Beranda Bogor Raya

Fasilitas Belum Lengkap, Uji Coba LRT Jabodebek Dinilai Gegabah

Uji coba LRT Jabodebek
Pembangunan konstruksi fisik Lintas Rel Terpadu (LRT) Jabodebek yang berada di Cibubur hampir rampung.

CIBUBUR-RADAR BOGOR, Kereta Lintas Rel Terpadu (LRT) Jabodebek yang sudah mendarat di Stasiun Harjamukti Cibubur, akan dilakukan uji coba pada Jumat (18/10/2019). Hanya saja rencana itu mendapat respon oleh beberapa akademisi karena dinilai terlalu terburu-buru.

Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan pengamat transportasi, Djoko Setijowarno menilai, jika dilihat, konstruksi perlintasan LRT Jabodebek memang sudah selesai.

Namun terkait fasilitas lain seperti sinyal, telekomunikasi dan listrik hingga saat ini belum terlengkapi. Bahkan, pekerjaan konstruksi bangunan stasiun itu dianggap belum mencapai 50 persen.

Djoko menerangkan, hal lain yang dapat menjadi bukti hingga saat ini moda transportasi modern tersebut belum siap, ialah fasilitas eksternal lainnya.

Diantaranya, fasilitas transportasi umum lanjutan dan lahan parkir bagi kendaraan bermotor. Bukan cuma itu, akses jalan menuju stasiun pum belum nampak sama sekali. “Wajar jika target beroperasi keseluruhan di tahun 2021,” tuturnya.

Menurut Djoko, pengangkatan unit kereta beberapa waktu lalu memang bedasarkan banyaknya permintaan agar LRT Jabodebek ini beroperasi untuk lintas pelayanan Harjamukti (Cibubur) – Cawang sepanjang 14,95 kilometer.

“Ada tahapan pengujian sistem LRT Jabodebek, yaitu factory test, system test, integration test, system acceptance test dan trial run. Persyaratan operasi kereta sebelum dioperasikan untuk mengangkut penumpang, meliputi persyaratan prasarana, sarana, operasi dan SDM(sumber daya manusia),” imbuh dia.

Untuk uji LRT Jabodebek ini, juga memiliki persyaratan prasarana berupa peralatan. Persyaratan tersebut, kata dia, secara mutlak telah menjalani test and commssioning selama tujuh bulan, disusul semua peralatan yang asa telah melalu proses sertifikasi.

Persyaratan sarana, meliputi peralatan telah menjalani test and commissioning, peralatan telah menjalani proses sertifikasi. Persyatan yang sama juga diberlakukan pada tes sarana LRT.

Sedangkan, persyaratan operasi artinya twlah dilakukan proses integrasi sampai dengan GOA3 Driverless atau Grade Of aoutomatic tingkat tiga antara sarana dan prasarana.

“Kemudian telah dilakukan trial run, minimal tiga bulan, setelah proses integrasi selesai. Sedangkan persyaratan sumber daya manusia, yakni telah mendapat pelatihan teknis dan telah mendapat sertifikasi. Proses mendapat sertifikasi tersebut dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian,” terang Djoko.

Bagi Djoko, dalam hal ini Kementerian Perhubungan memiliki pengalaman saat pengoperasiam LRT Sumatera Selatan tahun lalu. Tepatnya, Jelang perhelatan olah raga internasional Asian Games, Agustus 2018.

“Hasilnya jelas berbedan kan. Tidak banyak masalah yang ditimbulkan pada pembangunan MRT Jakarta,” jelas Djoko.

Djoko menegaskan, agar nantinya LRT Jabodetabek secara keseluruhan telah siap untuk beroperasi, persiapannya harus betul-betul matang. Pengerjaanya pun tidak perlu terburu-buru sebelum semua sisi dinyatakan siap beroperasi. (rp1/c)

Baca Juga