Beranda Pendidikan

IPB University Gelar Seminar Nasional Berdayakan Perempuan di Era Milenial

BOGOR-RADAR BOGOR, Komunitas start-up ‘Female in Action’ IPB University menyelenggarakan seminar nasional ‘Voice of The Women Nationalist’ (VOWN) di Gedung Graha Widya Wisuda Kampus Dramaga, Bogor (24/11). Seminar ini mengangkat tema “Strategi Pemberdayaan Perempuan di Era Millenial terhadap SDGs 2030”. Acara ini menghadirkan Lusi Margiyani, Early Childhood Care and Development Advisor dan Gender Local Point at Save The Children Indonesia, Dr. Ir. Herien Puspitawati, M.Sc., selaku Pakar Gender Indonesia dan Akademisi Fakultas Ekologi Manusia (Fema) IPB University, Alya Nurshabrina, Miss Indonesia 2018 dan Fedi Nuril sebagai publik figur.

Selain membahas tentang pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender, seminar ini juga membahas tentang upaya penangkalan isu radikalisme yang menjurus kepada feminisme nasional.

Acara ini juga dihadiri oleh Ibu Yane Ardian dan Bapak Bima Arya, Walikota Bogor, selaku Founder Sekolah. Ibu Yane menyampaikan, bahwa perempuan seharusnya mempunyai peran yang strategis dalam pembangunan. Peran perempuan adalah membangun peradaban dari keluarga. Kesetaraan gender adalah bagaimana hak-hak diperlakukan dengan sama. Namun perempuan juga tidak boleh melupakan hak laki-laki.
“Perempuan tidak bisa berdiri sendiri karena diperlukan supporting system dari keluarga, teman dan lingkungan. Tujuan acara ini adalah bukan hanya berbicara dari aspek teori mengenai pemberdayaan perempuan, namun dari berbagai macam sudut pandang untuk mendukung perempuan. Perempuan sangat berkaitan dengan keluarga, ekonomi, dan bisnis. Sekarang masih minim kesadaran dalam pemberdayaan perempuan,” papar Founder Female in Action, Zulfa Fauziah, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University.

Pada kesempatan ini, Dr. Ir. Herien menjelaskan, bahwa karir terbaik perempuan modern adalah apa yang dikerjakan sesuai passion dan kehendak sadarnya.
“Pandangan esktrim perempuan lainnya adalah berkaitan dengan image ‘supermom’. Yaitu menghabiskan waktunya antara rumah tangga dan karir yang seimbang. Hal yang dapat dikombinasikan mengenai konsep tradisional dan konsep modern untuk kelompok perempuan adalah potensi spiritual, emosional, fisik, kreatif sosial dan kognitif. Kehadiran komunitas ayah menyadarkan bahwa anak adalah tanggung jawab kedua orang tua. Sistem patriarki perlu direnovasi agar mengubah mindset masyarakat. Pemberdayaan perempuan adalah siap mengambil tugas dalam kolaborasi antara laki-laki dan perempuan,” paparnya.

Sementara itu, Lusi menjelaskan bahwa perempuan dan laki-laki menunjukkan peluang yang sama dalam menyelesaikan pendidikan. Salah satu isu perempuan dalam pendidikan dan kesiapan di dunia kerja di era milenial adalah rendahnya minat perempuan dalam masuk di bidang STEM.
“Ketertinggalan perempuan dapat beresiko terjadinya peminggiran atau ketertinggalan perempuan. Strategi mengatasi isu tersebut adalah pendidikan dan pengasuhan adil gender sejak usia dini, menghilangkan bias gender terkait pendidikan dan dunia kerja serta adanya kebijakan dan support system untuk mendukung perempuan di bidang STEM,” terangnya.

Baca Juga