Beranda Bogor Raya

Suhu di Puncak Tembus 32 Derajat Celcius, Terpanas Selama 10 Tahun Terakhir

Kawasan Puncak Panas
Pemandangan kawasan Puncak Bogor. Hendi/Radar Bogor

CISARUA-RADAR BOGOR, Suhu udara di Kawasan puncak tak seperti biasa. Dari pantauan Radar Bogor Rabu (23/10/2019) pagi, kawasan berhawa dingin itu nampak gersang. Hawa panas dan angin kencang lebih terasa. Padahal jam masih menunjukkan pukul 09.00 WIB.

Bogor Terasa Lebih Panas Dua Hari Terakhir, Ini Penjelasan BMKG

Suhu udara yang biasanya berada pada angka 18-22 derajat celcius, melonjak drastis. Tercatat di aplikasi Android mencapai 31 derajat selsius.

Suhu itupun kian meningkat, saat memasuki pukul 11.30 WIB. Suhu kawasan kebun teh ini berada di angka 32 derajat celcius.

“Iya, ini menjadi suhu terpanas di kawasan puncak sejak sepuluh tahun terakhir. Pada Tahun 2009, suhu 31,05 derajat celcius, tahun 2015, suhu 31 derajat celcius dan hari ini suhu mencapai 32 derajat celcius,”ujar Kepala Stasiun Meteorologi Citeko-Bogor, Asep Firman Ilahi, kepada Radar Bogor, Rabu (23/10/2019).

Bogor Dilanda Panas Ekstrem, Lakukan Hal Ini Agar Tetap Bugar

Kondisi tersebut, Kata Asep, diperkirakan akan berlangsung hingga hingga akhir Oktober mendatang. Mengingat, kawasan Puncak baru akan diguyur hujan paling cepat pada akhir oktober 2019. “Paling lambat awal November 2019,”jelasnya.

Ia menambahkan, suhu panas di kawasan Puncak ini berdampak cukup serius. Ia mencatat, sejumlah wilayah di Kecamatan Cisarua mulai mengalami krisisi air. Mulai dari Desa Citeko, Desa Cibeurem, Desa Tugu Utara dan Desa Tugu Selatan.

“Dampak paling terasa, krisis air. Di Citeko seluruh sumber air warga sudah mengering. Saat ini warga mengandalkan mata air Gunung Gede Pangrango. Itupun sudah sangat kecil volumenya,”jelasnya.

Selain krisis air, bencana kebakaran lahan paling berpotensi. Karena, jika ada sumber api sedikit saja, sudah bisa membakar lahan.

“Ini yang paling kita wanti-wanti. Sedikit sumber api, misalnya puntung rokok, bisa menyebabkan kebakaran. Selain suhu panas, juga angin kencang,” jelasnya.

Iapun memaparkan, suhu panas ini berdampak pada kesehatan. Terlebih bagi masyarakat puncak yang beraktivitas di luar ruangan. “Menyebabkan bibir pecah-pecah, tenggorokan kering dan dehidrasi,”tuturnya.

Selain itu dampak suhu panas di kawasan Puncak membuat tingkat radiasi matahari yang masuk ke permukaan bumi meningkat dalam semua panjang gelombang. Mulai dari Radiasi Ultraviolet Alfa maupun Beta (UV-A dan UV-B).

“Pada saat cuaca cerah dan pertumbuhan awan berkurang, radiasi meningkat. Radiasi ini berbahaya bagi kesehatan,”jelasnya.

Sementara itu Kepala UPT Damkar Sektor Ciawi, Nendri menuturkan, suhu panas di puncak ini harus diperhatikan betul masyarakat puncak. Mengingat potensi kebakaran yang tinggi.

“Hindari untuk membakar sampah sembarangan yang tidak diawasi. Baik di pemukiman maupun di lahan-lahan kosong dan kawasan hutan lindung,”tuturrnya.

Lanjut Nendri, saat ini sumber air di kawasan Puncak sangat sulit. Sehingga jika terjadi kebakaran, kesulitan mendapatkan sumber air untuk pemadaman. “Kita harapkan masyarakat mengantisipasi hal-hal yang berpotensi menimbulkan kebakaran,”pintanya.

Terpisah, Kasi Kedaruratan BPBD Kabupaten Bogor, M Adam Hamdani menuturkan, daerah-daerah di kawasan Puncak yang mengalami krisis air tersebar di sejumlah desa.

“Seperti di Desa Citeko, selain diterjang angin gust, mereka juga krisis air bersih. Kita juga kirimkan satu tanki air di sana,” tukasnya. (all/c)

Baca Juga