Beranda Bogor Raya Petani Cariu dan Tanjungsari Butuh Normalisasi Sungai Cibeet-Cikumpeni

Petani Cariu dan Tanjungsari Butuh Normalisasi Sungai Cibeet-Cikumpeni

lahan pertanian
Lahan sawah di Cariu dan Tanjungsari butuh pasokan air.

CARIU–RADAR BOGOR, Beberapa pekan terakhir, pada malam hari suhu udara terasa dingin. Perubahan iklim tersebut, dianggap akan berdampak terhadap pertanian. Kasi Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Bogor Hadi Saputra mengungkapkan, perubahan musim hujan ke kemarau telah dimulai.

Berdasar hasil pantau, kata dia, puncak musim kemarau akan terjadi di pertengahan Agustus sampai September 2020 ini. “Ini sudah masuk kemarau,” ucapnya kepada Radar Bogor.

Dia mengimbau, para petani di Kabupaten Bogor dapat melakukan berbagai persiapan. Menurutnya, saat ini petani harus bijak dalam penggunaan air untuk lahan sawah. Tak dapat dimungkiri, wilayah timur Kabupaten Bogor menjadi salah satu kawasan yang terdampak musim kemarau.

universitas-nusa-bangsa

“Air. Ini yang terpenting untuk menghadapi musim kemarau. Kami memang sangat membutuhkan itu (air),” ucap Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pertanian XII Wilayah Cariu- Tanjungsari, Tatang Mulyana, kemarin.

Dia menjelaskan, masa panen di Kecamatan Cariu dan Tanjungsari terjadi setiap tiga bulan sekali. Pihaknya mencatat, total luas lahan sawah di wilayahnya sekitar 6.000 hektare. Sedangkan, yang baru masuk ke tahap panen sekitar 32,30 hektare di Desa Sirnarasa.

Menyikapi kondisi perubahan musim, menurut dia, solusi terbaik adalah normalisasi Sungai Cibeet dan Cikumpeni karena dapat mengairi lima desa diantaranya Sirnarasa, Sirnasari, Tanjungsari, Tanjungrasa, dan Pasirtanjung.