Beranda Berita Utama

Korban Jiwa Virus Corona Tembus Angka Seribu, Jadi Ancaman Serius Dunia

ilustrasi penanganan virus corona
ilustrasi penanganan virus corona

JAKARTA–RADAR BOGOR,Wabah Novel Coronavirus (2019-nCoV) belum ada tanda mereda. Jumlah kematian akibat corona di China mencapai 1.016 orang sejak wabah menyerang akhir tahun lalu. Hingga kemarin jumlah orang yang terjangkit juga terus bertambah menjadi 42.637 orang.

Jumlah negara yang terdampak corona kini mencapai 28 negara. Indonesia masih menjadi negara yang bebas corona meski berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia yang notabene terdampak corona. Terus meningkatnya jumlah korban yang tewas membuat virus corona kini menjadi ancaman serius bagi dunia.

WHO pun buka suara soal kemampuan Indonesia mendeteksi corona. Organisasi kesehatan dunia itu menyatakan Indonesia eligible.

Seperti diketahui, banyak pihak ragu Indonesia mampu. Apalagi setelah melihat fakta bahwa hingga kini belum ada kasus positif di tanah air. Padahal, sejumlah negara tetangga sudah banyak terpapar virus yang telah menelan ratusan korban jiwa tersebut.

Medical Officer WHO di Indonesia Vinod Kumar Bura menegaskan bahwa fasilitas laboratorium Balitbangkes Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sudah mumpuni untuk mendeteksi 2019-nCoV. Alat dan prosedurnya pun telah sesuai dengan standar WHO. ”Kami sepenuhnya yakin bahwa laboratorium ini mampu untuk mendeteksi virus Novelcorona ini,” ujarnya ditemui di sela acara kunjungan di Balitbangkes Kemenkes di Jakarta, kemarin (11/2).

Menurut dia, Indonesia juga baru saja selesai menguji sekitar 60 spesimen dari kasus yang muncul pada beberapa minggu terakhir. Dari pengujian yang dilakukan, telah dikonfirmasi seluruhnya negatif 2019-nCoV.

Lebih lanjut Vinod mengatakan bahwa Indonesia telah menaruh perhatian penuh perihal 2019-nCoV ini. Hal itu telah dibuktikan dengan peningkatan kapasitas penanganan deteksi virus itu. Termasuk, menyiagakan 100 rumah sakit rujukan untuk penanganan kasus infeksi penyakit baru seperti 2019-nCoV.

Seluruh rumah sakit tersebut, kata dia, sudah memiliki sumber daya manusia yang mumpuni. Total, ada 52 ruang isolasi dengan 113 tempat tidur yang dikhususkan  untuk penanganan penyakit emerging. Seluruhnya pun telah melakukan simulasi penanganan penyakit emerging sebagai langkah kesiapsiagaan. ”Kami sudah bekerja sama lama dengan Indonesia. Dan kami terus bekerja sama erat dengan pemerintah Indonesia untuk memantau situasi saat ini,” ungkapnya.

Vinod menuturkan, WHO telah menyatakan wabah 2019-nCoV di China sebagai darurat kesehatan internasional. Sehingga, pihaknya pun mendorong semua negara untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan dan penyebaran virus tersebut. Sebab, risiko terinfeksi virus baru ini di China dan negara-negara lainnya tergolong tinggi.

Ditemui dalam kesempatan sama, Kepala Balitbangkes Kemenkes Siswanto kembali menegaskan bahwa metode pemeriksaan 2019-nCoV sudah sesuai dengan standar WHO. Yakni, uji konfirmasi laboratorium 2019-nCoV melalui dua kali pengujian sampel.

”Ada empat tahap yang perlu dilakukan dalam mendeteksi virus corona, yaitu menemukan suspect yang benar, mengambil spesimen, mentransfer spesimen tersebut dan melakukan PCR (polymerase chain reaction, red) dengan mesin PCR yang benar,” paparnya. PCR ini, lanjut dia, mampu dilakukan oleh laboratorium Balitbangkes.

Dia mengklaim bahwa lab milik Kemenkes ini sudah dilengkapi dengan peralatan memadai dan tenaga ahli yang terampil. Selain itu, fasilitasnya mempunyai tingkat keselamatan untuk penanganan agen biologi atau biosafety level 2 dan 3. Karenanya, menjadikan Balitbangkes sebagai rujukan nasional untuk penyakit new emerging dan reemerging. Salah satunya, 2019-nCoV.

Meski demikian, pertanyaan soal “bersihnya” Indonesia dari 2019-nCoV tetap disangsikan. Lagi-lagi, karena sudah banyak kasus positif di negara-negara lain. Terutama Singapura yang jadi tetangga dekat Indonesia. Belum lagi, fakta bahwa lalu lintas Singapura-Batam begitu tinggi.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Anung Sugihantono merespons santai. Menurutnya, bisa jadi karena memang orang Indonesia punya kekebalan tertentu pada penyakit tertentu. ”Mungkin imunitas kita berbeda pada penyakit tertentu. Ini yang sekarang para ahli ngomongnya gini. Mungkin loh ya. Karena memang virus ini pun masih dipelajari,” katanya.

Kekebalan ini dicontohkannya pada 78 orang WNI yang tengah diinkubasi di Kapal Diamond Princess di perairan Jepang. Hingga hari ke delapan, mereka dalam kondisi sehat. Padahal, pekerjaan mereka banyak yang office boy, waiters, dan lainnya. Yang artinya, lebih banyak berinteraksi dengan orang lain. Sehingga, kemungkinan untuk kontak jelas lebih besar.

Namun sekali lagi, mereka dalam kondisi baik. Padahal, sudah 135 orang dievakuasi ke luar kapal karena positif 2019-nCoV. ”Ini ada dalam satu kapal loh. Yang di Wuhan kan masih luas banget. Ini dalam satu kapal seminggu di situ, sudah ada yang sakit di situ,” ungkapnya.

Kalau memang penularan terjadi melalui droplet, kemungkinan terpapar pun pasti tinggi. Apalagi kalau airborne. ”Tapi sekali lagi, ini masih banyak yang harus dipelajari.  Tidak mengatakan ini misteri. Bukan itu ya,” paparnya.

Baca Juga