BOGOR-RADAR BOGOR, Keselamatan tenaga medis saat ini memang sedang dipertaruhkan karena penyebaran virus corona yang masuk ke Indonesia sejak Maret lalu.
Tapi di Bogor, keselamatan tenaga pendidik dan juga generasi penerus bangsa juga masih banyak yang terancam karena kondisi sekolah yang rusak.
Menjadi rumah kedua bagi Presiden Joko Widodo. Tidak menjamin pendidikan di Bogor terdepan. Hal itu terlihat dari masih banyaknya sekolah rusak yang berada tidak jauh dari Istana Presiden.
Hanya berjarak 9 km atau 22 menit saja dari istana, nampak jelas betapa rusaknya bangunan SDN Ciapus 7. Tampak seperti gudang atau bangunan-bangunan yang ada di film-film horor.
Bangunan sekolah yang hanya memiliki empat guru honorer itu mengancam keselamatan anak didiknya.
Atap dan tembok sekolah sudah sangat rawan ambruk. Berbanding terbalik dengan SDN Ciapus 5 yang berdiri kokoh tepat berada di samping SDN Ciapus 7.
Selain bangunan yang rusak berat, SDN Ciapus 7 pun tidak dilengkapi dengan toilet. Guru sempat mengakali sudut lokasi untuk membuat toilet, tapi tidak maksimal karena sumber air tidak ada.
Sehingga warga sekolah terpaksa harus ke sungai jika ingin buang air.
Menurut pengakuan orangtua murid, yang dikutip dari laman Facebook Pembina Kopel, Syamsudin Alimsyah, bila sudah ada tanda-tanda cuaca buruk atau hujan, mereka semua berlarian ke sekolah menyelamatkan anak-anak.
“Ada dua yang ditakuti orangtua, yaitu keselamatan anaknya jika sewaktu-waktu sekolah ambruk,” tulisnya.
Kedua yaitu khawatir anak terpeleset di sungai karena licin dan terjal. Makanya, anak-anak selalu diingatkan dan diawasi untuk tidak ke sungai sendirian. Tapi harus ditemani dengan rekannya yang lain.
Hanya saja, semua warga sekolah masih bersyukur, kejadian-kejadian yang dikhawatirkan tidak terjadi. Sudah beberapa kali genteng jatuh saat belajar, tapi tidak ada korban.
“Yang di sungai juga, anak-anak ada yang pernah kepeleset tapi masih bisa teratasi,” bebernya.
Ia berharap, pemerintah memperhatikan keadaan SDN Ciapus 7. “Mudah-mudahan bisa segera di rehab demi keselamatan anak dan guru,” tandasnya.
Rusaknya SDN Ciapus 7 terbilang lama. Kepala SDN Ciapus 7, Didi Mulyawijaya yang baru menjabat empat tahun lalu menjelaskan bahwa sejak dirinya pindah saja, kondisi sekolah sudah rusak.
Namun semakin parah sejak tahun ajaran 2019-2020 atau pertengahan tahun lalu. Dirinya terpaksa menggunakan sisa kelas yang masih dalam kondisi layak. Meski sama-sama mengkhawatirkan.
Beruntung, semenjak pandemi Covid-19, tidak ada Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah tersebut. Para murid belajar secara daring meskipun berbagai kendala sering kali ditemui.
Memasuki tahun ajaran baru, Didi mengatakan hanya mendapat pendaftar dua murid. Itupun di tunda tahun depan.
Pernah dirinya mengajukan ke Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor untuk meminta perbaikan dan peningkatan sarana prasara di sekolahnya. Namun hingga kini dirinya hanya bisa menunggu balasan dan berharap segera mendapatkan jawaban.
Dirinya pun pernah mengajukan untuk melakukan merger sekolah, yakni menggabungkan SDN Ciapus 07 dengan 05.
Karena menurutnya hal itu merupakan pilihan alternatif mengingat semakin berkurangnya minat warga bersekolah di SDN Ciapus 07.
“Jika tidak bisa merger, maka saya berharap segera direnovasi sebelum sistem KBM kembali normal,” tandasnya.
Sementara itu, rehabilitasi bangunan sekolah di SDN Ciapus 7 belum menjadi prioritas dalam Musrenbang Kecamatan Ciomas. Kepala Desa Ciapus meminta pihak sekolah mengajukan langsung ke Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor.
“Saya telah menyarankan pihak sekolah untuk mengajukan ke Dinas Pendidikan, adapun kalau di Musrenbang Kecamatan dibahas namun untuk pembangunan gedung tidak dijadikan prioritas,” ungkap Kades Ciapus, Pendi Bin Asim kepada Radar Bogor, kemarin.
Menurutnya, pembahasan di Musrenbang untuk sekolah tersebut hanya sebatas sarana dan prasarana. Namun bukan untuk rehabilitasi bangunan sekolah.
Sementara untuk sarana air bersih, Kades meneruskan, ada beberapa pihak yang ingin membantu membangunkan namun sampai saat ini belum ada tindak lanjut.
“Kemarin berbicara dengan warga untuk dibuatkan MCK di dekat sungai. Karena membutuhkan biaya yang lumayan besar untuk menaikan air ke sekolah,” tuturnya. (cr2/c)