Beranda Metropolis Indonesia-Belanda Perkuat Kerja Sama di Istana Bogor

Indonesia-Belanda Perkuat Kerja Sama di Istana Bogor

KERJA SAMA: Presiden Joko Widodo menerima Perdana Menteri Belanda Mark Rutte di Istana Bogor, kemarin.

BOGOR–RADAR BOGOR,Kemampuan Belanda dalam mengelola air dan ke­maritiman coba dimanfaatkan Indonesia. Kunjungan Perdana Menteri Belanda Mark Rutte ke Istana Kepresidenan, Bogor, kemarin (7/10) pun diman­faatkan untuk menjalin kerja sama di sektor tersebut.

Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi mengatakan, sektor kemaritiman merupakan salah satu keunggulan yang dimiliki Belanda. Untuk itu, sebagai negara maritim, Indonesia berkepentingan untuk menjalani kerja sama. “Misal di pelabuhan, water management. Kita punya proyek di Semarang dan akan dilanjutkan,” ujarnya.

Seperti diketahui, di Semarang, ada beberapa proyek yang bekerja sama dengan Belanda, yakni Semarang Water Management & Cultural Heritage, dan Central Java North Coast Revitalisation.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengata­kan, salah satu proyek yang disepakati adalah melanjutkan NCICD (National Capital Integrated Coastal Development) atau Pembangunan Terpadu Pesisir Ibu Kota Negara.

Salah satunya berbentuk pembangunan tanggul laut Jakarta untuk mengurangi risiko banjir, banjir rob, dan mencegah penurunan permu­kaan air tanah Kota Jakarta. NCICD merupakan kerja sama tiga negara yakni Indonesia, Belanda, dan Korea Selatan yang sudah berlangsung sejak tiga tahun lalu. “Karena MoU-nya habis Juli 2020, beliau setuju untuk meneruskan kerja sama di NCICD ini,” ujarnya.

Basuki menambahkan, dalam pembicaraan dengan Belanda tengah dikaji pembiayaan NCICD. Soal berapa anggaran yang dibutuhkan untuk melanjutkan NCICD, dia belum bisa menyampaikan. “Belum. Nanti baru selesai Juli 2020,” imbuhnya.

Untuk pembangunan tanggul laut, Basuki menyebut masih difokuskan di pantai utara Jakarta mengingat kondisinya cukup darurat. Panjang tanggul yang dibutuhkan mencapai 120 kilometer. “Baru dibangun sekitar 20-an kilometer. Itu dulu yang kita selesaikan,” kata dia.

Selain proyek pembangunan, hal lain yang disepakati dalam kerja sama adalah pendidikan vokasi. Khususnya melatih tenaga kerja Indonesia di sektor kemaritiman. Menlu Retno mengatakan, pelatihan vokasi merupakan bagian dari visi pemerintah dalam lima tahun ke depan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Sementara itu, Mark Rutte mengatakan, Indonesia dan Belanda memiliki ikatan psikolo­gis yang kuat secara historis. Sehingga kerja sama antar-keduanya harus terus ditingkatkan. “Kedua negara penting untuk memanfaatkan pengetahuan masing-masing,” ujarnya.

Dia menilai, selain pengelolaan air dan kemaritiman, masih ada banyak sektor lain yang bisa digali. Seperti kesehatan, ekonomi, hingga pengelolaan sampah. ”Saya harap bersama-sama kita memanfaatkan peluang ini,” kata PM yang sudah menjabat sejak 2010 tersebut.

Adapun kedatangan Rutte kemarin disambut Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Bogor. Pantauan wartawan, mobil yang membawa Rutte tiba sekitar pukul 11.00 WIB.

Jokowi yang mengenakan kemeja batik lengan panjang warna biru dongker menunggu tak jauh dari mobil yang membawa Rutte. Jokowi pun langsung menghampiri Rutte ketika turun dari mobil. Rutte tampak mengenakan kemeja batik lengan panjang warna cokelat. Mereka berdua saling bersalaman dan terlihat sedikit berbincang.

Pada kesempatan itu, Jokowi kembali mempertegas komitmen Indonesia dalam melawan diskriminasi kelapa sawit yang dilakukan Uni Eropa kepada pemerintah Belanda.

“Di bidang perdagangan kita sepakat untuk terus meningkat­kan perdagangan yang terbuka dan fair,” kata Jokowi.

Dia mengemukakan negeri Kincir Angin itu merupakan mitra penting Indonesia di kawasan Eropa dalam bidang perdagangan, investasi, maupun pariwisata.

“Belanda merupakan mitra perdagangan nomor dua terbesar, dan mitra investasi nomor satu, dan mendatangkan wisatawan nomor empat terbesar,” jelasnya.(ind/far)