.

Relawan Kebakaran sjuga sudah mulai dibentuk oleh damkar di setiap RT dan RW. Damkar juga menggandeng komunitas-komunitas seperti ormas atau yang lainnya. Adanya pasukan tambahan itu sangat membantu dalam membuka akses jalan.

“Kalau melihat standarnya, kebutuhan armada kita juga masih kurang. Seharusnya minimal satu mobil kecil dan dua mobil besar di pos masing-masing. Sementara baru sembilan armada yang dimiliki di Kota Bogor,” pungkasnya. (mg1/mg2/mg3)