Beranda Lifestyle PSBB, Perempuan di Bogor Bisa Tetap Cantik

PSBB, Perempuan di Bogor Bisa Tetap Cantik

 

Dr Annisa Hadiwinata menangani salah satu kliennya yang melakukan perawatan di klinik kecantikannya

BOGOR- RADAR BOGOR, Meski belum dinyatakan aman dari covid, tapi semangat  bangkit harus ada. Wabah yang melanda harus dilawan dengan rasa percaya. Semua sektor usaha sudah pasti terdampak wabah ini. Dari mulai yang kecil, sampai yang menjadi kebutuhan primer masyarakat urban.

Tak terkecuali bagi para pengusaha perawatan kecantikan. Covid yang menular lewat kontak lansung menjadikan bisnis ini padam seketika. Termasuk untuk Annisa Hadiwinata. Pemilik usaha kecantikan The Aesthetics Bogor ini kemudian sedikit mengeluh dengan kondisi pandemi.

Semua operasional tutup, baru pada 1 Juni lalu, kliniknya kembali dibuka. Namun semua itu untuk mengurangi resiko penularan covid semakin masif. Tiga bulan berjalan tanpa pemasukan, Annisa mengaku harus bangkit. Bangkit dari segala keterpurukan, dan bangkit untuk meningkatkan hasrat dengan kebiasaan baru dan protokol kesehatan.

radarbogor universitas terbuka

“Kita kaget sama perubahan ini, pasti. Kita punya panduan dan konsensus kementerian untuk bagaimana seharusnya sesuai dengan prosedur. Kita harus matangkan dulu SOP-nya. Itu yang paling sulit untuk masa pandemi ini,” kata wanita yang akrab disapa Icha ini.

Sesulit apapun, mau tak mau, adaptasi ini yang harus dibiasakan untuk mulai bangkit. Bukan hanya adaptasi dokter dan perawat, namun juga dengan pasien kecantikan yang ada. Belum tentu, kata Icha, semua pasien bisa beradaptasi dengan tampilan ala covid bagi dokter atau perawat.

Terutama dengan protokol kesehatan yang harus dijalani. Di kliniknya, Icha mengaku sudah menerapkan itu saat ini. Dari mulai menggunakan masker, mencuci tangan, ukur suhu, semua standar itu terus dijalani. Bahkan para pasien yang datang tidak boleh didampingi. Kalaupun perlu, hanya bisa satu orang.

“Mereka juga harus mengisi form. Di mana hal itu untuk deteksi dini covid. Nah, jadi sebelum pasien masuk ke ruangan perawatan, harus ada persetujuan dokter dulu. Bisa diterima atau tidak pasien itu. Jika tidak ada risiko (covid), pasien dipersilahkan,” papar Icha.

Selain itu, lanjut Icha, kliniknya juga harus mengurangi kapasitas pasien yang datang. Sebelum pandemi, Icha mengaku jumlah pasien dalam sehari bisa lebih dari 10 pasien. Tak hanya jumlah pasien yang terbatas, waktu treatment juga mau tak mau dikurangi.

Tak sampai di situ, jumlah ruang perawatan bahkan dikurangi semaksimal mungkin. Saat ini hanya ada dua ruangan yang siap digunakan. Semua memang berubah, namun ini merupakan salah satu cara untuk kembali menggairahkan bisnis kecantikan. Ditambah saat ini perawatan kulit seolah menjadi tren bagi masyarakat di kota metropolitan seperti Kota Bogor.

“Kita sudah hampir 2,5 bulan tutup. Kita mengolah semua cara, tapi kemarin di rumah saja juga tidak membuat keadaan semakin membaik. Walaupun kita tetap menerapkan home care bagi masyarakat sampai saat ini. Itu untuk menyelamatkan bisnis dan pasiennya juga,” pungkasnya. (dka/c)