Beranda Ekonomi

Wilmar Grup Siap Mengawal Produksi Pangan Nasional

Direktur Wilmar Saronto Soebagyo (kiri) bersama jajaran Pemkab Madiun melakukan panen perdana padi dengan Pupuk Mahkotar di Kecamatan Sukolilo,Kabupaten Madiun Jawa Timur, Senin (4/11)
Direktur Wilmar, Saronto Soebagyo (kiri) bersama jajaran Pemkab Madiun melakukan panen perdana padi dengan Pupuk Mahkota di Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Senin (4/11)
JAKARTA-RADAR BOGOR, Wilmar Grup melalui produknya pupuk Mahkota siap mengawal produksi pangan nasional, apalagi penyubur tanaman tersebut dinilai mampu meningkatkan produksi padi sekitar 11-20 persen per hektare (ha).
Direktur Wilmar, Saronto Soebagyo di Jakarta, Kamis (7/11), mengatakan, pihaknya telah melakukan percobaan penanaman padi menggunakan pupuk Mahkota di 21 demplot di Kabupaten Madiun, Jawa Timur.
Dalam panen perdana yang digelar di Kecamatan Sukolilo, Madiun, Senin (4/11) lalu, lanjutnya, terbukti penggunaan pupuk tersebut mampu meningkatkan produksi sekitar 11-20 persen per ha.
“Kami telah membuktikan bahwa kualitas pupuk Mahkota tidak kalah dengan pupuk yang biasa digunakan petani,” ujar Saronto.
Selain sebagai percobaan, adanya demplot tersebut juga menjadi upaya edukasi bagi petani mengenai selisih biaya yang lebih tinggi dibanding pemanfaatan pupuk subsidi.
Meski petani harus mengeluarkan biaya tambahan Rp 472.000 per 0,5 ha untuk menggunakan Pupuk Mahkota, namun mereka memperoleh peningkatan produksi 11 persen per 0,5 ha atau sebanyak 450 kg gabah kering panen (GKP). Dengan peningkatan produksi tersebut, petani memperoleh tambahan pemasukan Rp 1,7 juta per 0,5 ha.
Saronto menambahkan, pihaknya juga berkomitmen membantu memotong rantai pemasaran beras melalui kerjasama dengan Dinas Pertanian Madiun, yang mana pihaknya akan menampung beras petani.
“Dengan rantai pemasaran yang lebih pendek, kami berharap keuntungan lebih banyak dinikmati petani,” kata dia.
Wakil Bupati Madiun, Hari Wuryanto mengapresiasi peningkatan produktivitas panen tersebut karena sesuai dengan visi dan misi pemerintah kabupaten dalam meningkatkan kesejahteraan petani.
Selama ini, Madiun dikenal sebagai salah satu daerah produsen beras, dari total produksi sebesar 200-300 ribu ton GKP per tahun, sebanyak 100-120 ribu ton diserap untuk konsumsi masyarakat sehingga surplusnya cukup besar.
Dia mengingatkan agar Wilmar menjaga pasokan pupuk tetap lancar, karena seringkali suplainya seret saat musim tanam. Pihaknya juga menyambut dengan tangan terbuka terhadap rencana perusahaan itu yang akan berinvestasi di daerah tersebut.
“Dengan kerjasama ini kami berharap masalah pasokan pupuk dapat teratasi,” tutur Hari.
(ANTARA)

Baca Juga