CIBINONG-RADAR BOGOR, Selama ini cabang olahraga Taekwondo identik dengan cabor yangk Komitmen dalam pembinaan talenta lokal putra daerah Kabupaten Bogor.
Tak hanya itu, Cabor ini dinilai sangat konsisten memberikan banyak medali emas bagi Kontingen Kabupaten Bogor di Porda Jabar ataupun event lainnya.
Pola Pembianaan yang dilakukan jajaran pengurus dan pelatih Taekwondo Kabupaten Bogor saat ini telah menjadikan Kabupaten Bogor sebagai kiblat olahraga taekwondo di tanah air khususnya di Jawa Barat.
Terbukti, beberapa atlet Taekwondo Kabupaten Bogor selama ini silih berganti jadi bagian tulang punggung Timnas Taekwondo Merah Putih di berbagai event Internasional.
Namun, jelang Porda Jabar 2022 di Tasuba, tiba – iba alarm kencang datang dari Pengcab TI Kabupaten Bogor.
Itu lantaran sejumlah atlet terbaiknya yang saat ini ada di Pelatda PON Jabar sudah diiming-imingi oleh daerah lain yang menjanjikan kesejahteraan dan angin segar buat para atlet TI Kabupaten Bogor jika ingin pindah ke luar dari Kabupaten Bogor. Kondisi ini jelas membuat dilema para pengurus TI Kabupaten Bogor.
“Kami mau bicara apa kepada para atlet. Karena kami juga belum bisa memberikan yang terbaik kepada para atlet dalam hal kesejahteraan” ujar Wildan, Binpres TI Kabupaten Bogor kepada radarbogor.id Selasa (21/7/2020).
Wildan membenarkan, atlet atlet terbaiknya saat ini banyak yang minta pindah ke daerah lain. “Ya, kami mau bilang apa. Pengcab sangat terbatas soal anggaran. Pengcab mah timana atuh duit na selain dari KONI,” bebernya.
Ia pun berharap, KONI harus bisa membedakan antara Anggaran Operasional Pengcab dengan Anggaran Pembinaan atlet ataupun Anggaran Bantuan Prestasi (Buat para atlet potensial dan berprestasi).
Dimana, saat ini semua pengurus, pelatih dan atlet TI Kabupaten Bogor hanya menyisakan loyalitas dan totalitas serta harga diri demi nama baik dan harum Kabupaten Bogor dikancah olahraga daerah, nasional dan internasional.
“Semua uang dari KONI, kami gunakan untuk pembinaan buat atlet muda karena ada latihan jangka panjang, buat atlet yang dipelatda dan untuk kegiatan reguler seperti Ujian Kenaikan Tingkat, Diklat dan lainnya. Uang yang dari KONI tidak dimakan oleh pengurus TI, semuanya untuk program kegiatan yang sudah kami rancang secara berjenjang sebagaimana sudah disusun dari hasil Rapat Kerja Pengurus dengan para Pelatih Unit se-Kabupaten Bogor,” tegas Wildan.
Daerah lain, sambung Wildan, ada yang memberikan anggaran bantuan prestasi sekitar Rp2 sampai Rp5 juta buat para atlet berprestasi.
“Sementara kami hanya bisa memberikan uang pembinaan jauh lebih kecil dari uang pembinaan yang diberikan kepada para atlit dari daerah lain,” tuturnya.
“Karena uang pembinaan yang disertakan dari KONI kami gunakan untuk menjalankan program-program yang telah disusun bersama, bahkan karena kegiatan/program lebih banyak dibanding dengan Dana dari KONI terkadang Pengurus harus sampai mengeluarkan kocek sendiri hanya demi pembinaan dan kecintaan terhadap faerah” paparnya.
Ia merasa miris dengan kondisi ini, karena sampai sekarang tidak ada sentuhan magis yang biasanya bisa menahan atlet unggulan tersebut seolah-olah hanya harapan hampa. Karena harapan Pengcab kepada KONI untuk sinergis dalam pembinaan dan prestasi seolah bertepuk sebelah tangan dalam Implementasinya.
“Ribuan aksi dengan hasil seribu bukti belum bisa menjadi perhatian yang serius, sehingga harapan untuk menciptakan keharmonisan antara perjuangan dengan prestasi yang bisa membanggakan daerah belum dirasakan secara penuh, terutama bagi para putra daerah yang telah berjuang,” tuturnya.
Lebih lanjut, kata Wildan, biaya pembinana cabor dengan pembinaan atlet berprestasi merupakan hal yang berbeda tapi menjadi satu kebutuhan yang tidak bisa dipisahkan.
Pembinaan cabor akan berdampak dalam mencetak atlet binaan prestasi, dan pembinaan atlet prestasi untuk meningkatkan loyalitas dan penghargaan akan kebanggaan daerah yang dibela dalam olahraga bagi atlit yang berprestasi. Apalagi notabenenya atlet tersebut adalah atlet putra daerah asli.
Disamping itu, uang pembiaan yang diberikan kepada cabor yang jelas pembinaannya, jelas latihannya, jelas atletnya dan jelas prestasinya selama ini tentunya jangan di samakan dengan cabor lainnya yang masih vakum dalam pembinaan.
“Taekwondo dan beberapa cabang olah raga lainnya telah memberikan bukti eksistensinya. Tentunya jangan dihilangkan sejarah tersebut dan jangan pula disamakan dengan cabang olahraga yang tidak memiliki program pembinaan,” ujarnya.
Harus dipahami, selama ini atlet TI Kabupaten Bogor yang terjun dalam Porda Jabar adalah atlet binaan sendiri dan 100 persen atlet lokal Kabupaten Bogor.
“Setidaknya Taekwondo diberikan dana pembinaan yang layak sebagaimana program kegiatan pertahun telah berulang kali kami sampaikan ke KONI. Perihal prestasi dan loyalitas Taekwondo untuk Kabupaten Bogor tak perlu diragukan,” imbuhnya.
“Hal ini saya sampaikan semata-mata hanya untuk kebaikan seluruh cabang olah raga prestasi pada umumnya dan cabang olahraga Taekwondo khususnya, bukan untuk kepentingan pribadi atau golongan akan tetapi untuk nama daerah Kabupaten Bogor,” tambahnya.
Sementara itu, Wakil Ketua II KONI Kabupaten Bogor Wawan Darmawan mengatakan, pihaknya lambat dalam mengeksekusi program insentif kesejahteraan atlet dan pelatih perbulan dari KONI yang terpisah atau berbeda dari pembinaan cabor – cabor.
“Saya sudah menyiapkan draftnya dan sudah didiskusikan dengan seluruh jajaran pengurus KONI. Masalahnya terbentur ketersediaan anggaran KONI tidak cukup” beber Wawan Darmawan.
Namun Wawan mengatakan, progress akan tetap dilanjut menunggu untuk direalisaikan usulan anggaran dana hibah KONI pada rapat anggaran perubahan TA 2020. “Mudah-mudahan usulan anggarannya tidak dicoret lagi oleh TAPD dan Banggar DPRD,” tegasnya.
Lebih lanjut, kata Wawan, yang sangat darurat, saat ini adalah perhatian KONI dan Pemkab Bogor untuk atlet berprestasi dari beberapa cabor asal KONI Kabupaten Bogor yang ada di Pelatda PON Jabar. (all)