Beranda Berita Utama

Dijagokan Bakal Jadi Petinggi BUMN, Berikut Profil Ahok

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok
Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok

JAKARTA-RADAR BOGOR, Nama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, belakangan ini kembali ramai dibicarakan masyarakat. Itu tidak lain setelah Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir mengeluarkan pernyataan kalau Ahok akan diangkat menjadi pimpinan salah satu perusahaan milik BUMN.

Belakangan, Ahok gencar dikabarkan akan menduduki pucuk pimpinan PT Pertamina. Namun, rencana itu langsung ditolak keras serikat pekerja Pertamina. Tak hanya orang dalam Pertamina, beberapa kalangan juga menyuarakan penolakannya terhadap rencana pemerintah menempatkan Ahok di BUMN tersebut.

Dilihat dari rekam jejaknya, Ahok tergolong pejabat yang tegas, bersih dan antri korupsi. Atas dasar itulah, beberapa politisi juga mendukung pemerintah untuk mengangkat Ahok menjadi petinggi BUMN.

https://www.radarbogor.id/2019/11/21/ahok-jadi-petinggi-bumn-fahri-hamzah-saya-akan-mendukung/

Tujuannya untuk membersihkan perusahaan-perusahaan di bawah BUMN itu dari korupsi dan merugikan keuangan negara. “Kita kan membutuhkan BUMN ini diperbaiki secara ke dalam, dilakukan pembenahan secara manajerial tapi butuh sosok yang tegas, antikorupsi,” kata Ketua DPP Partai Hanura Benny Ramdhani di Hotel Sultan, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, Kamis (21/11/2019).

Berikut Profil Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok:

Ir. Basuki Tjahaja Purnama, M.M. (Nama Tionghoa: Zhōng Wànxué). Tanggal Lahir: Manggar, Belitung Timur, 29 Juni 1966, atau paling dikenal dengan panggilan Hakka Ahok, adalah Gubernur DKI Jakarta sejak 19 November 2014 hingga 9 Mei 2017.

Pada 14 November 2014, ia diumumkan secara resmi menjadi Gubernur DKI Jakarta pengganti Joko Widodo, melalui rapat paripurna istimewa di Gedung DPRD DKI Jakarta.

Ahok resmi dilantik sebagai Gubernur DKI Jakarta oleh Presiden Joko Widodo pada 19 November 2014 di Istana Negara, setelah sebelumnya menjabat sebagai Pelaksana Tugas Gubernur sejak 16 Oktober hingga 19 November 2014.

https://www.radarbogor.id/2019/11/21/dinilai-bersih-politisi-gerindra-dan-hanura-dukung-ahok-pimpin-pertamina/

Ahok merupakan warga negara Indonesia dari etnis Tionghoa dan pemeluk agama Kristen Protestan pertama yang menjadi Gubernur DKI Jakarta. Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta pernah dijabat pemeluk agama Katolik, Henk Ngantung (Gubernur DKI Jakarta periode 1964-1965).

Ahok pernah menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI dari 2012-2014 mendampingi Joko Widodo sebagai Gubernur. Sebelumnya Ahok merupakan anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat periode 2009-2014 dari Partai Golkar namun mengundurkan diri pada 2012 setelah mencalonkan diri sebagai wakil gubernur DKI Jakarta untuk Pemilukada 2012.

Dia pernah pula menjabat sebagai Bupati Belitung Timur periode 2005-2006. Ia merupakan etnis Tionghoa pertama yang menjadi Bupati Kabupaten Belitung Timur.

Pada tahun 2012, ia mencalonkan diri sebagai wakil gubernur DKI berpasangan dengan Joko Widodo, wali kota Solo. Basuki juga merupakan kakak kandung dari Basuri Tjahaja Purnama, Bupati Kabupaten Belitung Timur (Beltim) periode 2010-2015. Dalam pemilihan gubernur Jakarta 2012, mereka memenangkan pemilu dengan presentase 53,82 persen suara.

Pasangan ini dicalonkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Pada 10 September 2014, Basuki memutuskan keluar dari Gerindra karena perbedaan pendapat pada RUU Pilkada.

Partai Gerindra mendukung RUU Pilkada sedangkan Basuki dan beberapa kepala daerah lain memilih untuk menolak RUU Pilkada karena terkesan “membunuh” demokrasi di Indonesia.

Pada tanggal 1 Juni 2014, karena Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengambil cuti panjang untuk menjadi calon presiden dalam Pemilihan umum Presiden Indonesia 2014, Basuki Tjahaja Purnama resmi menjadi Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta. Setelah terpilih pada Pilpres 2014, tanggal 16 Oktober 2014 Joko Widodo resmi mengundurkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Secara otomatis, Basuki menjadi Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta.[7] Basuki melanjutkan jabatannya sebagai Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta dengan dukungan Gerindra dan PDIP, namun setelah pertentangan mengenai RUU Pilkada ia kehilangan dukungan dari Gerindra. Sementara dukungan PDIP didapat dari Wakil Gubernur Djarot Saiful Hidayat.

Ia kemudian berusaha maju kembali menjadi Calon Gubernur melalui jalur (independen), namun kemudian memutuskan menggunakan usungan dari partai.

Pada tanggal 9 Mei 2017, Basuki divonis dua tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara karena kasus penodaan agama. Pada tanggal 24 Januari 2019, Basuki dibebaskan dari penjara.(pin/net)

Baca Juga