Beranda Metropolis

Bersama Kementan, PERHIMPI Adakan Aksi Iklim

Ketua Umum PERHIMPI DR. Kasdi Subagyono, yang juga Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian saat membuka kegiatan Simposium IX Kongres VIII PERHIMPI di IICC Bogor, Rabu (2/10).

BOGOR-RADAR BOGOR, Perubahan iklim sudah menjadi keniscayaan. Pembahasannya bahkan telah diangkat dunia internasional. Hal itu pula yang melatarbelakangi Perhimpunan Metereologi Pertanian Indonesia (PERHIMPI) bersama Kementerian Pertanian (Kementan) dan Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Pertanian untuk mengatasi persoalan tersebut melalui aksi iklim.

Sekjen PERHIMPI Haris Syahbuddin mengatakan, beberapa contoh aksi yang telah dilakukan antara lain membangun dan memperbaiki irigasi tersier, embung dan long storage.

Kemudian, Badan Litbang juga dikerahkan untuk mengembangkan varietas-varietas embung baru yang adaktif terhadap perubahan iklim, tahan terhadap kekeringan, toleran terhadap OPT dan sebagainya. Disamping itu juga Menteri Pertanian menggerakkan petani-petani milenial untuk untuk mulai thinking pertanian 4.0 untuk memanfaatkan jaringan informasi dan digital.

“Itu salah satu pola aksi iklim yang kita lakukan,” ujarnya kepada Radar Bogor di sela kegiatan Simposium IX Kongres VIII PERHIMPI di IPB Internasional Convention Center (ICC), Rabu (2/10).

PERHIMPI yang kini genap berusia 40 tahun, kata dia, sudah berkontribusi besar bagi pertanian di Indonesia. Diawali dengan kegiatan gerakan tanam sejuta pohon, 1 milyar pohon hingga pengelolaan air dalam satu sequence.

Ide PERHIMPI tersebut melihat bagaimana air tidak dalam tataran mikro tapi menjadi satu kesatuan konstituen. Sehingga lahirlah embung dan long storage. “Jadi PERHIMPI sudah sangat berkontribusi,” tuturnya.

Dalam kegiatan bertajuk Inovasi Aksi Iklim Pertanian Menuju Kemandirian Pangan, Ekonomi, Energi dan Lingkungan itu juga, dicanangkan Gerakan Nasional Panen dan Hemat Air.

Meski telah dijalankan sejak tahun lalu, gerakan tersebut kembali digaungkan karena menjadi landasan utama bahwa air adalah kata kunci dalam produksi pertanian.

“Ada statement Mahatma Gandhi bilang semua boleh berhenti tetapi pertanian tidak boleh. Tapi pertanian tidak ada air bisa berhenti dia. Maka ini yang kita angkat terkait dengan panen dan hemat air,” terangnya.

Disisi lain, hasil simposium yang dibuat PERHIMPI akan direkomendasikan kepada pemerintah dalam bentuk beberapa pendekatan. Antara lain mendorong kapasitas masyarakat, mendorong penyediaan sarana dan prasarana, mendorong ketersediaan bahan baku, termasjk di dalamnya terkait IT dan digital. “Mudah-mudahan ini bisa di elaborasi yang jauh lebih besar dalam suatu program aksi atau kegiatan,” pungkasnya.(gal/pkl1)

Baca Juga