Beranda Metropolis Ratusan Karyawan Garmen di Tajur Terancam PHK, Kebun Raya Kurangi Pekerja

Ratusan Karyawan Garmen di Tajur Terancam PHK, Kebun Raya Kurangi Pekerja

Suasana pintu masuk Kebun Raya Bogor

BOGOR-RADAR BOGOR,  Pekerja yang di rumahkan dan yang mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibat dampak dari pandemi Covid-19 di Kota Bogor semakin meluas.

Seperti yang dialami para pekerja di Kebun Raya Bogor (KRB) dan sebuah perusahaan garmen raksasa di bilangan Tajur Kota Bogor.

Dari informasi yang diterima Radar Bogor,  KRB sudah mulai merampingkan karyawan-nya. Sementara perusahaan garmen baru akan melakukan PHK pada September 2020 mendatang.

radarbogor universitas terbuka

Dikonfirmasi, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kota Bogor, Elia Buntang membenarkan hal itu.

Dia mengatakan perusahaan garmen yang berlokasi di bilangan Tajur, Bogor Timur memang sedang merencanakan PHK terhadap ratusan karyawannya.

“Kalau (pandemi corona) masih berkepanjangan, akan dilakukan pada September,” ujar Elia kepada Radar Bogor.

Pihak perusahaan dan karyawan kata dia, sudah mencapai kesepakatan akan rencana PHK. Hanya saja belum ada putusan sebelum kondisi pandemi membaik.

Dalam kesepakatan itu tertuang hak – hak karyawan yang harus diberikan perusahaan.  Jika PHK terjadi, produksi salah satu perusahaan ternama di Kota Bogor itu juga bakal berkurang.

Hanya akan ada tersisa bagian produksi pemintalan benang saja. Produksi lainnya sudah tidak jalan.  “Sekarang kan tidak beroperasi, ordernya tidak jalan. Tapi kan kita tidak berharap seperti itu (PHK),” imbuh dia.

Dari data Disnakertrans Kota Bogor jumlah pekerja yang di PHK selama pandemi Covid-19 masih tetap berada di angka 636 orang yang berasal dari 295 perusahaan.

Sementara, ada 3.050 karyawan yang  masih dirumahkan.  “Kalau KRB kami belum mendapatkan pemberitahuan,” bebernya.

Di konfirmasi terpisah, Humas KRB Zaenal Arifin mengatakan, bahwa KRB memang sedang melakukan pengurangan karyawan.

Setelah tutup hampir empat bulan, pengelola KRB mau tak mau harus melakukan perampingan kontrak pegawai yang sudah habis.

Namun, pihaknya belum bisa menyebut berapa karyawan yang diberhentikan.

“Pada prinsipnya kami tidak memberhentikan tetapi memang masa kontrak yang sudah habis. Kondisi kebun raya tutup sejak awal Maret tentu sangat berdampak,” kata Zaenal saat dikonfirmasi.

Apalagi, sambung dia, belum ada kepastian kapan KRB akan kembali beroperasi. Apalagi Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor menyatakan bahwa tempat wisata menjadi yang paling terakhir dibuka.

“Karena itu beberapa karyawan dengan berat hati harus tidak diperpanjang kontrak kerja mereka. Semoga keadaan kembali normal dan mereka yang tidak diperpanjang bisa menjadi prioritas bekerja kembali,” tukasnya. (dka/c)