Beranda Radar Ramadan Lensa Ramadan Lebih Sibuk Bekerja dari Rumah

Lebih Sibuk Bekerja dari Rumah

Dekan Fakultas Hukum Universitas Pakuan, Raden Muhammad Mihradi (kiri) mendampingi Wakil Walikota Bogor Dedie A. Rachim saat launching posko pengaduan bantuan Covid-19, belum lama ini.

RADAR BOGOR,Bekerja dari rumah tampaknya sudah merupakan hal yang umum bagi masyarakat saat ini. Banyak masyarakat yang mungkin menganggap bekerja dari rumah berarti memiliki waktu luang lebih banyak. Namun, anggapan itu tampaknya tidak berlaku bagi sebagian orang, seperti yang aktivitas yang dijalani oleh Dekan Fakultas Hukum Universitas Pakuan Bogor, Raden Muhammad Mihradi.

Menjalani ibadah puasa Ramadan sekaligus bekerja dari rumah di tengah pandemi membuat Mihradi harus semakin memperketat waktunya. Selain kegiatan ibadah di rumah yang dilakukan bersama keluarga, dirinya juga tetap rutin mengajar mahasiswa melalui sistem daring setiap minggunya.

Mihradi pun selalu menyempatkan diri untuk menulis artikel ilmiah agar tetap produkti dan tak jarang Mihradi kerap diundang untuk mengisi berbagai diskusi dan seminar yang diadakan secara daring. Aktivitas tersebut, katanya, selalu dilakukan dengan tujuan berbagi ilmu dan berbagi pemikiran kepada masyarakat luas.

radarbogor universitas terbuka

“Meski di tengah pandemi, aktivitas tetap sibuk, bahkan kadang-kadang keteteran juga. Hampir susah membedakan juga ya hari libur dan hari biasa, karena tanggal merah terus jadinya. Dan meski sibuk, harus tetap disiplin karena kuliah online itu ada jam-jamnya, jadi sama dengan jam kuliah di kampus, cuma dipindahin tempatnya di rumah,” tuturnya.

Walaupun dihampiri berbagai kesibukan, Mihradi yang juga merupakan tenaga ahli di DPRD Kota Bogor mengaku tetap senang hati menjalaninya dengan maksimal. Bahkan dirinya merasa ada kelebihan dari aktivitas yang dijalankan, yakni jadi lebih banyak membaca buku dan lebih lama menggali perpustakaan pribadi. Dirinya pun bisa menyempatkan waktu untuk mengembangkan hobi lamanya, yakni menulis.

“Tapi hidup jadi lebih menarik lah, coba kalau enggak ada kegiatan, bengong aja bisa stress juga. Terus saya juga kadang-kadang nulis sajak, sekadar tulisan-tulisan kecil. Kebetulan ini juga mau nerbitin buku bareng dosen-dosen tentang hukum di tengah pandemi Covid-19. Saya kebagian menulis tentang buruh migran,” bebernya.

Dibanding Ramadan tahun kemarin, Mihradi mengungkapkan tahun ini aktivitasnya lebih padat. Bahkan, keluarga pun kerap bingung melihat dirinya yang terus menerus bekerja meski menghabiskan waktu di rumah. Akan tetapi, Ia pun tidak menampik bahwa Ramadan tahun ini memberikan hikmah yang luar biasa pada dirinya.

“Selain kita mendekat kepada Allah, juga bersimpatik dengan masyarakat. Setiap hari kan baca berita ada penderitaan di mana-mana. Mungkin untuk ramadan sekarang lebih banyak empatinya, lebih banyak ikut gerakan-gerakan sosial karena kan sekarang caranya sudah canggih bisa melalui online,” terangnya. (cr4/c)