Pemkot Anggarkan Rp8 Miliar untuk Kelanjutan Pembangunan Masjid Agung

Gedung Masjid Agung Bogor yang belum selesai pengerjaannya. Nelvi/Radar Bogor

BOGOR-RADAR BOGOR, Di tengah pandemi Covid-19, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor akan memprioritaskan proyek pembangunan Masjid Agung yang sempat terbengkalai dan mangkrak.

Wali Kota Bogor, Bima Arya menjelaskan, Pemkot Bogor akan melanjutkan pembangunan Masjid Agung yang kondisinya mangkrak saat ini.

Bima mengatakan akan menganggarkan Rp8 miliar untuk segera dapat memfungsikan Masjid Agung secara utuh, dengan menyelesaikan konstruksi bangunan.

Dalam sambutannya, Bima Arya mengatakan bahwa pembangunan Masjid Agung yang tertunda akibat ulah oknum yang tidak amanah.

“Masjid impian kita ini memang sudah tertunda beberapa tahun. Saya harus sampaikan bahwa karena ulah oknum yang tidak amanah, sehingga terjadilah seperti ini. Mari kita doakan kepada oknum yang tidak amanah itu diberikan hidayah oleh Allah SWT,” ungkap Bima usai membuka Rapat Kerja IV Dewan Kemakmuran Masjid Agung Kota Bogor di Gedung PPIB, Jalan Raya Pajajaran, Bogor Timur, Rabu (22/7/2020).

Bima Arya juga mengucapkan terima kasiha kepada para pengurus, khususnya Ketua DKM Masjid Agung Dede Supriatna, yang sampai detik ini masih terus bersabar menghadapi berbagai macam cobaan dengan segala keterbatasannya masih terus beristiqomah.

“Seperti Ustadz Dede sampaikan tadi, penundaan ini Insya Allah ada hikmahnya sehingga kita akan mendapatkan sistem yang lebih baik. Kita tidak pernah tahu skenario Allah untuk kita semua secara pasti. Yang menurut kita tidak baik, mungkin saja ternyata paling baik. Yang menurut kita baik, mungkin belum tentu. Mudah-mudahan kita berharap kita diberikan terbaik oleh Allah SWT untuk Kota Bogor,” ujarnya.

Bima menyebut, satu fase yang sangat penting telah dilewati, di mana hasil kajian dari Kementerian PUPR menunjukan ada sejumlah struktur bangunan yang harus dikuatkan lagi agar pembangunan tahap selanjutnya bisa mulai dikerjakan kembali.

“Masjid ini kan ternyata pembangunannya bermasalah dalam hal konstruksinya. Jadi kalau dilanjutkan tidak aman. Ada kesalahan-kesalahan di masa lalu. Setelah dikaji, kemudian kita mendapatkan rekomendasi, kita tahu apa yang harus dikerjakan, kita tahu apa yang harus diperbaiki. Ini yang paling penting karena tidak mungkin bisa beribadah dengan tenang ketika konstruksinya pun tidak aman. Dinas PUPR sudah mengerjakan itu,” jelasnya.

Bima Arya juga menyampaikan keinginannya agar Masjid Agung ini terintegrasi dengan Alun-Alun yang akan dibangun di lahan eks Taman Topi.

“Kami ingin itu menjadi satu nafas, satu irama, satu warna. Desain masjidnya harus bisa menyimbolkan menjadi ikon Kota Bogor, simbol perjalanan syiar Islam di Kota Bogor, simbol kebangkitan Islam dan sejarah Islam juga di Kota Bogor dari masa ke masa,” ungkapnya.

Menurutnya, konsep desain yang dipaparkan Pengurus DKM Masjid Agung sudah sangat baik. Namun, karena perencanaan Alun-alun anggarannya dari Provinsi Jawa Barat yang berbeda dengan Masjid Agung, sehingga harus dipastikan prosesnya berjalan satu irama.

“Karena ini perencanaan yang berbeda, antara masjid dan alun-alun yang coba disatukan. Alun Alun ini sebetulnya sudah ada desainnya, karena ini bantuan dari Provinsi. Jadi skenario terbaik adalah izinkan saya melobi pak Gubernur, apabila anggaran diturunkan tahun depan, kita ingin desainnya menyesuaikan. Tentunya setiap perkembangan nanti akan dikomunikasikan kepada pengurus DKM agar selalu update,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Bogor, Chusnul Rozaqi mengatakan, saat ini masih menunggu rekomendasi dari Kementerian PUPR terkait masalah penguatan struktur, untuk menyelesaikan penyelesaian atap yang strukturnya terpisah dari yang sudah ada.

Kemudian, kata dia, sebelum melanjutkan proyek tersebut akan dilelangkan terlebih dahulu untuk perencanaan redesingnya. Saat ini, Dinas PUPR akan mendetailkan hingga menentukan kebutuhan anggaran.

“Nanti redisgn apa saja yang dibutuhkan dan tahapannya itu yang kita masih lakukan, sebenarnya kalau melihat kondisi seperti ini paling lama dua tahun selesai. Artinya itu tergantung dari kemampuan APBD Kota Bogor. Kalau saya sih inginnya ini segera selesai, karena ini kan sangat dibutuhkan oleh masyarakat disana ya kurang lebih kan mangkrak selama empat tahun,” ucapnya.

Chusnul menjelaskan, pembangunan Masjid Agung akan disinergikan dengan konsep Alun-alun Kota Bogor sama dengan masjid itu sendiri, sehingga konsep kedepan saling mengisi.

“Konsep berubah yang tadinya konsepnya terpisah sekarang kita padukan antara Alun-alun Kota Bogor dengan Masjid Agung,” katanya.

Intinya, kata dia, dalam melanjutkan pembangunan Masjid Agung tersebut, nantinya tak perlu melakukan pembongkaran secara keseluruhan. Hanya saja tinggal melakukan penguatan struktur yang ada.

Di tempat yang sama, Ketua DKM Masjid Agung Dede Supriatna, menyambut baik gagasan Pemkot Bogor terkait keselarasan antara Alun-Alun dan Masjid.

“Saya kira ini baik. Ibarat masjid adalah rumah, maka Alun-Alun itu sebagai halamannya menjadi satu kesatuan yang utuh,” ujar Dede.

“Jadi, tidak hanya memperhatikan kapasitas, tetapi estetikanya juga. Yang tak kalah penting konstruksinya harus kokoh sehingga beribadah nyaman dan aman. Faktanya Masjid Agung ada di tengah keramaian, sentra ekonomi ada pasar dan stasiun sehingga kehadiran Masjid Agung sangat dibutuhkan dan diharapkan bisa menjadi penyejuk,” jelasnya.

Selama pembangunan, kata Dede, DKM akan berkoordinasi dengan Dinas PUPR terkait titik mana saja yang masih bisa dimanfaatkan warga untuk beribadah, di sisi lain pembangunan bisa terus berjalan.(ded/c)