Beranda Berita Utama Tiga Simbol Pejuang Demokrasi Ini Ternyata Berasal dari Bogor, Siapa Saja Mereka?

Tiga Simbol Pejuang Demokrasi Ini Ternyata Berasal dari Bogor, Siapa Saja Mereka?

Dari kiri Manik Marganamahendra ketua BEM UI, M Atiatul Muqtadir ketua BEM UGM, dan Royyan A Dzakiy, Presiden Keluarga Mahasiswa ITB.

BOGOR-RADAR BOGOR, Tiga Ketua Badan Esekutif Mahasiswa (BEM) ini menjadi simbol baru pergerakan mahasiswa Indonesia. Meski beda kampus ketiganya berasal dari daerah yang sama. Yakni, Bogor.

Mereka adalah Manik Marganamahendra ketua BEM Universitas Indonesia (UI), M Atiatul Muqtadir ketua BEM Universitas Gadja Mada (UGM), dan Royyan A Dzakiy, Presiden Keluarga Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB).

Ketiganya mampu menghipnotis publik setelah turun ke jalan berhari-hari menolak pelemahan KPK dan sejumlah RUU kontroversial.

Manik Marganamahendra misalnya, mengenakan jaket kuning ia terlihat duduk di barisan paling depan ruang rapat Badan Legislasi (Baleg) DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (23/9/2019) lalu.

Dengan lantang dia melayangkan mosi tidak percaya kepada Supratman Andi Atgas, Masinton Pasaribu dan Ahmad Riza Patria sebagai perwakilan DPR.

“Hari ini kami nyatakan mosi tidak percaya kepada Dewan Pengkhianat Rakyat.” ucap Manik dihadapan wakil rakyat.

Video pria kelahiran Bogor, 11 Desember 1996 itu, kemudian tersebar luas dengan cepat. Aksinya mendapat dukungan dari khlayak. Banyak yang menganggap ucapan Manik mewakili aspirasi mereka. Sosok Manik pun juga jadi perbincangan.

Demonstrasi yang dilakukan Manik dan kawan-kawan mulai dilakukan sejak 19 September hingga 24 September sebagai protes atas Revisi Undang-Undang (RUU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang disahkan DPR dan pemerintah pada Selasa (17/9/2019).

Mereka juga menolak RKUHP, RUU Pertambangan Minerba, RUU Pertanahan, RUU Pemasyarakatan dan RUU Ketenagakerjaan.

Kepada wartawan Manik mengatakan mahasiswa sudah tidak turun pada Rabu (25/9). Mereka kini tengah berupaya mengumpulkan teman-teman yang belum kembali ke kelompoknya masing-masing. “Namun bukan berarti aksi kami akan berhenti sampai di sini,” jelasnya.

Meski berkuliah di Jakarta, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI angkatan 2015 itu tinggal di Kota Hujan.

Sebelumnya ia menempuh pendidikan di SDN 1 Semeru Bogor, kemudian melanjutkan SMP N 4 Bogor dan SMAN 1 Bogor.

Saat duduk di bangku SMA, Manik juga tergabung menjadi  anggota paskibra sekolah.

Dia sampai sekarang masih aktif sebagai Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Kota Bogor.

Menurut Wakil Ketua Eksternal PPI Kota Bogor, Ridwan Adi Nugraha, Manik diketahui masuk PPI Kota Bogor tahun 2013. Sejak saat itu Manik selalu ditunjuk sebagai leader di timnya.

“Ketika masuk sudah terlihat sisi leadershipnya. Saya melihat-nya saat di SMA,” ujarnya kepada Radar Bogor, kemarin.

Selain sifat leadershipnya yang menonjol. Manik menurut Ridwan, memiliki sifat kritis dan sedikit cerewet. Hal itu menurut dia, merupakan hal yang lumrah.

Dia menilai apa yang dilakukan Manik dan kawan – kawan sudah sepatutnya dilakukan.

“Mudah-mudahan tidak terpengaruh dan ditunggangi oleh kepentingan manapun,” tegasnya.

Selain Manik, sosok M Atiatul Muqtadir ketua BEM UGM juga tidak bisa lepas dari Kota Bogor. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi itu diketahui mengenyam sekolah dasar di SDIT At-Taufiq, Kota Bogor.

Saat tampil di Indonesia Lawyers Club (ILC) Fathur-sapaan-akrabnya menjabarkan sikap politisi yang ditampilkan ke publik soal Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ( RKUHP).

Ia mengatakan, bukan penundaaan pengesahan RKUHP yang diharapkan para mahasiswa. ”

Ketika kami mendengar presiden menunda, kan sebenarnya bahasa politis. Karena saat paripurna itu adanya tolak atau terima. Enggak ada tunda,” katanya.

Fathur pun tegas menyatakan, rekan-rekan mahasiswa di berbagai daerah yang melakukan aksi unjuk rasa menolak RKUHP, bukan sekadar ingin pengesahannya ditunda.

Tak hanya itu, Fatur menyebutkan pula harapan selanjutnya setelah RKUHP ditolak. “Setelah ditunda nanti dibahas ulang dan melibatkan akademisi, melibatkanya masyarakat,” lanjutnya.

Sikap kritis Fathur ini kemudian menjadi perbincangan publik. Pembawaannya yang tenang namun tegas juga murah senyum saat berhadapan dengan Yasonna Laoly, Menteri Hukum dan HAM, membuatnya dikagumi banyak pihak. Tak heran hingga kini namanya masih trending topic Twitter.

Adapun keahlian Fathur dalam bertutur menurut Ujang Wahyudin, guru SD Fathur, sudah kelihatan saat mendidik pria kelahiran 1 Agustus 1998 itu, di SDIT At-Taufiq.

Ujang mengatakan, sejak di bangku sekolah dasar Fathur memang dikenal kritis. Apalagi untuk sesuatu yang perlu penjelasan mendalam.

Dia akan selalu bertanya. Jika tak sesuai, dia tak segan untuk memberikan solusi. Bukan hanya pada temannya melainkan juga guru-gurunya.

“Itu saat kelas 5 SD, sudah bisa memberikan masukan buat guru dan ide buat teman-temannya, jadi bakat seperti itu sudah muncul sejak kecil,” ujarnya.

Banyak kenangan indah bersama Fathur saat Ujang menjabat sebagai Wakil Ketua Koordinator Unit Qiroati Islamic Center At-Taufik.

Salah satunya yang masih terkenang hingga sekarang ketika mahasiswa Fakultas Kedokteran UGM itu mengikuti lomba azan di Institut Pertanian Bogor (IPB).

Suaranya yang merdu mencatatkan namanya sebagai juara pertama pada lomba yang diikuti peserta dari Kota dan Kabupaten Bogor itu.

Apalagi salah seorang temannya sempat berkomentar bahwa adzan yang dikumandangkan seperti yang terdengar di Masjidil Haram.

“Sampai sekarang saya ingat, tidak saya lupakan, itu memang bagus,” tuturnya.

Selain Manik dan Fathur, Presiden KM ITB, Royyan Abdullah Dzakiy juga tak kalah mencuri perhatian usai tampil dalam acara talkshow politik bersama Fathur di salah satu stasiun televisi swasta pada Selasa (24/9).

Saat itu Royyan mengutarakan argumennya di hadapan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah. Salah satu statement yang cukup berani disampaikan Royyan pada Fahri Hamzah ialah. “Jangan-jangan bukan Dewan Perwakilan Rakyat, tapi Dewan Perwakilan Fahri Hamzah,​” ujar Royyan.

Pernyataan-pernyataan serta uneg-uneg dari Royyan pun tak ayal mencuri perhatian warganet dan masyarakat. Usut punya usut Royyan sealumni dengan Manik.

Pria kelahiran Bogor, 18 November 1996 itu juga merupakan alumni SMAN 1 Bogor. Setelah lulus dia memilih masuk ITB di jurusan Teknik Informatika angkatan  2015. (gal/wil/d)