BOGOR-RADAR BOGOR, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (RI), Nadiem Makarim melakukan kunjungan ke beberapa sekolah yang ada di Kota Bogor.
Ada empat sekolah di Kota Bogor yang dikunjungi oleh Nadiem. Pertama Nadiem akan berkunjung ke SDN Polisi 1, SMP Regina Pacis, SMP Al Ghazali, dan SMP Muhammadiyah.
Untuk pertama, Nadiem datang ke sekolah SDN Polisi 1 yang berada di Jalan Paledang, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor dengan di dampangi oleh Walikota Bogor, Bima Arya Sugiarto.
Nadiem langsung melakukan pemantauan terhadap guru-guru yang sedang melakukan pembekalan kepada murid-murid melalui pembelajaran jarak jauh (PJJ). Tak lupa Nadiem juga menyapa murid-murid yang sedang mengikuti pembelajaran jarak jauh.
Setelah melakukan pemantauan, Nadiem langsung menerima curhatan dari beberapa guru.
“Saya ingin mengingatkan saja beberapa hal dari kemendikbud. Sebenarnya relaksasi dana bos.
Misalnya insyaalah tidak lagi zona merah atau oranye atau kuning bisa tatap muka. Jadi bisa digunakan untuk itu juga,” ujarnya kepada para guru-guru
Kedua, lanjut Nadiem, untuk memastikan bahwa memberikan legalitas pada guru guru untuk menyederhanakan kurikulumnya sendiri. Sudah banyak guru seperti sekolah di SD Polisi 1. Tapi banyak juga guru guru yang masih ragu ragu.
“Jadi itu salah satu PR kita. Dalam waktu dekat kita akan mengedepankan penyederhanaan kurikulum atau bisadiktakan kurikulum darurat,” ucapnya.
Dan yang terakhir, adalah memastikan agar semua adapatasi ke teknologi ini. Pada saat tatap muka tapi kita masih kenal teknologi, masih bisa menggunakan teknologi dalam berbagai macam.
Walaupun dalam hati saya tidak ingin PJJ. Saya ingin anak kembali tatap muka. PjJ ini bukan kebijakan pemerintah, kita terpaksa. Karena pilihannya ada pembelajaran atau tidak ada pembelajaran sama sekali karena ada krisis kesehatan. Jadi PJJ ini bukan yang diinginkan sama sekali,” katanya.
“Kita ingin secepat mungkin tapi dengan kesehatan terjaga anak anak ini kembali k sekolah. Karena tidak adan yang bisa, trman trman guru di sini tahu, tidak ada yang bisa menggantikan interaksi tatap muka. Di situlah kita bisa melihat emosi anak, di situlah kita bisa merasakan energidia, ikhlas. Ketika di sekolah di lagi sedih, senang, dia tidak mengerti, kita lebih sensitif tatap muka,” pungkasnya. (adi/pojokbogor)