BOGOR–RADAR BOGOR, Sudah hampir tiga pekan Stasiun Bogor menerapkan jam operasional tambahan bagi para penumpangnya.
Sejak saat itulah, setiap Senin tidak lagi mengalami kepadatan antrean yang cukup berarti di Stasiun Bogor.
Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek, Aca Mulyana mengatakan, meskipun belum ada penambahan kapasitas pada tiap kereta yang berangkat dari Stasiun Bogor, dengan dimajukannya jam operasional kereta membuat penumpang lebih terurai.
’’Jam operasi kan dimajukan, yang biasanya mulai 4.30 WIB, sekarang pukul 3.40 sudah dua rangkaian jalan. Sehingga penumpang yang berangkat awal sudah naik yang pukul 3.40,” kata Aca kepada Radar Bogor.
Selain karena jam operasional yang dimajukan, sepinya penumpang di Stasiun Bogor setelah pukul 05.00 juga karena penambahan jumlah rangkaian kereta.
Akan tetapi dengan kondisi itu, bukan berarti BPTJ menghilangkan bantuan bus gratis bagi masyarakat.
Hari ini Senin (10/8/2020), BPTJ menyiapkan 62 bus bantuan gratis untuk para penumpang komuter.
’’Tetap bus bantuan kita siapkan karena kita masih khawatir juga masyarakat masih penuh di KRL, jadi tetap kita sediakan bus. Dari Bogor sekitar 52 bus. Stasiun Bogor 42 bus dan sepuluh bus dari DAMRI,” sambungnya.
Di bagian lain, ada bus berbayar yang sudah mulai beroperasi hingga saat ini. Yakni Jabodetabek Residence Connexion atau JR Connexion.
Namun sayangnya, hingga kini Perusahaan Umum Pengangkutan Penumpang Djakarta (Perum PPD) belum merilis seberapa efektif bus berbayar itu.
’’Kita belum dapat laporan dari perkembangannya gimana, Selasa–Jumat lalu itu penumpangnya gimana, belum dapat laporan,” tambahnya.
Sebelumnya, Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ), Polana B. Pramesti menyatakan bahwa pihaknya sudah merumuskan beberapa hal terkait kebijakan bantuan transportasi untuk masyarakat Kota Bogor yang ke Jakarta.
Salah satunya pengurangan secara bertahap layanan bus gratis bagi pengguna KRL hingga Desember 2020. Bus gratis tetap dipertahankan hingga akhir 2020, namun keberadaanya secara bertahap akan dikurangi.
Langkah ini terutama untuk mengakomodir kelompok masyarakat yang sangat bergantung pada KRL karena kemampuan finansial yang terbatas.
’’Manakala mereka tidak tertampung sarana KRL karena keharusan penegakan protokol kesehatan. Pengurangan bus dilakukan dengan tetap mempertimbangkan dinamika kondisi yang terjadi,” kata Polana.(dka/c)