Beranda Ekonomi

Jawa Tengah Andalkan Pariwisata Untuk Tarik Investor

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dalam acara Central Java Investment Business Forum (CJIBF) 2019 ke-15 diselenggarakan pada 5 November 2019 di Birawa Assembly Hall Hotel Bidakara Jakarta, Selasa (5/11)
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dalam acara Central Java Investment Business Forum (CJIBF) 2019 ke-15 diselenggarakan pada 5 November 2019 di Birawa Assembly Hall Hotel Bidakara Jakarta, Selasa (5/11)
JAKARTA-RADAR BOGOR, Provinsi Jawa Tengah mengandalkan sektor pariwisata di samping juga manufaktur untuk menarik investor menanamkan modalnya di wilayah tersebut.
“Kami berupaya mengoptimalkan sektor pariwisata dan manufaktur sebagai potensi terbesar dari Provinsi Jawa Tengah untuk bisa menarik investor datang,” kata Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dalam acara Central Java Investment Business Forum (CJIBF) 2019 ke-15 di Jakarta, Selasa (5/11).
Dalam acara dengan tagline Trust us to invest, realize your dream itu, Ganjar Pranowo menawarkan peluang investasi di dua sektor unggulan Jawa Tengah, yaitu pariwisata dan manufaktur. Selain itu ada sektor lainnya diantaranya properti, infrastruktur, energi, dan agrikultur.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Tengah Ratna Kawuri mengatakan peserta yang hadir dan berpartisipasi pada CJIBF tercatat sejumlah 500 orang.
Terdiri dari calon investor dari luar negeri sebanyak 73 orang, dalam negeri 254 orang, pemrakarsa proyek dari kabupaten/kota dan provinsi sejumlah 70 orang, serta undangan 110 orang mencakup duta besar negara sahabat, pemerintah pusat, asosiasi usaha tingkat regional hingga pusat, BUMN dan BUMD se-Jawa Tengah, serta lembaga keuangan dan perbankan.
“Yang menarik, termasuk juga sebanyak 59 investor dan pengusaha asal China  dari sektor industri kayu dan furnitur. Rencananya pengusaha tersebut akan melakukan relokasi industri ke Jawa Tengah,” ujar Ratna.
Menurutnya, Jawa Tengah kini menjadi primadona investasi dari berbagai negara dengan iklim investasi yang tenang dan ditopang oleh kemajuan pembangunan infrastruktur.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya bahwa sebanyak 11 perusahaan asal China bakal direlokasi. Targetnya sebelum akhir tahun proses relokasi tersebut bisa selesai dan segera melakukan produksi.
Pada September 2019, BKPM juga mencatat sebanyak 33 perusahaan asal negeri Tirai Bambu itu akan direlokasi, sebagai imbas dari perang dagang antara China dan Amerika Serikat.
Ditambahkannya, dalam acara itu melalui pendaftaran peserta secara online telah terjaring sebanyak 33 kepeminatan investasi.  “Lokasi yang diminati tersebar di 18 kabupaten/kota dengan nilai sebesar Rp 25,2 triliun dan 1 miliar dolar AS,” kata Ratna.
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, dalam sambutannya mengatakan target investasi Jawa Tengah tahun ini sebesar Rp 47,42 triliun.
“Kami optimis mampu memenuhi target tersebut, karena kami punya daya saing dalam hal potensi, dukungan infrastruktur, tenaga kerja, dan sekaligus punya komitmen kuat untuk mendorong peningkatan investasi melalui kebijakan pro-investasi,” kata Ganjar Pranowo.
Dijelaskan, total investasi yang masuk pada periode 2015 hingga triwulan II 2019, baik PMA dan PMDN mencapai Rp 211,19 triliun. Terdiri dari investasi PMA sebesar Rp 110,85 triliun dengan 4.964 proyek yang menyerap 335.735 tenaga kerja, dan PMDN sebesar Rp 100,34 triliun dengan 7.121 proyek yang menyerap 221.071 tenaga kerja.
Adapun investasi yang masuk di Jawa Tengah, kata Ganjar, paling banyak di sektor listrik, gas dan air, transportasi, gudang dan telekomunikasi, serta industri tekstil. Sedangkan daerah yang menjadi pilihan utamanya yaitu di Kabupaten Jepara, Kabupaten Batang, dan Kabupaten Cilacap.
“Sediakan fasilitasi dan kemudahan serta jelaskan insentif yang akan diberikan kepada calon investor sehingga investasi di Jawa Tengah dapat terus berkembang. Dengan realisasi investasi yang tinggi, akan mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Ganjar Pranowo.
(ANTARA)

Baca Juga