Beranda Ekonomi

Potensi Zakat Profesi Sangat Besar, tapi Kurang Tergarap

ILUSTRASI. Peluncuran layanan baru Baznas menggunakan virtual assistant @zakibaznas di kantor Baznas Jakarta (25/5). Potensi zakat profesi sangat besar.
ILUSTRASI. Peluncuran layanan baru Baznas menggunakan virtual assistant @zakibaznas di kantor Baznas Jakarta (25/5). Potensi zakat profesi sangat besar.
JAKARTA-RADAR BOGOR, Potensi zakat sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi sangat besar. Namun, potensi tersebut belum dikelola dan disalurkan secara profesional. Akibatnya, dampak penyaluran zakat maupun sedekah lainnya terhadap pertumbuhan ekonomi belum begitu terlihat.
Direktur Pendistribusian dan Pemberdayaan Baznas, Irfan Syauqi Beik menyebutkan, potensi zakat di Indonesia mencapai Rp 233,8 triliun. Kontributor terbesarnya adalah zakat profesi. Namun, potensi penguasaan zakat perusahaan masih rendah.
“Jawa Timur merupakan second largest economy setelah DKI Jakarta. Jika dioptimalkan, potensi zakat bisa menjadi solusi bagi pengembangan perekonomian,” katanya di sela Festival Ekonomi Syariah (Fesyar), Kamis (7/11).
Idealnya, pendistribusian zakat mencapai 87,5 persen. Sejauh ini yang terealisasi baru 83,7 persen pada Oktober lalu.
Menurut Irfan, pihaknya perlu mendorong penguatan regulasi terkait dengan pengelolaan zakat maupun sedekah secara profesional. Baik regulasi di tingkat pusat maupun daerah. Selain itu, literasi publik maupun korporasi terhadap zakat perlu ditingkatkan.
Pakar ekonomi syariah, Muhammad Syafii Antonio menyatakan, warisan, wasiat, zakat, infak, dan hadiah yang terdistribusi dengan tertib akan mempercepat perputaran uang maupun barang.
“Hal ini bakal diikuti dengan aktivitas produksi baru maupun penyerapan tenaga kerja baru. Dengan begitu, angka pengangguran bisa ditekan,” ujarnya.
(JPG)

Baca Juga