Beranda Metropolis Kota Bogor Bebas Rabies

Kota Bogor Bebas Rabies

what its like dating a thai girl

https://smfabrica.com/64897-dte28278-new-york-times-dating-column.html useful site BOGOR-RADAR BOGOR, Untuk pertama kalinya, Kota Bogor menggelar peringatan World Rabies Day (setiap 28 September). Bahkan digelar serentak di seluruh dunia.

Peringatan ini digelar Dinas Pertanian (Distan) Kota Bogor bekerjasama dengan para dokter hewan yang terhimpun dalam Persatuan Dokter Hewan Jabar II dan klinik kesehatan hewan yang ada di Kota Bogor yang dipusatkan di Taman Ekspresi Sempur, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Sabtu (28/09/2019).

“Rabies atau penyakit anjing gila merupakan penyakit infeksi pada susunan saraf pusat atau otak yang disebabkan virus. Disebut juga penyakit zoonosis yang ditularkan hewan kepada manusia melalui anjing, kera, musang maupun kucing,” kata Kabid Peternakan, pada Distan Kota Bogor, Wina.

Bahkan kata dia, sekitar 156 negara di dunia sudah terjangkit penyakit ini dengan jumlah korban meninggal sebanyak 55 ribu jiwa dan hingga saat ini belum ada obatnya.

“Untuk pengendaliannya adalah melalui upaya pengendalian dan pencegahan,” katanya.

Untuk kasus rabies di Indonesia, 98 persen disebabkan dan ditularkan dari gigitan anjing dan 2 persen ditularkan dari gigitan kucing dan kera. Sementara di Kota Bogor hingga saat ini masih belum ada kasus (zero case rabies).

“Ini semua berkat kerjasama tim bidang peternakan Dinas Pertanian Kota Bogor,” ujarnya.

Menanggapi fakta yang disampaikan, Wali Kota Bogor, Bima Arya menganggap hal tersebut sebagai ilmu baru, karena di rumahnya banyak memelihara kucing.

“Kami sekeluarganya adalah pecinta kucing. Saya kira rabies hanya dari anjing, ternyata 2 persen ditularkan dari gigitan kucing, musang dan kera. Kota Bogor sudah bebas, tapi tetangga kita belum tahu, kedepan saya harap Distani Kota Bogor lakukan koordinasi untuk memastikan terkait data ini,” katanya.

Ia mengapresiasi atas kolaborasi yang terbangun dengan baik antar para dokter hewan. Semoga kolaborasi dan koordinasi bisa terus dijaga dan berjalan dengan baik.

Kepada Distani Kota Bogor, Bima secara khusus meminta untuk lebih memperhatikan penularan rabies yang disebabkan gigitan kucing, kera dan musang. Sebab, di Kota Bogor hewan tersebut sering dijumpai, bahkan kucing sering dipelihara warga Kota Bogor.

“Semoga Kota Bogor terus bebas rabies,” harapnya.

Sebagai upaya pencegahan dan pengendalian, Distani Kota Bogor selalu melakukan sosialisasi tentang bahaya dan penanganan penyakit rabies.

Pada kesempatan tersebut, disediakan fasilitas yang melayani konsultasi, vaksinasi rabies gratis dan pameran pelayanan medis oleh para klinik dan praktek dokter hewan di Kota Bogor.

Distani menghimbau agar melindungi hewan dan bantu Kota Bogor agar bebas dari penyakit hewan berbahaya.

Ketua Persatuan Dokter Hewan Indonesia Jabar II, drh. Irwan Suparno menyebutkan, rabies merupakan masalah bersama. Di Kota bogor ada 36 layanan klinik kesehatan hewan, khusus pada peringatan tersebut  7 klinik kesehatan hewan peliharaan yang ada di Kota Bogor dilibatkan, seperti Bogor Pet Centre, Arclinic Pet Centre, Rumah Sakit Hewan Pendidikan (RSHP) IPB, Cat Health Clinic, DNA Animal Clinic dan lainnya, termasuk ada 17 dokter hewan.

“Selain rabies, penyakit hewan lain yang berbahaya adalah antraks. Semoga Kota Bogor terus berlari, semoga tahun depan semakin banyak yang terlibat. Bagaimana juga kesehatan masyarakat dipengaruhi kesehatan hewan,” pungkas Irwan.

Sekedar informasi beberapa langkah pencegahan rabies sebagai berikut, pemilik hewan peliharaan yang berpotensi rabies harus melakukan vaksin, bakar atau kubur hewan yang terkena rabies minimal di kedalaman 1 meter, melaksanakan vaksinasi hewan peliharaan, cuci luka cakaran/gigitan binatang dengan sabun cair.

Untuk pertolongan pertama bila terkena cakaran/gigitan adalah cuci dengan air mengalir dan sabun.cair, berikan antiseptic pada luka setelah dicuci, segera rujuk ke fasilitas kesehatan. anonymous (Humpro:rabas/indra/hanif/oim-SZ)