CIBINONG – RADAR BOGOR, Pembelajaran secara daring atau online mendapatkan banyak kendala, baik dari segi fasilitas maupun jaringan.
Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bogor, berupaya mencari metode lain sebagai solusi bagi masyarakat yang tak bisa mengakses daring.
Kepala Disdik Kabupaten Bogor, Entis Sutisna menegaskan, belum ada pembukaan sekolah selama pemberlakuan PSBB.
Mereka juga mengacu pada SKB empat Menteri yang tidak memperbolehkan sekolah kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka.
Hanya saja, pihaknya tengah menyusun langkah alternatif untuk menyelesaikan persoalan pendidikan di semua wilayah itu.
“Kami rumuskan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), tetapi bukan daring (online) yang dimaksud. Misal, ada tugas kelompok, anak-anak datang belajar ke sekolah 5 hingga 6 orang. Meski hanya satu jam, guru bisa memberikan penjelasan dan tugas di rumah,” bebernya kepada Radar Bogor.
Ia tak menampik, sistem pembelajaran daring memang membuat anak-anak jenuh. Perlu ada upaya lainnya agar anak-anak tetap memperoleh hak pendidikannya. Tentu saja dengan tetap mematuhi standar protokol kesehatan yang berlaku.
Pihaknya tak ingin ada kluster baru dari dunia pendidikan. Lantaran sejauh ini, Entis belum mendapatkan laporan ada elemen pendidikan yang tertular Covid-19.
Upaya untuk mengatasi kendala pembelajaran selama pandemi juga telah dimaksimalkan sebagian besar guru.
Entis mengatakan, banyak guru yang menerapkan pembelajaran doo to door. Hal itu juga perlu mendapatkan perhatian dengan menyusun jadwal dan teknisnya agar tidak berbenturan.
“Makanya supaya tidak semrawut akan kita atur bagaimana sistemnya seragam. Jangan sampai yang (sekolah) ini gerak, sedangkan yang ini belum. Sejauh ini, sekolah masih belum boleh masuk, pembelajaran tatap muka secara langsung. Kalau ada sekolah yang memaksa buka, kita tegur pastinya,” tegasnya.
Upaya PJJ itu juga dipilih Disdik untuk mengatasi keluhan guru-guru honorer di sekolah swasta. Dengan menerapkan “belajar kelompok” di sekolah, guru honorer akan dibayar berdasarkan jam mengajar tersebut.
Salah satu guru, Joko sebenarnya merasa dilema dengan pembelajaran di tengah pandemi ini. Di satu sisi, guru kesulitan mengajar siswa-siswa yang tidak memiliki sumber daya untuk terhubung ke jaringan atau sinyal telepon.
Sedangkan di sisi lain, mereka juga tidak mungkin melakukan pembelajaran tatap muka karena ancaman wabah Covid-19 masih mengintai.
“Sebetulnya sih kurang efektif (dengan metode belajar di rumah). Tapi ya gimana lagi. Mau gak mau ngajar ke rumah. Susah disini sinyal. Masyarakat juga tidak semuanya memiliki handphone. Kalau di kota, mungkin masih bisa diusahakan. Kalau disini sulit. Udah gitu rumahnya juga seperti apa. Boro-boro beli handphone, buat makan aja susah,” ungkap guru asal Kecamatan Babakan Madang ini.
Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Bogor, Syarifah Sopiah mengakui, sekolah-sekolah memang lebih difokuskan untuk belajar dari rumah.
Banyak masyarakat yang meminta agar sekolah dibuka kembali karena kesulitan mengajar anak di rumah. Hanya saja, keputusan pusat maupun provinsi juga belum memperbolehkan dibukanya kembali sekolah-sekolah.
“Karena yang diperbolehkan hanya zona hijau. Kabupaten Bogor masih kuning kalau di nasional. Sementara di Jabar (Jawa Barat) itu oranye. Pada prinsipnya kita belum boleh ya. Kalaupun misal ada yang buka, ada tim dari Disdik nanti yang lihat dulu (sebelum ditegur),” jelas Kepala Bappeda-Litbang itu. (mam)