
Oleh Hazairin Sitepu
Cemas menunggu 13 hari. Dan inilah rasa cemas tingkat tinggi yang pernah ada dalam hidup saya. Pagi, siang, sore, malam.
Kecemasan tingkat tinggi itu lebih kepada melihat dua putra saya: Fauzan dan Nauval. Setiap hari keduanya hanya melihat saya dari dalam kamar mereka. Atau dari jarak yang jauh di ruang tamu.
Keduanya samasekali tidak boleh menyentuh saya. Kecuali berinteraksi dalam jarak dua meter atau melalui pesan WA. Keceriaan mereka juga tidak tampak seperti hari-hari sebelumnya.
Kecemasan tingkat tinggi itu juga karena keluarga dari berbagai daerah di luar Bogor sering bertanya: apakah sudah sehat atau belum. Bagaimana hasil pemeriksaan di laboratoroum dll.
Terus terang, saya sudah sampai ke sikap jiwa yang psikosomatik. Sekali lagi, ini lebih ke memikirkan dua putra saya. Saya memang menjalankan protokol dengan sangat ketat. Saya mengurung diri di kamar atau menjauhi mereka untuk kebaikan mereka, juga keluarga lain yang ada di rumah. Kalau ada apa-apa dengan saya. Positif, misalnya.
Maka biarlah saya sendiri yang menanggungnya8. Mereka harus aman dari pengaruh saya.
Saya memang ODP. Orang dalam pemantauan. ODP dari klaster Kang Bima (Bima Arya Sugiarto, walikota Bogor).
Kamis 19 Maret siang saya berada di rumah pribadinya. Podcast tentang penanganan virus corona (covid-19) di kota Bogor. Dua jam setelah itu Kang Bima dinyatakan posotif tertular, berdasarkan hasil swab test di laboratorium. Otomatis saya menjadi ODP.
Saya lalu menjalani isolasi mandiri di rumah selama 14 hari. Tidak ada keluahan. Tiap pagi ukur suhu badan. Setiap itu suhu badan saya normal; 35 derajat Celsius.
Saya menjalani dua tes. Pertama swab test di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) kota Bogor 21 Maret. Kedua, rapid test di kantor Dinas Kesehatan Kota Bogor 1 April.
Menunggu hasil dua tes itu cukup deg-degan. Seperti menunggu pengumuman hasil ujian nasional. Seperti menunggu pengumuman hasil ujian masuk perguruan tinggi.
Memang lebih deg-degan menunggu hasil swab. Pertama, sangat lama. Sampai 12 hari belum ada kabar. Kedua, keluarga selalu bertanya. Ada keluarga yang bahkan bilang begini “Kami selalu berdoa semoga Abang lekas sembuh.”
Lalu mereka mengirim beberapa video tutorial dari orang-orang yang sudah sembuh. Jadi mereka menganggap saya ini benar-benar sudah terinveksi covid-19. Padahal status saya baru ODP. Di atas ODP masih ada PDP (pasien dalam pengawasan).
Hasil rapid test memang sangat cepat. Kurang dari satu jam saya sudah tau hasilnya. Meski ada yang menganggap itu juga lama. Karena melalui rapid mulai dari ambil sampel darah sampai mengetahui hasilnya bisa kurang dari lima menit.
Saya menunggu hasil rapid tes itu di halaman.depan Kantor Dinas Kesehatan. Belasan orang lainnya yang ikut tes hari itu juga menunggu. Hasilnya? Alhamdulillah saya dinyatakan sehat. Negatif.
Tetapi hasil rapid tes itu sesungguhnya belum sahih. Karena ia bukan instrumen yang dapat mendiagnosa apakah seseorang itu positif atau negatif terinfeksi covid-19. Rapid tes itu lebih sebagai skrining untuk mendeteksi antibodi seseorang. Berarti saya harus menunggu hasil swab test.
Kamis 2 April sore. Kang Bima, dari ruang isolasinya di RSUD Kota Bogor, mengirim kabar ke saya melalui pesan singkat WA. “Bang, hasil swab Abang sudah ada. Negatif,” tulisnya.
“Yang negatif itu hasil rapid tes Kang. Saya sudah liat kemaren,” balas saya. “Bukan rapid. Ini hasil swab. Saya sudah liat nama Abang. Negatif,” tulis Kang Bima lagi.
“Alhamdulillaaah. Nuhun Kang,” tulis saya lagi.
Saya dengan Kang Bima memang beberapa kali saling tanya kabar. Kami malah pernah video call. Dia di ruang isolasi RSUD Kota Bogor. Saya di ruang isolasi mandiri di rumah. Kang Bima pasitif. Saya ODP.
Dan, Jumat siang saya menerima surat pernyataan dari Dinas Kesehatan Kota Bogor. Isi surat itu menjelaskan bahwa hasil swab saya Negatif. Dan saya dinyatatakan sehat. Alhamdulillaaah. Subhanallaah.
Kang Bima semoga segera sehat dan meninggalkan ruang isolasi. Biar kita bisa makan duren bersama. Tapi tetap sosial distencing yang Kang.*