Beranda Politik Presiden Dipilih MPR, Nasdem: Tidak Sejalan dengan Sistem Presidensial

Presiden Dipilih MPR, Nasdem: Tidak Sejalan dengan Sistem Presidensial

Sekretaris Fraksi Partai Nasdem, Saan Mustopa
Sekretaris Fraksi Partai Nasdem, Saan Mustopa

JAKARTA-RADAR BOGOR, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), mengusulkan supaya pemilihan presiden dikembalikan oleh MPR. Wacana ini dianggap mengembalikan Indonesia seperti pada era orde baru silam.

Sekretaris Fraksi Partai Nasdem, Saan Mustopa mengatakan, tidak ingin pemilu presiden kembali ke era orde baru silam. Sebab dengan sistem presidensial seperti ini, rakyat memiliki kedaulatan tertinggi.

“Jadi akan kontradiktif kalau dipilih MPR. Karena pilpres langsung akan sejalan dengan sistem presidensial di mana rakyat pilih langsung. dan dari segi manfaat akan lebih baik,” ujar Saan saat dihubungi, Sabtu (30/11).

radarbogor universitas terbuka

Menurut Saan, jika pemilihan kembali ke MPR, maka akan rawan distorsi. Bahkan mungkin ada politisasi. Karena tidak selamanya rakyat ini sepakat dengan kepala negara yang dipilih oleh MPR. “Jadi bisa saja ada distorsi antara rakyat dan MPR,” katanya.

Oleh sebab itu, Partai Nasdem tidak sepakat dengan usulan PBNU tersebut. Partai besutan Surya Paloh ini tetap sepakat pemilihan presiden dipilih oleh rakyat Indonesia. Apabila masih ada yang kurang, maka penyelenggarannya bisa dibuat lebih baik lagi. “Jadi kalau Nasdem tetap saja inginkan pilpres langsung. Kalau ada yang kurang ya tinggal diperbaiki,” ungkapnya.

Diketahui, ‎Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siroj menerima pimpinan MPR. Dalam pertemuan itu PBNU mengusulkan pemilihan presiden dikembalikan lewat MPR. Said mengatakan keputusan tersebut berdasarkan pada musyawarah nasional (munas) Nahdlatul Ulama 2012 silam di Cirebon.

Sehingga PBNU mengusulkan pemilihan presiden dikembalikan ke MPR. Bukan lagi mekanisme pemilihan langsung seper‎ti yang dilakukan saat ini. Said mengatakan, usulan itu bukan tanpa alasan, melainkan para kiai telah melihat dampak negatif dan positif. “Nah, kebetulan lebih banyak negatifnya. Misalnya saja dengan berbiaya besar. Misalnya masalah biaya yang sangat besar untuk dikeluarkan.,” tuturnya.

(JPG)