Memaknai Kemerdekaan di Tengah Pandemi

Asep Saepudin

BOGOR – RADAR BOGOR, “Merdeka atau mati?”, itulah pekik semboyan yang selalu diteriakkan oleh para pejuang kemerdekaan di masa perang melawan penjajah. Pekikkan semboyan “merdeka atau mati” mengobarkan semangat para pejuang di medan juang.

“Merdeka atau mati” bermakna bahwa rakyat Indonesia tidak mau menyerah walaupun dia akan mati melawan penjajah dalam peperangan tersebut. Pekik kemerdekaan tahun 1945 meninggalkan jejak-jejak sejarah pada bangsa ini. Slogan-slogan heroik senantiasa menyertai seiring dengan perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan.

Kini jelang peringatan HUT RI ke-75 negeri kita tercinta, Indonesia tengah tertatih-tatih untuk bangkit dalam perang menghadapi wabah pandemi Covid-19 yang menggerogoti bumi pertiwi. Ya, wabah ini benar-benar berpengaruh besar bagi negeri ini. Fokus perhatian pemerintah pun tertumpah pada penanganan wabah ini.

Pandemi Covid-19 tergolong dalam kategori penyakit baru dengan nama lainSARS-CoV-2. Penyakit ini disebut Emerging Infectious Disease (EIDs), yaitu Penyakit yang muncul dan menyerang suatu populasi untuk pertama kalinya, atau telah ada sebelumnya namun meningkat dengan sangat cepat, baik dalam hal jumlah kasus baru di dalam suatu populasi atau penyebarannya ke daerah geografis yang baru.

Pandemi Covid-19 tak hanya berdampak pada ekonomi dan prilaku sosial, namun juga berdampak pada penderita penyakit menular lama. Misalnya, penderita TBC  enggan berobat ke pusat kesehatan karena khawatir terinfeksi virus corona.

Akibatnya, mereka berisiko putus obat, padahal obat TBC harus diminum selama 6 bulan. Tim Pakar Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Dewi Nur Aisyah mengatakan, “Jangan sampai mencegah penyakit emerging seperti Covid-19, tapi memperparah penyakit lain yang sudah diidap sebelumnya”.

Saat ini, pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia tengah berjuang untuk mencapai kemerdekaan. Merdeka dari serangan Wabah Covid-19 adalah sebuah keniscayaan yang wajib dtegakkan. Karena jika jasmani bangsa ini sudah sehat, maka jiwa pun akan kuat, sehingga akan mudah melangsungkan perjuangan membangun mentalitas manusia di bumi nusantara tercinta ini. Sebagaimana pepatah mengatakan, “di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat”.

Maka, pekikkan “merdeka atau mati” harus tetap digelorakan dan terpatri kuat dalam setiap jiwa manusia di negeri ini. Jangan hanya sebatas slogan belaka. Karena kalau melihat realitas saat ini, seiring perjalanan waktu, ternyata slogan itu hanya ada di film zaman dulu, yang sering disebut film perjuangan.

Di dunia nyata, kata-kata itu hanya menghias mural yang ada di bawah jembatan penyeberangan, hiasan gapura atau tembok-tembok pagar bangunan umum untuk penghias perayaan hari ulang tahun kemerdekaan.

Tentu hal ini sangat memprihatinkan dan tidak boleh dibiarkan larut dalam keadaan tersebut selamanya. Harus selalu diperjuangkan membangun mentalitas seorang pejuang. Karena sejatinya perjuangan itu tidak terhenti pada saat diproklamirkannya kemerdekaan.

Lebih jauh lagi dari itu, proklamasi kemerdekaan merupakan babak baru dimulainya perjuangan berikutnya untuk mempertahankan dan mengisi eksistensi kemerdekaan yang sejati. Merdeka dari kebodohan dan keterbelakangan. Merdeka dari mental kolonialisme dan imperialisme di negeri sendiri. Mental yang mengedepankan kepentingan kekuasaan pribadi atau golongan di atas kepentingan bangsa sendiri.

Pilihan merdeka adalah pilihan rasional yang selama ini memang hidup di tengah-tengah masyarakat. Bahkan, nilai-nilai kemerdekaan itu justru pilihannya ada pada kata merdeka itu sendiri. Pekik “merdeka atau mati” ini sekarang menjadi normatif dan nostalgik, terutama bagi mereka generasi millenial di zaman now ini.

Mereka memahami pekik merdeka sebagai hasil proses kognisi dalam mempelajari sejarah, sedangkan “rasa” pekik merdeka itu sudah sayup-sayup mencapai dawai rasa.

Dikatakan “normatif” karena terkesan datar-datar saja, tidak ada implementasi yang menunjukan gregetnya sama sekali, sehingga bermakna bias. Sedangkan, dikatakan “nostalgik” karena hanya menimbulkan kesan nostalgia yaitu sekedar mengenang memori masa lalu saja, tanpa pengaplikasian atau aksi nyata sebagai perwujudan mengisi kemerdekaan yang sesungguhnya.

Kendatipun demikian, memang mengenang dan bernostalgia dengan menghadirkan film-film perjuangan dan mengajarkan nilai-nilai sejarah sangat penting untuk membangkitkan gairah nasionalisme yang mulai luntur di zaman modern ini.

Agar setiap anak bangsa tidak larut tergerus arus globalisasi yang kebablasan sehingga melupakan nilai-nilai penghargaan terhadap para pejuang kemerdekaan. Bukankah bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu menghargai sejarah perjuangan bangsanya?

Merdeka atau mati? Jawabannya merdeka, jangan biarkan bangsa ini mati diterkam ganasnya pandemi Covid-19. maka bangsa ini harus tetap semangat dan kompak dalam melawan pandemi Covid-19.

Dirgahayu ke-75 tahun negeriku, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jayalah selalui wahai Indonesiaku. Tetap patuhi protokoler kesehatan untuk Indonesia makin maju, merdeka dan bebas dari jajahan wabah pandemi Covid-19. (*)

* Asep Saepudin

(Sekretaris Pusat Kajian Gender, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Visi Nusantara Maju)