Beranda Bogor Raya Begini Cara TSI Mengatur Ketersediaan Pangan Satwanya Selama Pandemi Corona

Begini Cara TSI Mengatur Ketersediaan Pangan Satwanya Selama Pandemi Corona

Gajah
Kondisi kandang gajah di TSI Cisarua. Nelvi/Radar Bogor

dating over 60 in poverty http://poweredbydatallc.com/embed/GGfAhOhs01Y CISARUA – RADAR BOGOR, Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua, Bogor memiliki strategi khusus dalam mengatur ketersediaan pangan satwanya selama masa Pandemi Corona.

Mulai dari memanfaatkan kekayaan alam, hingga menggunakan daging impor dengan low cost atau harga murah.

“Cadangan makanan satwa Taman Safari sangat cukup selama masa pandemi, meskipun kini kami telah mengurangi biaya pembelian pangan,” ujar Direktur Taman Safari Indonesia, Jansen Manansang kepada Radar Bogor, Rabu (20/5/2020).

Dengan melibatkan berbagai instansi dan juga masyarakat sekitar, pihaknya menjamin keberlangsungan hidup sekitar 3000 ekor dengan kurang lebih 300 spesies satwa yang ada di Lembaga Konservasi tersebut.

Jansen menjelaskan, untuk satwa herbivora atau pemakan tetumbuhan, pengelola memanfaatkan alam di sekitar lingkungan konservasi seluas 260 hektare tersebut seperti pepohonan, dedaunan dan sayur-sayuran yang ditanam secara mandiri.

Untuk makanan Panda, Taman Safari juga memiliki 8 hektare pohon bambu yang cukup untuk cadangan makanan hewan asal negeri tirai bambu tersebut.

“Selain itu juga kita manfaatkan lahan masyarakat sekitar seperti kebun jagung, kita ambil batangnya, lalu kebun singkong juga sawah dengan perdayakan karyawan yang dirumahkan,” tuturnya.

Untuk satwa pemakan daging atau karnivora, Jansen meneruskan, Taman Safari mendapatkan daging secara impor.

Menurutnya, hal ini sebagai satu strategi mengurangi penggunaan daging lokal yang saat ini merupakan puncak konsumsi daging di Tanah Air jelang lebaran.

Daging impor tersebut didapatkan dari negara yang sudah menjalin kontrak sejak lama. Di kondisi pandemi ini, Taman Safari mendapatkan harga spesial. Untuk pembelian satu kontainer daging, pengelola mendapatkan gratis satu kontainer.

Jansen yang juga selaku Ketua Presiden Perhimpunan Kebun Binatang Se-Asia Tenggara menyatakan, hal itu juga tak lepas dari bantuan pemerintah.

“Dari departemen pertanian juga, seperti daging-daging ternak ilegal, seperti ayam daripada dibuang, diberikan ke TSI termasuk telur juga, jadi banyak donatur, tinggal bagaimana kita mengatur itu semua,” jelasnya.

Saat ini diperkirakan ada sekitar 150 hingga 200 hewan karnivora seperti Puma, Macan, Singa hingga Buaya yang hidup di Taman Safari.

Dirinya mengaku, hingga kini Taman Safari menekan biaya operasional termasuk pengadaan pangan hingga 53 persen sejak pengelola memutuskan untuk menutup sementara pada 23 Maret lalu.

“Ini kemauan dari kita bersama warga untuk bagaimana menimalisir penyebaran virus Corona,” tandasnya. http://monitorntt.com/bed/d8iKyh0GP6A (cr2)