Beranda Radar Ramadan Lensa Ramadan Tan Kok Liong, Pesona Masjid Bernuansa Tionghoa

Tan Kok Liong, Pesona Masjid Bernuansa Tionghoa

Masjid Tan Kok Liong

CIBINONG-RADAR BOGOR, Masjid Tan Kok Liong yang terletak di Kelurahan Pondok Rajeg, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, merupakan salah satu masjid unik di Bogor dengan arsitektur bergaya tionghoa. Masjid tersebut didirikan oleh seorang mantan narapidana kelas kakap yang kini telah berhijrah, Anton Medan, sehingga kerap disebut sebagai Masjid Anton Medan.

Masjid Tan Kok Liong yang dibangun pada 2005 silam itu tidak berdiri sendiri, di sekitarnya terdapat bangunan sekolah pesantren tingkat SMP dan SMA yang tergabung dalam Yayasan At-Taibin. Di kawasan yang sama, terdapat pula rumah Anton Medan.

Saat Radar Bogor menyambangi Masjid Tan Kok Liong, terlihat kawasan tersebut sudah tidak terawat. Gapura setinggi empat meter yang terletak di depan sebagai bentuk sambutan kepada para tamu tampak sudah pudar warnanya dan dihinggapi lumut. Pesantren yang terlihat dari luar pun tampak sangat usang dengan berbagai kerusakan di setiap sisinya, seperti atap yang hampir rubuh, pintu-pintu yang rusak, dan jendela yang sudah hilang.

radarbogor universitas terbuka

Seorang petugas Yayasan At-Taibin, Dewi Kumalasari mengatakan, yayasan dan masjid tersebut sudah bertahun-tahun ditutup. Ia tidak mengetahui pasti sejak kapan sudah ditutup, yang pasti, ketika Ia mulai bekerja tiga tahun lalu, kawasan tersebut sudah ditutup.

Sekolah pesantren ini udah ditutup sama Bapak (Anton Medan) karena pengurusnya pada pergi. Masjid ini juga udah ditutup lama, saya mulai kerja aja udah ditutup. Tapi sama kita selalu dibersihin, disapu, dipel,” ujarnya.

Meski sudah tidak dipakai sebagai tempat ibadah, Masjid Tan Kok Liong masih terlihat berdiri dengan gagah. Bertemakan warna merah dan hijau, nuansa kelenteng sebagai tempat ibadah kaum tionghoa sangat kuat terasa. 

Masjid Tan Kok Liong terdiri dari empat lantai di mana hanya lantai satu dan dua yang dapat digunakan, sedangkan lantai tiga dan empat sengaja dikosongkan. Lantai satu merupakan sebuah aula untuk rapat pesantren dengan ukuran yang cukup luas, sedangkan lantai dua merupakan ruangan inti tempat melaksanakan kegiatan ibadah berjamaah.

Jika masjid pada umumnya meletakan kubah tepat di bagian atas, Masjid Tan Kok Liong meletakan kubah di lantai dua tepat di lantai tempat ibadah berjamaah. Di lantai yang sama, terdapat tulisan ‘Masjid Jami Tan Kok Liong’ dengan bentuk tulisan bergaya Tionghoa tetapi menggunakan Bahasa Indonesia. 

Pada bagian atas masjid, terdapat tulisan ‘Allah’ berbahasa Arab. Di sebelahnya, terdapat masing-masing sebuah patung rajawali. Kemudian di masing-masing ujung atap, terdapat patung naga, lima ekor patung burung kecil, dan sebuah logo bulan bintang.

Arsitektur luar masjid dihiasi ornamen-ornamen khas Tionghoa, dari mulai jendela hingga tembok masjid. Selain itu, terdapat juga beberapa lampion berwarna merah yang digantungkan di langit-langit luar masjid. 

Ruang ibadah berjamaah yang terletak di lantai dua tampak cukup luas. Ruang tersebut memiliki empat pilar utama berwarna merah sebagai penyangga bangunan. Ketika Radar Bogor memasuki ruangan tersebut, karpet-karpet untuk salat telah digulung oleh para pengurus. Sebagian plafon atap ruangan pun tampak sudah rusak terbuka dengan noda-noda bekas air yang pernah menghinggapinya tatkala hujan.

Pintu dan jendela masjid yang berwarna hijau dengan ornamen Tionghoa sudah sangat rapuh, bahkan reyot. Di dalam, terdapat sebuah kaligrafi indah berbaha Arab di salah satu sudut ruangan. Mimbar masjid yang selalu menjadi tempat Anton Medan menyampaikan pesan-pesan islam pun tampak sudah tidak terawat. 

Di sebelah masjid, terdapat satu bangunan yang memiliki tiga tingkat atap. Kelak, bangunan tersebut akan menjadi tempat peristirahatan terakhir Anton Medan. (cr4/c)