Beranda Metropolis

Kena Proyek Double Track, Mesjid SMAN 4 Kota Bogor Terancam Dibongkar

SMAN 4 Kota Bogor
Suasana kegiatan siswa di SMAN 4 Kota Bogor.

BOGOR-RADAR BOGOR, Proyek double track Bogor-Sukabumi tak hanya berimbas pada rumah warga.

Mesjid milik SMAN 4 Kota Bogor yang dibangun dengan dana bersama miliaran rupiah dan digunakan untuk kegiatan belajar mengajar serta ibadah itu, juga bakal kena gusur.

Masjid yang mulai dibangun pada 2006 dan baru rampung pada 2013 itu terancam harus dirubuhkan karena masuk rencana pembebasan lahan.

Kepala SMAN 4 Bogor Enung Nuripah menceritakan, awalnya saat mulai ramai rencana pembebasan lahan untuk proyek rel ganda. Pihaknya mengaku belum mendapat undangan dari pihak berwenang terkait rencana itu.

Ia pun berinisiatif untuk mendatangi kantor kecamatan Bogor Selatan untuk mendapat penjelasan pada akhir September.

“Waktu itu mereka (kecamatan, red) belum tahu persis seperti apa, kena atau enggak sekolah kita, karena harapannya kan nggak kena. Tahu-tahu pas Senin (7/10/2019) lalu, datanglah tim terpadu Ditjen Perkeretaapian, mengajak kami melihat mana saja yang kena pembebasan. Kaget juga ternyata lahan belakang sekolah kita kena,” katanya.

Saat dilakukan pengukuran, ia pun makin kaget lantaran ada sekitar 1.000 meter persegi lahan di belakang sekolah, yang kena gusur untuk kepentingan rel ganda. Menyentuh Masjid Al Muttaqin, lapangan sekolah hingga kantin. Secara keseluruhan, SMAN 4 punya luas sekitar 6.028 meter persegi.

“Waktu itu kita tunjukan semua sertifikat yang kita punya, sesuai eksisting. Ya kalau bangunan masjid kena, tentu harus dibongkar semua kan. Padahal itu pakai anggaran sampai Rp400 miliar waktu itu, uang dari donatur, alumni, siswa, dari Pemkot Bogor juga, hingga Kemenag, tujuh tahun baru jadi. Kalau itu dibongkar, kan menganggu KBM,” ujarnya.

Ia pun mengupayakan berbagai hal, diantaranya menyampaikan permohonan dispensasi kepada Ditjen Perkeretaapian melalui Pemprov Barat, per 10 Oktober lalu, agar bangunan masjid tidak dibongkar untuk kepentingan pembangunan.

Enung mengaku tidak mempersoalkan ketika lapangan dan kantin harus dibongkar, lantaran masih bisa diupayakan.

Namun, ketika menyentuh masjid, tentu jadi dilema melihat perjuangan saat proses pembangunan yang cukup lama hingga sekarang jadi sarana belajar dan ibadah para siswa.

Surat itu pun sudah ditembuskan kepada Pemkot Bogor, agar diketahui lantaran pemkot juga punya andil dalam pembangunan, serta sepatutnya tahu dan membantu persoalan ini.

“Kita sih minta desainnya direkayasa supaya konstruksi masjid nggak kena bongkar. Kalau lapangan atau kantin kita bisa upayakan di lahan yang lain, tapi kalau harus merubuhkan masjid, itu kita agaknya keberatan. Mudah-mudahan saja ada kabar baik rekayasa yang kita minta disetujui,” ujarnya.

Disisi lain jika tidak, pihaknya ingin agar Ditjen Perkeretaapian juga mempertimbangkan aspek konstruksi yang harus dirubuhkan. Agar ada penggantian yang sesuai dengan anggaran yang dikeluarkan saat pembangunan.

“Ya mungkin kalau di-apraisal lagi bisa lebih lah. Kalau terpaksa dibongkar, kita minta diganti supaya bisa membangun ulang. Ini bukan cuma sebatas nilai angka, tapi bagaimana perjuangan warga sekolah dan pemkot juga waktu bangun masjid. Kalau dibongkar ya kita harus pikirkan, dimana bikin yang sama dengan lahan kami yang terbatas?,” tukas Enung.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor Fahrudin mengakui hingga saat ini belum memantau lebih lanjut soal perkembangan pembebasan lahan di SMAN 4.

Namun sejak awal ia juga menyayangkan bila sampai Masjid Al Muttaqin harus kena bongkar juga. Sebab, tidak saja harus merugi dari sisi konstruksi, tapi kegiatan KBM dan keagamaan siswa yang pasti bakal terganggu.

Sejauh ini, kata dia, ada dua sekolah yang sudah didatangi dan diukur oleh tim terpadu Ditjen Perkeretaapina, yang sudah masuk laporan ke Disdik yakni SMAN 4 Bogor dan SDN Layungsari 2.

“Kalau nggak diganti, terganggu KBM, terganggu pendidikan keagamaan. Makanya harus segera dicari solusinya. Kami tahu ini untuk kepentingan umum, kepentingan besar. Tapi sarana pendidikan yang terkena harus dibantu juga sesegera mungkin, jangan sampai mengganggu kegiatan mutu pendidikan,” tandasnya. (wil/c)

Baca Juga