25 radar bogor

Esensi Medsos sebagai Media Dakwah

Teddy Khumaedi

BOGOR – RADAR BOGOR, Pesatnya perkembangan teknologi dan informasi menuntut adanya peran aktif dari masyarakat penggunanya. Terlepas dari dampak negatif yang ditimbulkan akibat adanya internet yang bisa diakses dari berbagai tempat, peluang positifnya pun tetap terbuka bagi siapa pun.

Itulah sebabnya, new media dan social media memainkan peranan yang sangat penting dalam mewarnai kehidupan di berbagai penjuru dunia yang memanfaatkannya. Bagi insan dakwah (da’i, tabligher) ini merupakan lahan yang sangat empuk untuk menyebarluaskan ajaran Islam ke seluruh masyarakat melalui media ini.

Apalagi disaat kondisi dunia sedang mengalami hantaman wabah covid 19, dan kondisi umat Islam di seluruh dunia menjalankan puasa ramadhan tahun ini begitu terasa berbeda. Karena suasana ibadah di masjid yang biasanya menjadi sumber utama aktivitas selama bulan ramadhan untuk tahun ini, seolah tidak ada karena hal tersebut sangat memungkinkan bisa menjadi pemicu terinfeksinya seseorang manakala berada dalam kerumunan dengan jarak berdekatan.

Jelas ini tidak bisa dilakukan, karena karakter penyebaran virus corona bisa terjadi melalui media apa saja, salah satunya sentuhan antar anggota tubuh seseorang yang positif terinfeksi dengan yang belum terinfeksi maka keputusan yang tepat diambil pemerintah dalam memutus penyebaran covid 19 dengan memberikan himbauan untuk shalat wajib dan teraweh di rumah saja.

Di sinilah peran media sosial begitu terasa sangat penting dan dibutuhkan banyak orang, bahkan banyak orang beramai-ramai mulai menggunakan media sosial seperti, Youtube, Zoom, Facebook, dan google meet dalam menyampaikan pesan dakwah bagi dai, ataupun materi seminar bagi para dosen diberbagai universitas.

Sedangkan komunikasi melalui media televisi atau pun medi sosial lainnya merupakan proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan, didalamnya terkandung pesan-pesan dan makna tertentu dengan melalui media atau saluran sebagai kendaraan yang akhirnya menimbulkan efek atau perubahan bagi penerima pesan.

Depari, mengemukakan bahwa komunikasi adalah proses penyampaian gagasan, harapan yang mengandung arti dan dilakukan oleh penyampai pesan yang ditujukan kepada penerima pesan.

Cara yang baik untuk menjelaskan Komunikasi menurut Lasswell. adalah dengan menjawab pertanyaan “Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect?”, yang artinya siapa mengatakan apa dengan saluran apa kepada siapa dengan efek bagaimana?.

Berbeda dengan definisi-definisi yang ada diatas Shannon dan Weaver mengungkapkan bahwa komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling pengaruh mempengaruhi satu sama lainnya, sengaja atau tidak disengaja.

Tidak berbatas pada bentuk komunikasi menggunakan bahasa verbal, tetapi juga dalam hal ekspresi muka, lukisan, seni, dan teknologi.

Dari beberapa definisi komunikasi yang telah dikemukakan oleh para ahli diatas telah jelas bahwa komunikasi adalah proses menyampaikan pesan kepada orang lain dengan tujuan tertentu, bisa melalui dengan komunikasi verbal maupun nonverbal.

Secara otomatis bisa diambil kesimpuan bahwa berdakwah melalui perantara media sosial merupakan salah satu bentuk komunikasi yang efektif, kenapa demikian? Karena esensi dakwah sendiri adalah menyeru atau mengajak audiens untuk senantiasa melakukan perbuatan dan amal baik.

Esensi Dakwah Kultural

Secara etmologi dakwah berarti panggilan, seruan atau ajakan.. Dalam bentuk kata kerja atau fi’lnya adalah da’a, yad’u yang berarti memanggil, menyeru, mengajak.

Adapun secara istilah atau terminologi dakwah adalah mengajak manusia dengan cara bijaksana kepada ajaran yang benar sesuai perintah Tuhan, untuk kemaslahatan dan kebahagiaan mereka di dunia dan di akhirat.

Sedangkan, Syeikh Ali Mahfuz, dalam Abdul Rosyad Saleh mendefinisikan bahwa dakwah adalah “mendorong manusia agar memperoleh kebaikan dan menurut petunjuk, menyeru mereka berbuat kebaikan dan melarang mereka dari perbuatan munkar agar mereka mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

“Secara ringkas, dakwah dapat didefinisikan sebagai upaya menyampaikan, mengajak, atau mempengaruhi orang lain untuk mewujudkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat melalui penerapan ajaran-ajaran Islam.

Itulah sebabnya kata “dakwah” memiliki sinergi dengan kata “ta’lim, tabyin, tashwir, tabligh”. Intinya bahwa dakwah adalah social agent, di mana komponen-komponen yang terlibat di dalamnya saling berinteraksi untuk mewujudkan tujuan dakwah tersebut.

Adapun komponen-komponen yang terlibat di dalam dakwah antara lain: Da’i, yaitu orang yang menyampaikan dakwah. Istilah lainnya adalah muballigh atau tabligher. Siapa saja bisa menjadi da’i, dan mungkin komponen diatas bisa saja ditambahkan dengan media sosial sebagai instrumen penting dalam berdakwah di zaman modern dan milenial seperti sekarang ini.

Karena media sosial di zaman ini bukanlah sesuatu yang asing dikalangan para muballigh atau tabligher, selain saluran televisi dan radio. Dengan syarat seorang Dai harus benar-benar memahami fungsi media sosial untuk mensyiarkan agama Islam dengan baik.

Bahkan kewajiban untuk menyampaikan ajaran Islam (dakwah) secara jelas disinggung oleh oleh dalam al-Quran dan dita’kid oleh Nabi Muhammad Saw.

Dalam hal ini, da’i adalah orang yang memposting tulisan-tulisan atau mengupload program-program yang bermanfaat untuk kebaikan orang lain melalui media sosial sangat dibolehkan dan dianjurkan.

Komponen dakwah lainnya adalah materi atau isi. Inti ajaran Islam adalah tauhid, ibadah dan akhlak. Jika materi dakwah adalah ajaran Islam, maka apa yang disampaikan dalam berdakwah tidak terlepas dari tiga pokok ajaran Islam tersebut sekalipun tidak melalui tatap mukan atau hanya dengan perantara media sosial.

Akan tetapi perlu dipilah, disaring dan diteliti apakah yang paling urgen untuk disampaikan sesuai dengan kontek masa, tempat, lingkungan dan isu-isu yang temporer pada saat tulisan atau video itu diupload atau diposting.

Perintah menjalankan dakwah sebenarnya sudah dijelaskan Allah Swt., dalam kitab suci al-Qur’an. Misalnya “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung” (Al Imran: 104).

Maksud ma`ruf di sini ialah segala perbuatan yang mendekatkan diri pada Allah sedang munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan diri dari Allah.

Dalam surat Al-An’am disebutkan “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya, yang demikian itu diperintahkan Allah kepada kamu agar kamu bertaqwa” (QS. Al An’am: 153).

Di samping perintah Allah SWT. Nabi Muhammad Saw. juga bersabda kepada ummatnya: “Sampaikanlah walau hanya satu ayat”. Sabda Nabi ini memiliki makna bahwa seluruh umat Islam senantiasa harus menyampaikan ilmu yang di milikinya kepada orang lain, kapanpun, di manapun mereka berada bahkan dalam kondisi apapun dan dengan wasilah apa pun.

Agar dakwah dapat berjalan secara efektif dan efisien maka terlebih dahulu mengidentifikasi dan mengantisipasi masalah-masalah yang muncul dan akan muncul serta dilengkapi dengan pengenalan objek secara tepat salah satu dengan bijak dan tepat dalam memilih media sosial dalam berdakwah.

Untuk menyampaikan pesan dakwah, seorang juru dakwah (da’i) dapat menggunakan berbagai macam media dakwah, baik itu media modern (media elektronika) maupun media tradisional.
Walapun pada hakikatnya dakwah kultural adalah aktivitas dakwah yang menekankan pendekatan Islam kultural.

Islam kultural adalah salah satu pendekatan yang berusaha meninjau kembali kaitan doktrin yang formal antara Islam dan politk atau Islam dan negara.

Dakwah kultural hadir untuk mengukuhkan kearifan-kearifan lokal yang ada pada suatu pola budaya tertentu dengan cara memisahkannya dari unsur-unsur yang bertentangan dengan nilai-nilai dakwah kultural tidak menganggap power politik sebagai satu-satunya alat perjuangan dakwah.

Dakwah kultural menjelaskan, bahwa dakwah itu sejatinya adalah membawa masyarakat agar mengenal kebaikan universal, kebaikan yang diakui oleh semua manusia tanpa mengenal batas ruang dan waktu.

Dakwah Kultural memiliki peran yang sangat penting dalam kelanjutan misi Islam di Bumi ini. Suatu peran yang tak diwarisi Islam Politik atau struktural yang hanya mengejar kekuasaan yang instan.

Manusia sebagai makhluk hidup yang membutuhkan interaksi dengan sesama, tentunya pemanfaatan media sosial sebagai media dakwah sangatlah bagus karena fungsi media sosial secara otomatis akan mentransfer energi positif bagi siapa saja yang mampu meresapi sekaligus mengamalkan pesan dakwah melalui media tersebut. Wallahu’ ‘alam Bi Ashawab

Oleh : Teddy Khumaedi
Dosen Kampus IUQI Leuwiliang Bogor