Beranda Berita Utama

Bocah 4 Tahun Lebam di Sekujur Tubuh, Diduga Korban Penganiayaan

Ilustrasi Kekerasan Terhadap Anak

SURABAYA-RADAR BOGOR, Seorang bocah berinisial JA mengalami luka lebam disekujur tubunya.

Diduga bocah yang tinggal di Jalan Pacar Kembang Nomor 65, Tambaksari itu, menjadi korban penganiayaan. Saat ini korban dirawat intensif di RSUD dr Soetomo.

Kanitreskrim Polsek Gubeng AKP Oloan Manullang menerangkan bahwa luka tersebut ditemukan di kedua mata, area kemaluan, serta dada.

Temuan itu didapat setelah tim dokter yang menangani JA melapor ke polisi. ’’Dari hasil temuan tersebut, kami melakukan pengusutan,’’ ujarnya Sabtu (30/11/2019).

Oloan menyatakan belum tahu pasti apa yang membuat tubuh si anak mengalami luka lebam tersebut. Namun, berdasar keterangan ibu korban, IN, sang anak mengalami keracunan obat. ’

’JA sakit, lantas diberi obat. Tapi, mungkin tidak cocok, si anak mengalami alergi. Jadinya berpengaruh pada kondisi tubuh si anak,’’ ungkap Oloan menirukan pernyataan IN.

Namun, kalimat IN tidak membuat polisi percaya begitu saja. Karena yang ditangani anak di bawah umur, Tim Polsek Gubeng melimpahkan kasus tersebut ke Unit Perlindungan Anak dan Perempuan (PPA) Polrestabes Surabaya. Saat ini penyidik mengusut dugaan tersebut. ’’Kemungkinan banyak saksi yang diperiksa,’’ tuturnya.

Sementara itu, Wakapolsek Gubeng AKP Yahudi menuturkan bahwa informasi tersebut sampai ke mereka pada Jumat (29/11).

Anggota yang berjaga di sana, lanjut dia, mendapatkan informasi bahwa JA menginap di RSUD Soetomo sejak Selasa (26/11).

’’Namun, kami baru mengetahuinya Jumat ini,’’ ungkapnya saat ditemui di kantor Polsek Gubeng.

Dia menuturkan bahwa JA belum bisa dimintai keterangan terhadap kasus tersebut. Saat disambangi kemarin, dia hanya terdiam dan tidak mau menjawab pernyataan penyidik. ’’Mungkin masih trauma,’’ tuturnya.

Kondisinya, menurut Yahudi, memang miris. Selain mengalami luka di sekujur tubuh, sang anak kerap ngelantur hal aneh. ’’Dia berkata ’ampun bude, ampun bude’,’’ paparnya.

Yahudi makin yakin bahwa JA terindikasi mengalami kekerasan. Hal itu juga dibenarkan tetangga korban yang kerap mendengar jeritan JA.

’’Sudah lama. Mungkin sudah berbulan-bulan. Tapi, kami enggak tahu pasti apa yang terjadi,’’ ujar Ketua RW VI Pacar Kembang Suparmo.

Berdasar informasi yang diterima dari warga lain, JA biasanya menjerit saat siang atau ketika IN bekerja. ’’JA memang tinggal sama bude dan pakdenya,’’ ucap pria 64 tahun tersebut.

Bude JA tidak bekerja. Pakdenya adalah seorang ustad yang rutin melakukan pengobatan kepada banyak orang. ’’Kalau siang-siang itu, suaranya berasal dari lantai 2 ini,’’ ungkap Suparmo sembari menunjuk gedung dua lantai tersebut.

Kini rumah yang ditinggali JA tersebut tampak sunyi. ’’Memang tidak menjadi hal aneh lagi. Sebelumnya memang seperti ini. Keluarga ini memang tertutup,’’ ucapnya.

Ketua RT VIII, RW VI, Pacar Kembang Sukatno menjelaskan bahwa keluarga itu mengontrak rumah tersebut. Mereka baru tinggal di sana selama 10 bulan. ’’Januari ini nanti setahun,’’ ungkapnya.

JA juga termasuk anak yang jarang bergaul. ’’Tidak pernah bermain dengan teman sebayanya,’’ ungkap pria 57 tahun tersebut.

Humas RSUD dr Soetomo dr Pesta Parulian Maurud Edward SpAn belum bisa memberikan keterangan apa pun terkait kasus tersebut. Dia hanya menyebut akan melakukan pemeriksaan dan konfirmasi lebih dulu terkait dengan kondisi si anak.

Di bagian lain, Kanit PPA Polrestabes Surabaya AKP Ruth Yeni sudah menerima laporan dari Polsek Gubeng. ’’Melihat kondisi anak, indikasi adanya kekerasan cukup kuat. Dokter yang memeriksanya juga yakin bukan karena jatuh atau alergi,’’ ujarnya.

Menurut dia, pihaknya sudah mengambil tindakan setelah LP model A terbit. Ruth mengaku telah mengirim anggota ke rumah balita yang diduga menjadi korban penganiayaan itu. Ibunya diminta mendampingi melakukan visum. ’’Hasilnya nanti bisa menjadi bukti,’’ tuturnya. (jp/ysp)

Baca Juga